17 October 2010

Ilustrasi dalam Khotbah




Berangkat dari adanya perbedaan daya tangkap setiap orang, Ilustrasi memiliki peranan yang cukup besar bagi keberhasilan sebuah khotbah. Penyelidikan modern terhadap otak menunjukkan bahwa sisi kiri otak bersifat pragmatis dan analisis, sementara sisi kanan otak bersifat meditatif dan imajinatif. Sebagian besar orang mengembangkan kapasitas salah satu sisi lebih banyak dari sisi lainnya. Hal ini tentu menyebabkan daya tangkap setiap orang berbeda. Bagi orang yang lebih mengembangkan sisi kiri otak, mereka mampu menangkap informasi yang bersifat logika dan abstrak. Mereka senang mendengar dan memikirkan khotbah-khotbah yang gamblang dan jelas. Sedangkan orang yang lebih mengembangkan sisi kanan otak kurang terbiasa berpikir dengan perkara-perkara sulit. Bagi mereka, mendengarkan khotbah yang abstrak sangat membosankan. Mereka lebih menyukai perumpamaan dan cerita, yakni gambaran kehidupan yang dapat mereka ‘lihat’ dengan pikiran mereka. Karena itulah, ilustrasi dapat memberikan “penerangan” terhadap apa yang pengkhotbah sampaikan, khususnya bagi mereka yang pola penerimaannya bersifat gambaran.



Ilustrasi
memang diperlukan untuk membuat khotbah menjadi lebih menarik dan mudah dimengerti, akan tetapi tetap diperlukan keseimbangan antara abstraksidan penggambaran. Alkitab mempunyai keseimbangan tentang hal ini.[1]



Di dalam Alkitab dapat kita temukan berbagai macam hukum, sejarah, peribahasa dan filsafat, juga gambaran dan kisah. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ilustrasi bukanlah penemuan yang baru. Allah berkali-kali menyatakan diri-Nya melalui berbagai ilustrasi, misalnya tipologi, simbol, metafora, dan lain-lain. Dalam pengajaran-Nya pun Yesus menggunakan berbagai perumpamaan, metafora dan analogi untuk memperjelas berita-Nya.


Jadi, apa manfaat ilustrasi? Berikut ini adalah beberapa fungsi utama penggunaan ilustrasi dalam khotbah:
(1) Memperjelas khotbah. Tingkat kemampuan pemahaman tiap orang berbeda. Dengan menggunakan ilustrasi, pengkhotbah bisa mengajarkan sesuatu dengan cara yang sederhana.

(2) Menjadikan khotbah lebih menarik. Setiap orang menyenangi cerita.[2] Dengan menggunakan ilustrasi, pengkotbah mampu menarik perhatian jemaat. Selain itu, ilustrasi seringkali mampu mendaratkan khotbah dengan cara yang berkesan. 


(3) Menghubungkan teologi dengan kehidupan. Ilustrasi merupakan sarana dalam ‘menduniakan’ sebuah khotbah. Khotbah yang bersifat abstrak dikeluarkan dan dilabuhkan pada peristiwa sehari-hari yang lebih sederhana dan lebih mudah dipahami jemaat.


(4) ‘Mengistirahatkan’ jemaat. Tidak semua jemaat bisa berpikir keras dalam jangka waktu yang lama dan dalam pola penalaran yang rumit. Di sinilah kesederhanaan ilustrasi berperan “mengistirahatkan” pikiran sejenak, sehingga jemaat bisa berkonsentrasi lagi pada bagian lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi, misalnya penyelidikan teks yang cukup rumit.


(5) Meningkatkatkan tingkat emosi sebuah khotbah. Dengan menghubungkan teologi dan kehidupan, ilustrasi mampu mengembangkan intensitas emosional.


(6) Khotbah lebih diingat. Tidak dapat disangkal, mayoritas jemaat mengalami kesulitan dalam mengingat penyelidikan teks yang rumit. Namun, seperti yang sebelumnya Penulis katakan, ilustrasi mampu mendaratkan khotbah dengan cara yang berkesan. Tentunya dengan adanya kesan tersebut, khotbah lebih mudah diingat.


Ilustrasi sesungguhnya dapat dikelompokkan berdasarkan profesi, umur, topik dan sumber. Akan tetapi kebanyakan pengkhotbah tidak memikirkan hal ini, mereka lebih senang menyesuaikan ilustrasi yang sesuai dengan khotbahnya. Alkitab merupakan salah satu sumber ilustrasi yang seringdipakai. Pengkhotbah menggunakan perumpamaan dan kisah yang ada dalam Alkitab sebagai ilustrasi yang menunjang khotbahnya. Selain itu banyak pengkhotbah yang menggunakan sejarah (historis) dan biografi tokoh sebagai bahan ilustrasi khotbahnya. Tak jarang pula pengkhotbah yang mengutip kata-kata seorang tokoh untuk dijadikan ilustrasi khotbahnya. Ilustrasi acapkali diambil dari pengalaman pribadi pengkhotbah. Pengalaman tersebut tidak harus yang bersifat positif (keberhasilan), tetapi juga negatif (kegagalan). Melalui hal ini jemaat diingatkan bahwa hamba Tuhan adalah manusia biasa yang juga terus bergumul untuk bertumbuh dalam Tuhan.


Tidak dapat disangkal bahwa ilustrasi yang berdasarkan peristiwa sehari-hari merupakan media yang sangat efektif dalam penyampaian khotbah. Tentunya karena jemaat menghadapi peristiwa-peristiwa itu setiap hari, sehingga mereka akan terus mengingat apa yang diilustrasikan. Di sini jemaat juga dapat belajar tentang Allah dari hal-hal yang tampaknya biasa dan sepele, yang terjadi dalam keseharian mereka. Ilustrasi juga dapat berbentuk sebuah anekdot (cerita lucu yang singkat) bahkan dongeng sekalipun. Apapun sumber dan bentuk ilustrasi, yang terpenting adalah bagaimana pengkhotbah mampu mengunakan dan memposisikan ilustrasi tersebut secara tepat.. John Killinger dalam bukunya Dasar-dasar Khotbah mengatakan bahwa khotbah yang baik biasanya mencapai keseimbangan yang sehat antara abstraksi dan penggambaran.  Sedangkan  Dr. H. Rothlisberger dalam bukunya Homiletika menyatakan bahwa perumpamaan mempunyai fungsi melayani di dalam khotbah dan tidak boleh menjadi hal yang utama dalam khotbah. Karena itulah porsi ilustrasi dalam khotbah tidak perlu berlebihan untuk menghindari ilustrasi yang menguasai khotbah.


Daftar Pustaka

Killinger, John. Dasar-dasar Khotbah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
Rothlisberger, H. Homiletika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.



Reactions:

0 comments :

Post a Comment

Sila Berikan Komen ATAU Sumbangan Artikel/Bahan Anda:-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...