29 October 2010

MEMAHAMI KEPERIBADIAN ORANG LAIN (Temperamen)

Memahami Keperibadian Orang Lain
Oleh: indrasuarisman3dps
Disunting  ke bahasa Malaysia Oleh: Awis

Komunikasi yang efektif terjadi bila salah satu pihak dari mereka yang terlibat dalam proses komunikasi itu dapat memahami keperibadian masing-masing. Di dalam konteks pelayanan kita, tanpa adanya pemahaman akan keperibadian orang yang kita layani, pelayanan itu akan berjalan pincang dan tidak efektif.

Tulisan ini tidak bermaksud membawa pembaca kepada suatu sikap menilai dan menghakimi orang lain, melainkan memberikan suatu pemahaman tentang keadaan orang lain yang kiranya bermanfaat dalam berkomunikasi dan di dalam membimbing orang lain. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk mendorong kita pada usaha untuk mengubah orang lain, tetapi bagaimana memahaminya.

Pengertian
Kepribadian atau “personality” merupakan sifat dan tingkah laku yang membezakannya dengan orang lain. Keperibadian seseorang dibentuk dan terbentuk oleh faktor internal dan eksternal. G.W All port (1897) yang menyelesaikan Ph.D-nya di bidang Psikologi pada tahun 1922 di Harvard University, mengemukakan bahwa, “personality is the dynamic organization within the individual those psychological system that determine his unique adjustment to his environtment.” (Kepribadian adalah organisasi dinamik yang ada pada seseorang di dalam suatu sistem kejiwaan yang menentukan keunikan penyesuaian dengan lingkungannya).

Dari pemahaman tersebut kita dapat melihat bahawa kepribadian itu adalah suatu organisasi yang tersusun dari banyak unsur yang saling ketergantungan. Ketergantungan ini mempunyai sistem pengaturan dalam hubungan fungsional. Sistem pengaturan inilah membuat keperibadian itu menjadi kesatupaduan pola-pola pengaturan tingkah laku.

Kemudian dikatakan bahwa keperibadian itu bersifat dinamis. Bererti, keperibadian itu adalah sesuatu yang berubah dan berkembang membentuk suatu sikap dan tindakan tertentu. Perubahan ini sesuai dengan waktu dan pengalaman yang dilaluinya. Dari sini kita boleh memahami mengapa seseorang boleh berubah, misalnya dari seorang yang tadinya berpendirian teguh menjadi seorang yang mampu berubah-ubah. Boleh saja hal ini terjadi jika pada saat ia berpendirian teguh, maka pengalaman pahitnya yang diterimanya. Dan itu terjadi berulang-ulang. Atau, boleh sebaliknya, orang yang tadinya berubah-ubah menjadi seorang yang teguh pendiriannya. Kerana ia belajar bahawa kalau bersikap berubah-ubah maka ia akan mengalami kesulitan. Lalu ia pun mengubah sikapnya.

Dari definisi Allport tentang keperibadian, ia menyebut sistem kejiwaan. Jadi, aspek jasmani dan rohani saling bertautan dalam satu sistem. Selain itu, keperibadian itu terikat dengan lingkungan. Setiap individu mempunyai ciri khasnya di dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan demikian, keperibadian itu bila didefinisikan adalah sebagai pola tingkah laku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenali dari perilakunya. Dan oleh kerana itu, tidak mungkin ada dua orang yang sama. “Serupa, namun tidak sama”.

Sering kali orang menyamakan antara temperamen, watak dan keperibadian. Namun, Dr. Tim La Haye dalam bukunya “Temperamen Anda Dapat Diubah” (Diterjemahkan dari dari buku Spirit Controlled Temperament), memberikan perbezaan di antara ketiganya. Ia mengatakan bahawa temperamen merupakan gabungan dari ciri-ciri pembawaan yang secara tidak sedar mempengaruhi tingkah laku seseorang. Ciri-ciri ini diturunkan berdasarkan bangsa, suku (orang Cina berbeza dengan orang Melayu), seks (beza antara lelaki dan wanita) dan faktor- faktor keturunan lain. Ciri-ciri ini diteruskan oleh gen (plasma pembawa sifat). Beberapa ahli ilmu jiwa mengemukakan bahawa kita lebih banyak mendapat gen datuk dan nenek kita daripada gen orang tua kita. Hal ini nyata pada beberapa anak yang lebih mirip dengan datuk atau nenek daripada kedua orang tuanya. Ciri-ciri temperamen itu tidak dapat ditentukan lebih dahulu, sama seperti mata, rambut dan ukuran tubuh.

Watak seseorang menyatakan keadaan yang sebenarnya. Barangkali inilah yang disebut sebagai “manusia batiniah yang tersembunyi” (1Petrus 3:4) Watak adalah hasil dari temperamen pembawaan seseorang yang dibentuk oleh pendidikan pada masa kanak-kanak, pendidikan di sekolah, sikap dasar, agama, prinsip-prinsip dan motivasi. Kadang-kadang watak itu disebut sebagai “jiwa” manusia yang terdiri atas fikiran, emosi dan kehendak.

Sedangkan keperibadian, menurut La Haye, adalah ekspresi yang keluar dari diri kita, yang mungkin sama dengan watak kita atau mungkin juga tidak, bergantung pada ketulusan kita. Sering kali keperibadian itu merupakan suatu topeng yang baik dari watak yang buruk atau yang lemah. Ramai orang bertindak berdasarkan apa yang menurut fikirannya patut dilakukan, bukan berdasarkan keadaan dirinya yang sebenarnya. Inilah rumus dari kekeliruan mental dan rohani. Hal ini terjadi bila seseorang mengikuti rumus-rumus manusia tentang tingkah laku yang baik itu, maka akibatnya ialah kekacauan mental dan rohani.

Tipe Keperibadian
Perbezaan keperibadian atau jenis-jenis keperibadian yang melekat pada setiap orang telah menarik perhatian para ahli sejak dahulu kala. Sebenarnya penjelasan Alkitab mengenai jenis-jenis keperibadian ini telah ada jauh sebelum penelitian ilmiah. Alkitab menjelaskan tentang perbezaan antara lelaki dan wanita yang merupakan perbezaan jenis keperibadian yang sangat jelas. Perkembangan selanjutnya memberikan kepada kita suatu penghuraian yang lebih terperinci mengenai ‘tipe-tipe’ keperibadian orang.

Di dalam bidang kedoktoran pada zaman Yunani kuno, Hippocrates telah melakukan suatu usaha penelitian di dalam tipologi keperibadian. Ia menyimpulkan bahawa temperamen (darah, flegma, empedu hitam, empedu kuning) berhubungan dengan keperibadian yang mudah terserang berbagai macam penyakit. Ia menyatakan bahawa mereka yang pendek dan gempal mudah terserang apoplexy dan mereka yang tinggi dan kurus mudah terserang penyakit tuberclosis. Kecuali Galen (130-200 AD) membahagi tipe keperibadian itu berdasarkan temperamen tersebut menjadi:

1. Sanguine                – tipe yang cergas, bersemangat.
2. Plegmatic               – tipe lembab.
3. Choleric                 – tipe agresif, aktif.
4. Melancholy            – tipe patah hati.

Sekali pun pembahagian tipe keperibadian ini dinilai tidak ilmiah, namun istilah-istilah tersebut masih dipakai hingga hari ini. Kemudian Ernst Kretschmer (1888-1964) dalam bukunya “Physique and Character” membahagi keperibadian atau tempramen atas 4 tipe:

1. Tipe astenik.
Tipe ini mempunyai ciri kurus, lurus, tubuh lemah, sulit bertumbuh, dan cenderung kepada schizophrenia.

2. Tipe atletis.
Ciri-ciri tipe ini, orangnya tinggi, besar, dadanya bidang, kekar, dan susuk tubuh yang meruncing ke bawah. Secara kejiwaan, orang ini mempunyai potensi schizothymic.

3. Tipe piknik.
Tubuhnya cenderung melebar, lembut, gemuk bulat dan berlemak. Kretschmer mengidentifikasikan tipe dengan cycloid atau manic- depressive, suatu temperamen yang berubah-ubah, kadang senang, kadang murung.

4. Tipe displastik.
Tipe yang lain dari ketiga tipe di atas.
William Sheldon yang menulis buku “The Varieties of Temperament” (1942), juga memberi perhatian kepada bentuk tubuh. Ia memusatkan perhatian pada penelitiannya tentang meticulous yang disebutnya sebagai somatotyping. Sikap dan tingkah lakunya diduga menyesuaikan diri dengan bentuk tubuhnya. Ia membahagi tipe keperibadian menjadi tiga bahagian:

a. Endomorphy.
Dari segi fizik, pencernaannya baik, namun otot-ototnya lemah. Kerana itu tubuhnya cenderung gemuk. Tipe ini lembab, suka memanjakan tubuhnya, kuat makan (apalagi kalau bersama kawan-kawan), orangnya mudah dan sangat bersahabat, dan merasa selalu ada kepuasan.

b. Mesontorphy.
Orang tipe ini memiliki tubuh yang kekar, langkahnya tegap, senang menguasai kerana memang dia punyai kekuatan, suka terhadap hal-hal risiko yang berbahaya. Ia mempunyai arah yang tegas dan jelas, punyai keberanian untuk bertempur. Sifat ekstrovertnya sangat menonjol.

c. Ectomorphy.
Tipe ini ditandai dengan ketenangan. Susuk tubuh dan gerak yang kaku. Perasaannya sangat peka. Sifatnya sangat tertutup.

Pada tahun 1971, C.G. Jung menulis sebuah buku yang berjudul “Psychological Types”. Ia membahagi keperibadian itu atas introvert dan extrovert. Kedua tipe itu ditandai dengan sikap seseorang terhadap objek. Seorang yang introvert pada dasarnya selalu ingin melarikan diri dari objek, seakan-akan objek itu harus dicegah agar tidak menguasainya.

Sebaliknya, orang yang ekstrovert mempunyai sikap yang positif terhadap objek. Dialah yang menguasai objek itu. Kelihatannya pembahagian Jung itu sangat ringkas. Tetapi sebenarnya Jung mengklasifikasikan kedua tipe itu ke dalam lapan ‘sub’ tipe, sehingga akibatnya menjadi rumit.

1. Tipe pemikir ekstrovert.
Setiap aktiviti tipe ini tidak lepas dari kesimpulan-kesimpulan yang bersifat intelektual yang didasarkan pada data objektif.

2. Tipe perasa ekstrovert.
Orang ini sebelum bertindak, perasaannya itu harus ‘pas’ dulu. Jung memasukkan kaum wanita ke dalam tipe ini.

3. Tipe sensasi ekstrovert.
Bagi dia, segala sesuatu harus benar dan berorientasi pada kesenangan yang konkrit, tidak berlebihan, hukum itu harus dipatuhi. Orang tipe ini tidak mementingkan diri sendiri, dan rela berkorban demi kepentingan orang lain.

4. Tipe intuitif ekstrovert.
Orang ini tidak akan ditemukan dalam dunia yang memiliki nilai realiti yang dapat diterima. Ia tidak puas dengan apa yang ada. Ia selalu menyelidiki sesuatu dan berbuat sesuatu yang baru.

5. Tipe pemikir introvert.
Orang ini terlalu membatasi diri dengan fikiran dan pendapatnya sendiri. Ia dapat berfikir kritis, tetapi sering subjektif.

6. Tipe perasa introvert.
Orangnya tenang, sulit didekati, sukar mengerti dan kurang menanggapi perasaan terhadap orang lain.

7. Tipe sensasi introvert.
Dia selalu berorientasi pada peristiwa-peristiwa yang terjadi, dan bukan pada penilaian yang masuk akal.

8. Tipe intuitif introvert.
Tipe ini sangat suka dengan hal-hal yang berbau mistik, bahkan ia dapat menjadi peramal atau seniman yang aneh.

Pembahagian Jung ini disempurnakan lebih lanjut oleh Isabel Briggs Myers dalam bukunya “Gifts Differing”. Dia membahagi ke 8 tipe Jung menjadi dua sub tipe yang berkaitan dengan penilaian dan pemahaman. Dialah yang menemukan tipe Myers-Briggs yang merupakan indikator terhadap pengukuran preferensi keperibadian, kapasiti dan keterbatasannya. Ia yakin bahawa setiap sub tipe itu mempunyai kekuatan. Hal ini sangat menolong kita sebagai pelayan. Suatu pendekatan yang baru terhadap analisa tingkah laku dari tipe keperibadian ini terdapat dalam “The Diagnostic and Statistical Manual III”, yang menghuraikan 11 gangguan keperibadian yang di kelompokkan dalam tiga bahagian:

Kelompok A: Orang-orang aneh dan eksentrik.

a. Paranoid:
Suatu gangguan keperibadian yang ditandai dengan ciri-ciri khas hipersensitiviti, kecurigaan, dan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain.

b. Schzoid:
Selalu menjauhkan diri dari orang lain serta memiliki pemikiran yang eksentrik.

c. Schizotypal:
Ciri keperibadian yang terganggu yang ditandai dengan pengucilan diri dari orang lain serta fikiran-fikiran yang eksentrik (aneh, senteng, kegila-gilaan). Mirip schizophrenia, tetapi tidak begitu parah.

Kelompok B: Orang-orang dramatis, emosional dan tak menentu.

a. Anti-sosial:
Ketidakmahuan untuk berasosiasi dengan individu-individu lain atau kelompok-kelompok lain. Sikapnya selalu melawan ‘standard’ sosial, dan ia selalu agak berbahaya bagi masyarakat.

b. Borderline:
Orangnya tidak stabil dalam tingkah laku, suasana hati, hubungan dengan orang lain, dan konsep diri.

c. Histronie:
Gangguan keperibadian yang ditandai dengan kehebohan, dramatisasi diri, pembujukan dan usaha untuk mencari perhatian.

d. Narcisstic:
Ditandai dengan cinta diri yang sering dikaitkan dengan kepuasan erotis. Ia sangat menyayangi tubuhnya, perbuatan dan kemampuannya.

Kelompok C: Ditandai dengan kecemasan, ketakutan & suka bertingkah.

a. Avoidant:
Cirinya adalah kepekaan yang berlebihan terhadap penolakan orang lain, sehingga ia tidak mau berhubungan dengan orang lain, takut kalau ditolak.

b. Dependent:
Sangat kurang percaya diri, sehingga ia cepat menyerahkan diri kepada orang lain. Kerananya mereka tidak dapat mengambil keputusan di dalam hidup mereka tanpa orang lain.

c. Obsessive-compulsive:
Adanya idea (obsesi) yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki diiringi dengan perbuatan yang tidak masuk akal. Seseorang akan mencuci tangannya setiap lima menit kerana takut akan bakteria yang akan membinasakannya. Atau, seorang yang seringkali memeriksa kunci pintu apakah terkunci atau tidak, jangan-jangan ada pencuri yang sedang mundar-mandir di halaman rumahnya. Usaha-usaha seperti itu adalah usaha untuk menghilangkan perasan bersalah.

d. Passive-aggressive:
Ditandai dengan pemberontakan melalui ketidakaktifan dan sikap keras kepala.

Tipe-tipe Kepribadian Berdasarkan Temperamen
Tim La Have mengingatkan kita akan bahaya di dalam membahas tipe keperibadian ini berdasarkan temperamen. Sebab beberapa orang akan cenderung untuk mulai menilai dan bahkan menentukan temperamen kawan-kawannya. Padahal penilaian dan penentuan itu tidak dapat dilihat dari satu dua kesan dan penampilan seseorang di dalam waktu yang sangat terbatas. Orang yang bersangkutanlah yang jauh lebih mengetahui temperamen macam apa dia itu.

Lagi pula, pembahagian temperamen seperti yang diusulkan oleh Galen itu tidak bermaksud bahawa setiap orang ditandai dengan satu temperamen, tetapi di dalam diri seseorang boleh terdiri atas beberapa jenis tempramen. Memang, ada satu jenis temperamen yang menonjol.
Catatan lain yang perlu diperhatikan di dalam memahami orang lain lewat perbezaan temperamen itu, bahawa ada orang yang sebenarnya mempunyai temperamen choleric, tetapi dalam perjalanan waktu dan pengalamannya, boleh berubah menjadi seorang yang phlegmatic sehingga penilaian dan penetuan itu boleh meleset.

Choleric
Seorang yang disebut choleric biasanya ditandai dengan semangatnya yang berapi-api, cekatan, aktif, mempunyai kemahuan keras, mampu untuk mandiri dan berfikir praktis. Ia selalu puas dengan dirinya sendiri, tanpa harus ditentukan orang lain. Ia tidak perlu diajar berfikir positif, sebab ia mudah menanggapi segala sesuatu itu positif. Sikapnya optimis. Di kala semua orang telah menyerah diri kepada keadaan, orang choleric tetap memandang kepada masa depan yang penuh harapan. Bagi dia tidak ada langkah menyerah. Hal ini berhubungan dengan sikapnya yang berani, tidak kenal takut.

Kerana itu orang choleric hampir tidak menemui kesulitan untuk ‘memimpin’. Potensi itu sangat besar di dalam dia. Dialah yang sering menyulut massa (agitator). Ia juga dikenal sebagai ‘pengarah’ yang bijaksana, kerana ia tidak mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan sendiri.

Namun di balik semua kemampuanya itu, ia juga seorang yang kejam, sadis, kasar, tidak sensitif atau kurang mengerti perasaan orang lain. Kemungkinan satu hal yang sulit bagi dia adalah mengasihi orang lain. Kerana bagi dia, orang lain hanya alat untuk mencapai segala tujuan. Ia selalu melihat dirinya sebagai pusat aktivitinya dan orang lain harus menyokong tujuan-tujuan dan rencana-rencananya. Ia tidak akan berurusan dengan mereka yang tidak menyokongnya. Tugas dan projeknya adalah pusat perhatiannya, kerana itu ia bukanlah seorang yang mudah bergembira. Sebegitu aktif dan “rajin”nya orang ini, sehingga sulit baginya untuk menyediakan waktu untuk bersaat teduh (membaca Alkitab, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dalam waktu-waktu khusus).

Sanguine
Orang sanguine berbeza dengan choleric. Ia mampu membuat suasana menjadi hangat. Ia terkesan tidak memikirkan hari esok. Hari ini adalah hari yang berbahagia, hari esok lain urusannya. Ia begitu ramah dengan semua orang, simpatik, lemah lembut dan punya perhatian yang besar terhadap orang lain. Oleh sebab itu ia sangat disenangi orang, apalagi ia termasuk orang yang tidak pernah kehabisan kata-kata, ia dapat memukau orang banyak dengan cerita-ceritanya yang menarik. Ia manusia yang tak pernah bosan dengan hidup ini.

Sayangnya, orang sanguine memiliki emosi yang tidak stabil. Ia boleh jatuh cinta dengan seorang hari ini, kemudian dengan seorang lagi pada hari yang lain ‘playboy’. Pendiriannya tidak tegas, dan kerana itu ia tidak segan-segan untuk berbohong. Kerana senang dengan memukau orang, sehinggakan sebuah fakta dilebih-lebihkan. Pintar membuat sensasi. Kalau orang sanguine melihat basikal berlanggar dengan basikal, ia akan menceritakannya seakan-akan kapal terbang berlanggar dengan kapal terbang. Sifat keanak-anakannya sangat menonjol, dan suka mendominasi perbualan.

Kelemahan lain yang dimiliki orang sanguin adalah tidak disiplin. Terlalu banyak waktu yang dibuangnya, sehingga banyak pekerjaan yang tidak selesai. Tidak teratur, kerana ia mudah beralih perhatian kepada hal-hal yang tidak menjadi keutamaan. Ia tidak terdesak dengan ‘target’ waktu. Tidak hairanlah kalau orang jenis ini selalu datang lambat dan tidak menepati waktu. Ia boleh memasuki sebuah mesyuarat dalam keadaan tenang tanpa merasa “bersalah”, ‘make don’t know’ saja.

Melancholic
Melancholic terkenal sebagai manusia sensitif. Jika orang choleric tidak suka dengan hal-hal yang kecil, melancholic jauh berbeza dengannya. Ia terlalu sibuk dengan hal-hal kecil, di mana kadangkala tidak sepatutnya untuk difikirkan. Ia adalah orang yang sulit mengambil keputusan. Seorang wanita yang melancholic akan sulit memberikan respon kepada seorang lelaki yang menyatakan cinta kepadanya. Ia mampu untuk memikirkannya sehingga bertahun-tahun untuk membuat keputusan.

Ia adalah seorang yang berfikir dalam dan analisis. Ia sangat menghargai karya-karya muzik, sastera, seni. Dalam pekerjaan, ia selalu melakukan yang terbaik. Ia tidak akan menerima suatu tanggungjawab apabila yang lain belum juga ia selesaikan. Kalau seorang choleric, yang penting banyak pekerjaan, bagi melancholic, yang penting selesai dengan sempurna ‘terarah’ pada sikap ‘perfectionist’.

Akan tetapi, berbeza dengan choleric, ia adalah seorang yang pesimis dan selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Orang mengenal dia sebagai Si Pemurung. Setiap hari dilewatinya hanya dengan memikirkan dirinya sendiri. Ia terlalu khuatir akan kehidupannya, dengan demikian ia mudah stress dan depresi.

Terhadap orang lain ia sering mengkritik, kalau ia melihat ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Selalu curiga pada hal-hal yang baru, termasuk pada orang lain. Kerana itu ia sulit mendapat kawan. Ia terlalu idealis dan teoritis. Kerana terlalu banyak pertimbangan, akibatnya untuk mengambil keputusan pun sulit.

Phlegmatic
Tenang, damai dan baik hati adalah ciri khas orang phlegmatic. Orangnya adalah yang paling stabil di antara semua temperamen. Ia seorang yang setia, pendengar yang baik dan boleh mempunyai humor yang menyenangkan. Ia bekerja tanpa adanya suatu tekanan, rapi dan tetap teguh dalam mempertahankan apa yang telah menjadi peraturan. Ia sangat berhati-hati di dalam mengambil tindakan.

Cuma, orang akan merasa kesal dengan orang phlegmatic. Ia adalah orang yang sulit bergerak. Pasif adalah ciri khas orang ini. Di saat semua orang panik, ia tenang. Ia kurang percaya pada dirinya sendiri. Dan yang lebih menjengkelkan lagi ialah sikapnya yang suka kompromi.
Dalam kegiatan bersama, ia lebih memilih untuk abstain daripada terlibat dalam suatu urusan. Ia tidak begitu antusias dalam segala hal. Kalau semua orang tertawa, ia tidak. Malahan ia sinis, dan suka mengejek. Acuh tak acuh, dan merasa dirinya lebih benar dari orang lain. Sebenarnya ia seorang pemalas dan sukar didorong. Sikapnya sangat tertutup, penakut dan terlalu berhati-hati. 
Reactions:

0 comments :

Post a Comment

Sila Berikan Komen ATAU Sumbangan Artikel/Bahan Anda:-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...