Sabah dan Sarawak adalah BERSTATUS NEGARA dan bukannya Negeri.

Sabah dan Sarawak adalah sebuah Negara yang MERDEKA DAN BERDAULAT yang mana kedua - dua NEGARA ini telah bersama-sama dengan Singapura dan Malaya untuk membentuk Persekutuan Malaysia pada 16 September 1963.

Happy Sabah (North Borneo) Independence Day 51 Years

Sabah or previously known as North Borneo was gained Independence Day from British on August 31, 1963. To all Sabahan, do celebrate Sabah Merdeka Day with all of your heart!

Sarawak For Sarawakian!

Sarawak stand for Sarawak! Sarawakian First. Second malaysian!

The Unity of Sabah and Sarawak

Sabah dan Sarawak adalah Negara yang Merdeka dan Berdaulat. Negara Sabah telah mencapai kemerdekaan pada 31 Ogos 1963 manakala Negara Sarawak pada 22 Julai 1963. Sabah dan Sarawak BUKAN negeri dalam Malaysia! Dan Malaysia bukan Malaya tapi adalah Persekutuan oleh tiga buah negara setelah Singapura dikeluarkan daripada persekutuan Malaysia.

Sign Petition to collect 300,000 signatures

To all Sabahan and Sarawakian... We urge you to sign the petition so that we can bring this petition to United Nations to claim our rights back as an Independence and Sovereign Country for we are the Nations that live with DIGNITY!

Decedent of Rajah Charles Brooke

Jason Desmond Anthony Brooke. The Grandson of Rajah Muda Anthony Brooke, and Great Great Grandson of Rajah Charles Brooke

17 October 2010

Apa kata Alkitab mengenai hukuman mati? Apakah Alkitab memberi kita otoritas untuk menghukum mati orang?

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/hukuman-mati.html (Bahasa Indonesia)


Pertanyaan: Apa kata Alkitab mengenai hukuman mati? Apakah Alkitab memberi kita otoritas untuk menghukum mati orang?

Jawaban: 
Hukum Perjanjian Lama memerintahkan hukuman mati untuk berbagai perbuatan: pembunuhan (Keluaran 21:12), penculikan (Keluaran 21:16), hubungan seks dengan binatang (Keluaran 22:19), perzinahan (Imamat 20:10), homoseksualitas (Imamat 20:13), menjadi nabi palsu (Ulangan 13:5, pelacuran dan pemerkosaan (Ulangan 22:4) dan berbagai kejahatan lainnya. Namun demikian, Allah seringkali menyatakan kemurahan ketika harus menjatuhkan hukuman mati. Daud melakukan perzinahan dan pembunuhan, namun Allah tidak menuntut untuk nyawanya diambil (2 Samuel 11:1-5; 14-17; 2 Samuel 12:13). Pada akhirnya semua dosa yang kita perbuat sepantasnyalah diganjar dengan hukuman mati (Roma 6:23). Syukur kepada Tuhan, Tuhan menyatakan kasihNya kepada kita dengan tidak menghukum kita (Roma 5:8).

Ketika orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang wanita yang tertangkap basah sementara berzinah dan bertanya kepadaNya apakah wanita itu perlu dirajam, Yesus menjawab "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yohanes 8:7). Ini tidak boleh diartikan bahwa Yesus menolak hukuman mati dalam segala hal. Yesus hanya mengungkapkan kemunafikan orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi ingin menjebak Yesus untuk melanggar Hukum Perjanjian Lama … mereka sama sekali tidak peduli dengan wanita yang akan dirajam itu (di mana laki-laki yang tertangkap basah dalam perzinahan?). Allah adalah yang menetapkan hukuman mati: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri” (Kejadian 9:6). Yesus akan mendukung hukuman mati dalam kasus-kasus lain. Yesus juga menunjukkan anugrah ketika hukuman mati seharusnya dijatuhkan (Yohanes 8:1-11). Rasul Paulus jelas mengakui kuasa dari pemerintah untuk menjatuhkan hukuman mati ketika dibutuhkan (Roma 13:1-5).

Jadi pada dasarnya kita kembali ke tempat di mana kita mulai.Ya, Allah mengijinkan hukuman mati. Namun pada saat yang sama Allah tidak selalu menuntut hukuman mati. Kalau begitu bagaimana seharusnya pandangan orang Kristen terhadap hukuman mati? Pertama, kita mesti mengingat bahwa Allah telah menetapkan hukuman mati dalam firmanNya, dan karena itu adalah sombong bagi kita untuk menganggap bahwa kita dapat menetapkan standar yang lebih tinggi dari Dia atau dapat lebih murah hati dari Allah. Allah memiliki standar yang paling tinggi dari semua makhluk karena Dia adalah sempurna adanya. Standar ini berlaku bukan hanya untuk kita namun juga untuk diriNya. Karena itu Dia mengasihi secara tak terbatas, dan Dia memiliki belas kasihan yang tak terbatas. Kita juga melihat bahwa murkaNya tanpa batas, dan semua ini terjaga dengan seimbang.

Kedua, kita harus mengenali bahwa Allah telah memberi pemerintah otortias untuk menentukan kapan hukuman mati pantas dijatuhkan (Kejadian 9:6, Roma 13:1-7). Adalah tidak Alkitabiah mengklaim bahwa Allah menentang hukuman mati dalam segala hal. Orang Kristen tidak boleh bergembira ketika hukuman mati dilaksanakan, namun pada saat yang sama orang Kristen juga tidak sepantasnya melawan hak pemerintah untuk mengeksekusi pelaku-pelaku kejahatan yang paling keras.

Apakah Yudaisme itu dan apa yang dipercaya oleh orang-orang Yahudi?

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/Yudaisme-Yahudi.html (Bahasa Indonesia)


Pertanyaan: Apakah Yudaisme itu dan apa yang dipercaya oleh orang-orang Yahudi?

Jawaban: 
Apakah Yudaisme dan siapa atau apa itu orang Yahudi? Apakah Yudaisme hanya sekedar sebuah agama? Apakah itu adalah suatu identitas budaya atau hanya suatu kelompok etnis? Apakah orang-orang Yahudi itu suatu suku bangsa atau apakah mereka adalah sebuah bangsa? Apa yang dipercaya oleh orang-orang Yahudi, dan apakah mereka semua percaya pada hal-hal yang sama?

Definisi kamus mengenai orang “Yahudi” mencakup “anggota suku Yehuda,” “orang Israel, "warga dari sebuah bangsa yang ada di Palestina dari abad ke-6 S.M. sampai abad 1 A.D.,” “ seorang yang menjadi bagian dari kesinambungan melalui keturunan atau pertobatan dari orang-orang Yahudi kuno,” dan “seseorang yang beragama Yudaisme.”

Menurut Yudaisme rabbinik, seorang Yahudi adalah seseorang yang memiliki ibu Yahudi atau seseorang yang secara resmi memeluk Yudaisme. Imamat 24:10 sering dikutip untuk memberi kredibilitas terhadap kepercayaan inil meskipun Taurat tidak memberi klaim khusus untuk mendukung tradisi ini. Beberapa rabbi mengatakan bahwa tidak ada hubungannya dengan apa yang betul-betul dipercaya oleh seseorang. Para rabbi ini memberitahu kita bahwa seorang Yahudi tidak harus menjadi pengikut hukum dan adat kebiasaan Yahudi untuk dapat dipandang sebagai orang Yahudi. Kenyataannya, seorang Yahudi bisa saja sama sekali tidak memiliki kepercayaan kepada Allah dan tetap merupakan orang Yahudi berdasarkan penafsiran rabbinik di atas.

Rabbi lainnya menjelaskan bahwa kecuali seseorang mengikuti hukum-hukum Taurat dan menerima “Tigabelas Prinsip Iman” dari Maimonides (Rabbi Moshe ben Maimon, salah satu sarjana Yahudi terbesar di abad pertengahan), dia bukanlah orang Yahudi. Meskipun orang ini mungkin secara "biologis” orang Yahudi, dia tidak punya hubungan dengan Yudaisme.

Dalam Taurat – kelima kitab pertama dari Alkitab – Kejadian 14:13 mengajarkan bahwa Abraham, dianggap secara umum sebagai orang Yahudi pertama disebut sebagai seorang “Ibrani.” Nama “Yahudi” berasal dari nama Yehuda, salah satu dari dua belas anak laki-laki Yakub dan salah satu dari dua belas suku Israel. Nampaknya istilah "Yahudi" pada mulanya merujuk hanya pada mereka yang berasal dari suku Yehuda, namun kemudian ketika kerajaan terpecah setelah pemerintahan Salomo (1 Raja 12), istilah ini merujuk pada siapapun yang ada dalam kerajaan Yehuda, yang termasuk suku Yehuda, Benyamin dan Lewi. Saat ini banyak yang percaya bahwa seorang Yahudi adalah siapapun yang merupakan keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, tanpa memandang dari suku mana dia berasal.

Jadi apakah yang dipercaya oleh orang-orang Yahudi, dan apa hukum-hukum dasar dari Yudaisme? Sekarang ini ada lima bentuk utama atau sekte Yudaisme dalam dunia. Mereka adalah Ortodoks, Konservatif, Reformed, Rekonstruksionis, dan Humanistik. Kepercayaan dan tuntutan dari setiap kelompok amatlah berbeda; namun demikian, daftar kepercayaan tradisional Yahudi secara ringkas akan mencakup hal-hal berikut:

Allah adalah Pencipta dari segala yang ada; Dia itu esa, roh (tanpa tubuh) dan hanya Dia yang patut disembah sebagai penguasa absolut dari alam semesta.

Kelima kitab pertama dari Kitab Suci Ibrani diwahyukan oleh Allah kepada Musa. Kitab-kitab itu tidak akan berubah atau ditambah di masa mendatang.

Allah telah berkomunikasi dengan umat Yahudi melalui para nabi.

Allah memperhatikan kegiatan manusia; Dia memberi orang pahala untuk perbuatan baik dan menghukum yang jahat.

Walaupun orang-orang Kristen mendasari banyak dari iman mereka pada Kitab Suci Ibrani sama seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi, ada perbedaan besar dalam kepercayaan: Orang Yahudi umumnya menganggap perbuatan dan kelakuan amatlah pentingnya; iman berasal dari tindakan. Hal ini bertentangan dengan orang-orang Kristen konservatif di mana yang paling penting adalah iman dan tindakan adalah hasil dari apa yang dipercaya.

Iman Yahudi tidak menerima konsep Kristen soal dosa asal (kepercayaan bahwa semua orang telah mewarisi dosa Adam dan Hawa ketika mereka tidak menaati perintah Allah di Taman Eden).

Yudaisme menegaskan bahwa dunia dan orang-orang sebagai ciptaan Allah pada dasarnya adalah baik.

Orang-orang percaya Yahudi dapat menyucikan kehidupan mereka dan menjadi lebih dekat kepada Allah dengan menggenapi mitzvoh (perintah illahi).

Tidak ada juruselamat yang diperlukan atau yang dapat bertindak sebagai pengantara.

613 perintah yang terdapat dalam Imamat dan kitab-kitab lainnya mengatur semua aspek kehidupan orang Yahudi. Sepuluh Hukum, sebagaimana yang diutarakan dalam Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21 membentuk sinopsis singkat dari Taurat.

Mesias (dia yang diurapi oleh Allah) akan datang di masa yang akan datang dan kembali mengumpulkan orang-orang Yahudi ke tanah Israel. Akan ada kebangkitan orang mati secara umum pada waktu itu. Bait Suci Yerusalem, yang dihancurkan pada 70 A. D. oleh orang-orang Romawi akan dibangun kembali.

Kepercayaan tentang Yesus amat beranekaragam. Sebagian memandang Dia sebagai pengajar moral yang agung. Yang lainnya memandang Dia sebagai nabi palsu atau sebagai berhala keKristenan. Beberapa sekte Yudaisme bahkan tidak mau menyebut nama-Nya karena larangan untuk menyebut nama berhala.

Orang-orang Yahudi sering disebut sebagai umat pilihan Allah. Hal ini tidak berarti bahwa mereka dianggap lebih tinggi dari kelompok-kelompok lainnya. Ayat-ayat Alkitab seperti Keluaran 19:5 hanya menyatakan bahwa Allah telah memilih Israel untuk menerima dan mempelajari Taurat, menyembah hanya kepada Allah, beristirahat pada hari Sabat, dan merayakan hari-hari raya. Orang Yahudi bukan dipilih kaena lebih baik dari yang lainnya; mereka dipilih untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan menjadi berkat bagi semua bangsa.

Apa itu Hinduisme dan apa yang dipercaya oleh orang-orang Hindu?

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/Hinduisme.html (Bahasa Indonesia)


Pertanyaan: Apa itu Hinduisme dan apa yang dipercaya oleh orang-orang Hindu?

Jawaban:
Hinduisme adalah salah satu agama terorganisir yang paling tua yang diketahui – kitab-kitab sucinya tertanggal 1400- 1500 SM. Itu juga salah satu yang paling beranekaragam dan rumit, dengan berjuta-juta dewa. Orang-orang Hindu memiliki beranekaragam inti kepercayaan dan terwujud dalam berbagai sekte. Meskipun itu adalah agama ketiga terbesar di dunia, Hinduisme pada umumnya ada di India dan Nepal.

Tulisan utama Hinduisme adalah Veda (dianggap yang paling penting), Upanishada, Mahabrata dan Ramayana. Tulisan-tulisan ini mengandung nyanyian, mantera, filsafat, upacara, puisi dan cerita-cerita yang menjadi dasar kepercayaan orang-orang Hindu. Tulisan-tulisan lain dalam Hinduisme termasuk Brahmana, Sutra dan Aranyaka.

Meskipun Hinduisme sering dianggap politeistik, dengan sebanyak 330 juta dewa, kepercayaan ini memiliki satu “allah” yang tertinggi – Brahma. Brahma adalah entitas yang dipercaya mendiami setiap bagian realita dan keberadaan dalam seluruh alam raya. Brahma bukan suatu pribadi dan tidak dapat dikenali serta dipercaya berada dalam tiga wujud yang berbeda: Brahma – Pencipta; Wisnu - Pemelihara; dan Siwa – Perusak. Ketiga “faset” Brahma ini juga dikenali melalui berbagai inkarnasi dari setiap faset. Adalah sulit untuk meringkaskan teologia Hindu karena setiap aliran Hindu yang berbeda mengandung unsur-unsur dari hampir setiap sistem teologi. Hinduisme dapat bersifat:

1) Monistik – Hanya satu yang ada; aliran Sankara

2) Panteistik – Hanya satu illah yang ada sehingga Allah adalah sama dengan dunia; Brahmanisme

3) Panenteistik – Dunia adalah bagian dari Allah; aliran Ramanuja

4) Theistik - Hanya ada satu Allah, terpisah dari Ciptaan; Hinduisme Bakti

Mencermati aliran-aliran lainnya, Hinduisme bisa ateistik, deistik, atau bahkan nihilistik. Dengan keanekaragaman seperti ini di bawah nama “Hindu”, orang bisa berpikir apa yang membuat mereka menjadi "Hindu?" Satu-satunya adalah apakah sistem kepercayaan itu mengakui Veda sebagai kitab suci atau tidak. Kalau ya, maka itu Hindu. Kalau tidak, maka itu bukan Hindu.

Veda lebih dari sekedar buku teologi. Veda mengandung “teo-mitologi” yang kaya dan seru, yaitu suatu mitologi agama yang secara sengaja menganyam mitos, teologi dan sejarah bersama-sama untuk menghasilkan akar agama berbentuk cerita. Teo-mitologi ini berakar begitu dalam dalam sejarah dan budaya India sehingga menyangkal Veda adalah sama dengan melawan India. Karena itu suatu sistem kepercayaan ditolak oleh Hinduisme kalau tidak menerima budaya India pada tingkat tertentu. Kalau sistem itu menerima budaya India dan sejarah teo-mitos nya, maka itu dapat diterima sebagai “Hindu” sekalipun teologianya teistik, nihilistik atau ateistik. Keterbukaan terhadap kontradiksi ini dapat memusingkan orang-orang Barat yang mencari konsistensi logis dan pembelaan rasional dalam pandangan keagamaan mereka. Namun, untuk adilnya, keKristenan tidaklah lebih masuk akal ketika mengaku percaya kepada Yahweh namun hidup sebagai orang-orang ateis praktis, menyangkali Kristus dengan hidup mereka. Untuk Hindu, konflik adalah kontradiksi logis yang sejati. Bagi orang Kristen, konflik lebih merupakan kemunafikan.

Hinduisme memandang umat manusia bersifat illahi. Karena Brahma adalah segalanya Hinduisme memandang bahwa semua orang bersifat illahi. Atman, atau diri, bersatu dengan Brahma. Semua realita di luar Brahma dipandang sebagai ilusi belaka. Tujuan rohani seorang Hindu adalah untuk menjadi satu dengan Brahma, jadi tidak lagi berada dalam bentuk ilusi sebagai "diri pribadi." Kebebasan ini disebut sebagai "moksa.” Sampai tercapainya “moksa”, orang Hindu percaya bahwa dia akan terus bereinkarnasi supaya dia dapat mengupayakan realisasi-diri akan kebenaran (kebenaran bahwa hanya Brahma yang ada, tidak ada lagi yang lain). Bagaimana seseorang bereinkarnasi ditentukan oleh karma, yang merupakan prinsip sebab akibat yang ditentukan oleh keseimbangan alam. Apa yang dilakukan seseorang di masa lampau mempengaruhi dan berkaitan dengan apa yang terjadi di masa depan, hidup masa lalu dan masa depan termasuk di dalamnya.

Meskipun ini hanya merupakan ringkasan pendek, dapatlah dilihat bahwa Hinduisme bertentangan dengan keKristenan Alkitab di hampir semua sistem kepercayaannya. KeKristenan memiliki satu Allah yang bersifat pribadi dan yang dapat dikenal (Ulangan 6:5; 1 Korintus 8:6); memiliki satu kitab Suci; mengajarkan bahwa Allah menciptakan dunia dan segala yang berdiam di dalamnya (Kejadian 1:1; Ibrani 11:3); percaya bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar-Nya dan hidup hanya sekali (Kejadian 1:27; Ibrani 9:27-28); dan mengajarkan bahwa keselamatan adalah hanya melalui Yesus Kristus (Yohanes 3:16; 6:44; 14:6; Kisah 4:12). Sebagai sistem agama Hinduisme gagal karena Hinduisme tidak mengakui Yesus sebagai Allah-Manusia dan Juruselamat yang berinkarnasi yang unik, satu-satunya sumber keselamatan bagi umat manusia.

Apa itu Christian Science?

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/Christian-science.html (Bahasa Indonesia)


Pertanyaan: Apa itu Christian Science?

Jawaban: 
Christian Science dimulai oleh Mary Baker Eddy (1821-1910) yang mempelopori gagasan baru mengenai spiritualitas dan kesehatan. Terinspirasi oleh pengalamannya sendiri soal kesembuhan pada 1866, bertahun-tahun lamanya Eddy melakukan pemahaman Alkitab, doa dan penelitian terhadap berbagai metode penyembuhan. Hasilnya adalah sistem penyembuhan yang dia sebut sebagai “Christian Science” pada 1879. Bukunya, Science and Health with Key to the Scriptures, membuka pengertian baru mengenai hubungan antara jiwa-tubuh-roh. Selanjutnya dia mendirikan perguruan tinggi, gereja, perusahaan penerbitan dan surat kabar yang dihormati, “The Christian Science Monitor.” Karena kesamaannya dengan kelompok-kelompok lainnya, banyak yang percaya bahwa Christian Science adalah bidat bukan Kristen.

Christian Science mengajarkan bahwa Allah – Bapa dan Ibu segalanya – adalah baik dan rohani sekali dan semua ciptaan Allah, termasuk natur yang sejati dari setiap orang, adalah keserupaan dengan Allah secara rohani yang tanpa cela. Karena ciptaan Allah itu baik adanya, kejahatan seperti penyakit, kematian dan dosa bukanlah bagian dari realita fundamental. Sebaliknya, kejahatan ini adalah akibat dari hidup terpisah dari Allah. Doa adalah jalan yang utama untuk lebih dekat kepada Allah dan menyembuhkan penyakit manusia. Ini berbeda dengan Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia dilahirkan dalam dosa yang diwarisi dari kejatuhan Adam, dan bahwa dosa memisahkan kita dari Allah. Tanpa anugrah penyelamatan Allah melalui kematian Kristus di atas salib, kita tidak akan pernah disembuhkan dari penyakit yang paling utama - dosa.

Bukannya mengajarkan bahwa Yesus menyembuhkan sakit rohani kita (lihat Yesaya 53:5), penganut Christian Science melihat pelayanan Yesus sebagai paradigma mereka sendiri mengenai penyembuhan, dan percaya bahwa hal itu menunjukkan sentralitas penyembuhan dalam kaitannya dengan keselamatan. Penganut Christian Science berdoa untuk lebih mewujudkan realitas Allah dan kasih Allah setiap harinya dan untuk mengalami serta menolong orang lain mengalami dampak pengharmonisan dan penyembuhan dari pemahaman ini.

Bagi kebanyakan penganut Christian Science, kesembuhan rohani adalah pilihan pertama yang efektif dan sebagai akibatnya, mereka beralih pada kuasa doa sebagai ganti perawatan medis. Pihak yang berwenang kadang-kadang mempertanyakan pendekatan ini, khususnya dalam keadaan di mana perawatan kesehatan tidak dilakukan pada anak kecil. Namun demikian, tidak ada kebijakan gereja yang mewajibkan pilihan layanan kesehatan anggota.

Christian Science tidak memiliki pendeta. Sebaliknya, Alkitab dan Science and Health berperan sebagai pendeta dan pengkhotbah. Pelajaran Alkitab dilakukan setiap hari dan dibacakan secara nyaring pada hari Minggu oleh dua orang awam yang dipilih di setiap jemaat setempat. Gereja Christian Science juga melakukan kebaktian kesaksian mingguan di mana anggota jemaat menceritakan pengalaman mereka dengan penyembuhan dan regenerasi.

Dari semua bidat "Kristen” yang ada, “Christian Science” adalah yang namanya paling tidak akurat. Christian Science bukanlah Kristen atau berdasarkan sains. Christian Science menyangkal semua kebenaran inti yang membuat suatu sistem itu "Kristen." Christian Science adalah, pada faktanya, berlawanan dengan sains and menunjuk pada spiritualitas zaman-baru yang mistis sebagai jalan untuk kesembuhan fisik dan rohani. Christian Science harusnya dilihat sebagai bidat dan ditolak karena merupakan bidat anti Kristen.

Apa itu Gnostisisme Kristen

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/Gnostisisme-Kristen.html  (Bahasa Indonesia)

Pertanyaan: Apa itu Gnostisisme Kristen?

Jawaban: 
Sebetulnya tidak ada yang dinamakan Gnostisisme Kristen karena keKristenan yang sejati dan Gnostisisme adalah sistem kepercayaan yang sama sekali berbeda. Prinsip-prinsip Gnostisisme bertentangan dengan apa artinya menjadi seorang Kristen. Karena itu sekalipun ada beberapa bentuk Gnostisisme yang mengaku Kristen, pada dasarnya mereka sama sekali bukan Kristen.

Gnostisisme mungkin adalah bidat yang paling berbahaya yang mengancam gereja mula-mula pada tiga abad yang pertama. Dipengaruhi oleh para filsuf seperti Plato, Gnostisisme adalah berdasarkan dua premis yang salah. Pertama, Gnostisisme mendukung dualisme roh dan materi. Gnostik percaya bahwa materi itu pada dasarnya jahat dan roh itu baik. Sebagai hasilnya, Gnostik percaya bahwa apa pun yang dilakukan dengan tubuh, dosa yang paling keji sekalipun, tidak ada artinya karena hidup yang sejati hanya ada dalam dunia roh belaka.

Kedua, Gnostik mengklaim memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, “kebenaran yang lebih tinggi” yang hanya diketahui oleh beberapa orang. Gnostisisme berasal dari kata bahasa Yunani gnosis yang berarti “mengetahui.” Para Gnostik mengklaim bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, bukan dari Alkitab, namun diperoleh melalui alam mistis lain yang lebih tinggi. Gnostik memandang diri mereka sebagai kelas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain oleh karena pengetahuan mereka akan Allah yang lebih tinggi dan dalam.

Untuk menghapus gagasan adanya kompatibilitas keKristenan dan Gnostisisme, cukuplah membandingkan pengajaran keduanya mengenai doktrin utama yang dipercayai. Dalam hal keselamatan, Gnostisisme mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui memperoleh pengetahuan illahi yang membebaskan orang dari ilusi kegelapan. Meskipun mereka mengakui mengikuti Yesus Kristus dan pengajaran-Nya yang mula-mula, Gnostik bertentangan dengan Dia dalam segala hal. Yesus tidak mengatakan apa pun mengenai keselamatan melalui pengetahuan, hanya melalui iman kepada-Nya sebagai Juruselamat dari dosa. “ Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Lebih jauh lagi, keselamatan yang Kristus tawarkan adalah cuma-cuma dan tersedia bagi semua orang (Yohanes 3:16), bukan hanya bagi sebagian orang saja yang mempunyai wahyu khusus.

KeKristenan menegaskan bahwa hanya ada satu sumber Kebenaran, dan itu adalah Alkitab, Firman Allah yang hidup yang diilhami, tanpa salah, satu-satunya pedoman iman dan perbuatan yang tidak berubah (Yohanes 17:17; 2 Timotius 3:15-17; Ibrani 4:12). Itu adalah wahyu Allah yang tertulis kepada umat manusia dan tidak pernah digantikan oleh pikiran, gagasan, tulisan atau penglihatan manusia. Gnostik, di pihak lain, menggunakan berbagai tulisan sesat pada abad-abad permulaan yang dikenal sebagai injil Gnostik, suatu kumpulan tulisan-tulisan palsu yang mengaku sebagai “kitab-kitab yang hilang dari Alkitab.” Untungnya, para bapa gereja mula-mula hampir dengan suara bulat mengenali tulisan-tulisan Gnostik ini pemalsuan yang mengajarkan doktrin yang salah mengenai Yesus Kristus, keselamatan, Allah dan semua kebenaran Kristen lainnya yang penting. Ada kontradiksi yang amat banyak antara "injil" Gnostik dan Alkitab. Bahkan ketika yang dikatakan Gnostik Kristen mengutip Alkitab, mereka mengubah ayat dan bagian dari ayat untuk menyesuaikan dengan filsafat mereka, suatu praktik yang amat dilarang dan diperingatkan dalam Kitab Suci (Ulangan 4:2; 12:32; Amsal 30:6; Wahyu 22:18-19).

Pribadi Yesus Kristus adalah bidang lain di mana keKristenan dan Gnostisisme berbeda secara drastis. Para Gnostik percaya bahwa tubuh fisik Yesus bukan sebenarnya, namun hanya “kelihatannya” demikian, dan roh-Nya turun kepada-Nya pada saat Dia dibaptis, namun meninggalkan Dia sebelum Dia disalibkan. Pandangan demikian bukan hanya menghancurkan kemanusiaan Yesus yang sejati, namun juga penebusan, karena Yesus bukan hanya harus merupakan Allah yang sempurna, namun juga adalah manusia yang sempurna (dan benar-benar memiliki tubuh) yang menderita dan mati di atas salib untuk menjadi korban penggantian yang dapat diterima untuk dosa (Ibrani 2:14-17). Pandangan Alkitab mengenai Yesus mendukung kemanusiaan-Nya dan keillahian-Nya yang sempurna.

Gnostisisme adalah berdasarkan pendekatan pada kebenaran yang bersifat mistis, intuitif, subyektif, ke dalam, dan emosional yang sama sekali bukan baru. Itu sudah amat lama, bermula di Taman Eden dalam bentuk yang berbeda, di mana Iblis meragukan Allah dan Firman yang dikatakan-Nya dan meyakinkan Adam dan Hawa untuk menolaknya dan menerima dusta. Dia berbuat yang sama sekarang ini sambil “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8). Dia masih mempertanyakan Allah dan Alkitab, dan menjerat setiap orang yang naif maupun yang tidak mengerti Alkitab atau yang mencari wahyu pribadi untuk membuat mereka terasa istimewa, khusus, dan lebih hebat dari orang lain. Mari kita mengikuti Rasul Paulus yang mengatakan “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21) dan kita lakukan ini dengan membandingkan segalanya dengan Firman Allah, satu-satunya kebenaran.


Apa itu Budhisme dan apa yang dipercaya oleh orang Budha?

SUMBER: https://www.gotquestions.org/indonesia/Budhisme.html (Bahasa Indonesia)


Pertanyaan: Apa itu Budhisme dan apa yang dipercaya oleh orang Budha?

Jawaban:
Budhisme adalah salah satu agama utama dunia dalam hal penganut, penyebaran geografis dan pengaruh sosio-budaya. Sekalipun umumnya masih berupa agama “Timur”, Budhisme makin populer dan berpengaruh di dunia Barat. Agama ini adalah agama dunia yang unik, meskipun memiliki banyak kesamaan dengan Hinduisme di mana keduanya mengajarkan tentang karma (etika sebab akibat), Maya (natur alam yang adalah ilusi), dan Samsara (lingkaran reinkarnasi). Para penganut Budha percaya bahwa tujuan hidup yang utama adalah untuk mencapai “pencerahan” sebagaimana yang mereka pahami.

Pendiri Budhisme, Siddhartha Gautama, lahir dalam keluarga bangsawan di India sekitar 600 S.M. Menurut cerita, dia hidup dalam kemewahan, tidak banyak tahu dunia luar. Orangtuanya menginginkan supaya dia tidak terkena pengaruh agama dan terlindung dari kesakitan dan penderitaan. Namun demikian, bentengnya dengan cepat ditembus, dia melihat orang tua, orang sakit dan jenazah. Penglihatannya yang keempat adalah seorang pertapa asketis (seseorang yang menolak kemewahan dan kenyamanan) yang penuh kedamaian. Melihat kedamaian si pertapa, dia memutuskan untuk menjadi seorang asketis. Dia meninggalkan hidup dalam kekayaan dan kelimpahan untuk mencari pencerahan melalui kesederhanaan. Dia menjadi ahli dalam menyakiti diri sendiri dan dalam meditasi yang dalam. Dia adalah pemimpin di antara rekan-rekannya. Pada akhirnya, upayanya berpuncak dalam sebuah langkah terakhir. Dia “memanjakan" dirinya dengan semangkok nasi dan kemudian duduk di bawah sebatang pohon ara (yang juga disebut pohon Bodhi) untuk bermeditasi sampai dia mendapat “pencerahan” atau mati. Sekalipun harus menghadapi berbagai pencobaan, pada paginya, dia mencapai pencerahan. Karena itu dia digelari “Yang Dicerahkan” atau “Budha.” Dia membawa realisasi baru ini dan mulai mengajar pertapa-pertapa lainnya yang memang sangat tunduk kepadanya. Lima rekannya menjadi murid-muridnya yang pertama.

Apa yang ditemukan oleh Gautama? Pencerahan terletak pada “jalan tengah,” bukan melalui kemewahan atau penyiksaan diri. Lagipula, dia mendapatkan apa yang kemudian dikenal sebagai “Empat Kebenaran Mulia” – 1) hidup adalah penderitaan (Dukha), 2) penderitaan adalah karena keinginan (Tanha, atau “keterikatan”), 3) seseorang dapat menghapus penderitaan dengan menghapus keterikatan, dan 4) hal ini dicapai dengan mengikuti jalan mulia delapan unsur. "Kedelapan unsur” terdiri dari memiliki 1) pemahaman yang benar, 2) itikad yang benar, 3) perkataan yang benar, 4) perbuatan yang benar, 5) hidup yang benar (menjadi pertapa), 6) upaya yang benar (mengarahkan tenaga secara pantas), 7) perhatian yang benar (meditasi), dan 8) konsentrasi yang benar (fokus). Pengajaran-pengajaran Budha dikumpulkan dalam Tripitaka atau “tiga keranjang.”

Di balik pengajaran-pengajaran tersohor ini adalah pengajaran-pengajaran yang sama dengan Hinduisme, yaitu reinkarnasi, karma, Maya, dan kecenderungan untuk melihat realita secara panteistik. Budhisme juga memiliki teologia yang rumit mengenai berbagai illah dan makhluk-makhluk suci. Namun, sama seperti Hinduisme, pandangan Budhisme mengenai Allah bisa sulit untuk disarikan. Beberapa aliran Budhisme dapat secara sah disebut ateistik, sementara lainnya dapat dikatakan panteistik, sementara lainnya adalah teistik, seperti Budha Tanah Murni. Budha klasik cenderung diam mengenai realita illahi dan karena itu dipandang sebagai teistik.

Budhisme zaman sekarang amat beranekaragam. Ajaran ini dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu Theravada (kendaraan kecil) dan Mahayana (kendaraan besar). Theravada adalah bentuk monastik yang mengajarkan bahwa hanya para rahib yang mendapat pencerahan tertinggi dan nirvana, sementara mahayana memungkinkan tujuan pencerahan ini dicapai juga oleh orang-orang biasa, yaitu yang bukan rahib. Dalam kategori-kategori ini dapat ditemukan berbagai cabang, termasuk di antaranya Tendai, Vajrayana, Nichiren, Shingo, Tanah Murni, Zen dan Ryobu. Karena itu penting untuk orang-orang luar yang berusaha memahami Budhisme untuk tidak menganggap tahu semua detil mengenai aliran Budhisme tertentu ketika yang dipelajari hanyalah Budhisme klasik yang historis.

Budha tidak pernah menganggap dirinya sebagai allah atau dewa apa pun. Sebaliknya, dia memandang dirinya sebagai “penunjuk jalan” bagi orang-orang lain. Hanya setelah kematiannya barulah dia diangkat menjadi allah oleh beberapa pengikutnya, meskipun tidak semua pengikutnya melihat dia sedemikian. Sebaliknya, dalam keKristenan, dikatakan dengan jelas sekali dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Anak Allah (Matius 3:17: “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan") dan bahwa Dia dan Allah adalah satu (Yohanes 10:30). Seseorang tidak bisa memandang dirinya sebagai orang Kristen tanpa percaya kepada Yesus sebagai Allah.

Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah jalan dan bukan sekedar seseorang yang menunjukkan jalan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Yohanes 14:6: “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ketika Gautama meninggal dunia, Budhisme sudah merupakan pengaruh besar di India; tiga ratus tahun kemudian, Budhisme telah mencakup sebagian besar Asia. Kitab-kitab suci dan perkataan-perkataan yang dikaitkan dengan sang Budha ditulis sekitar empat ratus tahun setelah kematiannya.

Dalam Budhisme, dosa umumnya dipandang sebagai ketidaktahuan. Walaupun dosa dimengerti sebagai “kekeliruan moral,” "kejahatan" dan "kebaikan" dipahami dalam konteks amoral. Karma dipahami sebagai keseimbangan alam dan bukan yang diterapkan secara pribadi. Alam bukan moral; karena itu, karma bukanlah aturan moral, dan dosa pada dasarnya bukanlah tidak bermoral. Karena itu dapatlah kita katakan, berdasarkan pemikiran Budha, bahwa kesalahan kita bukanlah masalah moral karena pada dasarnya itu bukanlah kesalahan antar pribadi. Konsekuensi pemahaman yang demikian amatlah merusak. Untuk orang Budha, dosa lebih serupa dengan salah langkah dan bukannya pelanggaran terhadap natur Allah yang suci. Pemahaman sedemikian akan dosa tidak sejalan dengan kesadaran naluri moral bahwa manusia bersalah di hadapan Allah yang suci karena dosa mereka (Roma 1-2).

Karena Budha menganggap bahwa dosa bukan bersifat pribadi dan adalah kekeliruan yang dapat diperbaiki, Budhisme tidak menerima doktrin kejatuhan, doktrin dasar dalam keKristenan. Alkitab memberitahu kita bahwa dosa manusia adalah masalah kekal yang berdampak kekal. Dalam Budhisme tidak diperlukan juruselamat untuk menyelamatkan orang dari dosa yang mencelakakan. Bagi orang Kristen, Yesus adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari hukuman kekal. Untuk orang Budha, yang ada hanyalah hidup secara etis dan bermeditasi kepada dewa dewi dengan harapan dapat memperoleh pencerahan dan Nirvana. Mungkin sekali seseorang harus mengalami sejumlah reinkarnasi untuk melunasi hutang karma yang begitu bertumpuk. Untuk pengikut Budhisme yang sejati, agama itu adalah sebuah filsafat moral dan etis, yang dibungkus dalam penyangkalan terhadap diri sendiri seumur hidup. Dalam Budhisme, realita bukan bersifat pribadi dan bukanlah berdasarkan hubungan; dan karena itu, bukan dalam kasih. Allah bukan saja dipandang sebagai ilusi, namun, dengan melarutkan dosa menjadi kekeliruan bukan moral, dan dengan menolak semua realita materi sebagai sekedar maya (“ilusi”), diri kita sendiri pun kehilangan “diri.” Kepribadian menjadi ilusi.

Ketika ditanya bagaimana asal mula dunia, siapa/apa yang menciptakan alam semesta, dikatakan bahwa Budha tetap diam karena di dalam Budhisme tidak ada awal dan akhir. Sebaliknya yang ada hanyalah siklus lahir dan mati yang tidak berkesudahan. Orang bisa bertanya pribadi seperti apa yang menciptakan kita untuk hidup dan mengalami penderitaan serta kepahitan yang begitu luar biasa dan kemudian mati berulang-ulang? Hal itu bisa membuat orang merenung, apa artinya, mengapa peduli? Orang Kristen mengetahui bahwa Allah mengutus anak-Nya untuk mati bagi kita, sekali, supaya kita tidak perlu menderita secara kekal. Dia mengutus Anak-Nya supaya kita tahu bahwa kita tidak sendiri dan bahwa kita dikasihi. KeKristenan mengetahui bahwa hidup itu bukan hanya penderitaan dan mati, “… dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2Tim 1:10)

Budhisme mengajarkan bahwa Nirvana adalah keberadaan tertinggi, suatu kondisi yang murni, dan itu dicapai dengan cara yang relatif terhadap orang itu. Nirvana tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan tatanan logis dan karena itu tidak dapat diajarkan, hanya direalisasikan. Sebaliknya, pengajaran Yesus mengenai surga amat jelas. Dia mengajarkan bahwa tubuh fisik kita akan mati, namun roh kita akan bersama dengan Dia di surga (Markus 12:@5). Budha mengajarkan bahwa orang tidak memiliki jiwa secara pribadi, karena diri sendiri atau ego adalah ilusi belaka. Untuk seorang Budha, tidak ada Bapa surgawi yang berbelas kasihan yang mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita, untuk keselamatan kita, untuk menyediakan jalan bagi kita mencapai kemuliaan-Nya. Pada akhirnya, itu sebabnya Budhisme haruslah ditolak.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...