17 October 2010

FENOMENA BUKU THE SECRET, A NEW EARTH, DAN SPIRITUALITAS ALA OPRAH WINFREY: BAGAIMANAKAH GEREJA MENYIKAPINYA?

FENOMENA BUKU THE SECRET, A NEW EARTH, DAN SPIRITUALITAS ALA OPRAH WINFREY: BAGAIMANAKAH GEREJA MENYIKAPINYA?

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.



PENDAHULUAN
Oprah Winfrey memang sosok yang fenomenal. Dari seorang ratu talk show yang menyentuh hati, akhir-akhir ini ia mulai dinobatkan sebagai nabiah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement).[1] Citranya memang sedang bergeser, dari pembawa acara terpopuler menjadi sosok kontroversial karena pernyataan-pernyatannya yang dianggap menyerang keunikan iman Kristen. Ketik saja namanya di Youtube atau Google Search, Anda akan menemukan banyak pujian dan kritik tertuju padanya, secara khusus dari kalangan Kristen. Sebuah website apologetika Kristen menuturkannya demikian:

Oprah Winfrey, yang mengklaim sebagai orang Kristen, telah semakin aktif dalam mempromosikan theologi New Age (misalnya, Ia berkata ’Saya percaya Allah ada di dalam segala sesuatu’) dan menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Misalnya, ia berkata ’Salah satu kesalahan yang dibuat manusia adalah percaya bahwa hanya ada satu jalan…ada banyak jalan menuju pada apa yang Anda sebut sebagai Allah’. Di kesempatan lain ia berkata, ’saya adalah orang Kristen yang percaya penuh bahwa ada banyak jalan menuju pada Allah selain dari Kekristenan’).[2]

Tampaknya tuduhan penyebaran ajaran New Age terhadap Oprah bukanlah tanpa dasar. Dukungan Oprah terhadap Gerakan Zaman Baru (selanjutnya disingkat GZB) atau New Age Movement (selanjutnya disebut New Age) memang semakin tercium ketika ia turut mempopulerkan buku/film The Secret karya Rhonda Byrne pada tahun 2007 dan A New Earth karya Eckhart Tolle pada tahun 2008.[3] Kedua buku ini, disebut-sebut sebagai buku-buku yang mempromosikan sebuah wawasan dunia (worldview) yang bercorak GZB secara umum.

Berkaitan dengan buku The Secret (selanjutnya disingkat TS), tidak diragukan lagi bahwa buku ini telah menjadi “demam” baru dan semacam epidemi dahsyat di dunia termasuk di Indonesia. Buku TS ini bahkan disebut-sebut oleh majalah Newsweek, “could be the fastest-selling book of its kind in the history of publishing.”[4] Dengan dukungan terhadap ajaran TS dari penulis-penulis terkenal seperti Jack Canfield (penulis serial Chicken Soup yang laris di Indonsia bahkan juga di kalangan orang Kristen) dan John Gray (Man Are from Mars…), tidak heran jika di Indonesia sambutan terhadap buku ini juga sangat meluas.[5]

Lebih dahsyat lagi, walaupun popularitas memang tidak selalu sama dengan pengaruh, namun dalam kasus TS, buku ini tampaknya memiliki kedua-duanya. Pengaruh TS bahkan telah dirasakan oleh komunitas Kristen di Indonesia. Betapa tidak? Mulai dari siswa-siswi sekolah menengah sampai profesor, pendeta maupun profesional Kristen, ada yang mempercayainya, mengajarkannya dan mempraktikkan buku TS ini. Tidak heran, di beberapa perusahaan yang dipimpin oleh orang Kristen, pelatihan-pelatihan yang didasari oleh filsafat TS juga merebak. Meraka biasanya berkata, “Benar lho. Setelah mempraktikkan buku ini, hasilnya sungguh nyata.” 

Berlainan dengan TS yang terkenal, buku A New Earth karya Tolle tidak atau belum terkenal di Indonesia. Walaupun demikian, dengan dukungan Oprah maka daya tarik dari buku ini telah meluas di dunia bagai sebuah ombak besar. Dilaporkan bahwa lebih dari 2,000,000 orang dari 139 negara berpartisipasi dengan Oprah dan Tolle dalam sebuah live seminar berbasiskan web yang membahas setiap bab dari buku ini.[6] Dengan angka yang bombastis seperti itu tentu saja orang Kristen perlu memberikan penilaian yang kritis tentang ajaran apa yang sedang disebarluaskan oleh buku ini.[7]

Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia. Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca.[8] Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan theologi dalam kedua buku tersebut. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey. 

AJARAN THE SECRET
The Secret (TS) bukan sekadar film dan buku biasa. Tidak seperti kebanyakan buku self-help dan motivasional yang berfokus untuk memperlengkapi Anda dalam mencapai kesuksesan atau kebahagiaan, buku ini menawarkan suatu kerangka berpikir yang cukup lengkap tentang segala sesuatu. Anda dapat menemukan konsep tentang kehidupan, uang, relasi, dan kesehatan tetapi juga konsep-konsep tentang siapakah Allah, manusia, dan tujuan hidup manusia di dunia. Bukankah itu menarik?

The Law of Attraction
Mayoritas pembaca atau mereka yang menyaksikan film TS berpikir bahwa Hukum tarik-menarik adalah inti sari dari film/buku TS.[9] Rahasia yang menjadi judul dari buku ini adalah keberadaan hukum tarik-menarik dalam kehidupan. Rahasia ini dikatakan telah dipahami oleh semua orang besar dan hebat pada masa lalu namun telah tersembunyi bagi kita. Sekarang buku TS berusaha mengungkapkannya kepada manusia yang hidup di zaman ini. 

Dalam menjelaskan rahasia ini, TS menyatakan, “Rahasia besar dalam kehidupan adalah hukum tarik-menarik” dan bahwa, “Pikiran yang sedang Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup Anda” [10]

Berikutnya, dalam rangkuman bab penyederhanaan rahasia, TS menegaskan bahwa, “Hukum tarik-menarik adalah hukum alam. Hukum ini sama pentingnya dengan hukum gravitasi.” Selanjutnya, ia menegaskan, “Tidak ada yang muncul ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melalui pikiran yang terus menerus” [11]

Bagaimanakah cara menggunakan rahasia ini secara praktis? Rhonda dengan cekatan menunjukkan langkah-langkah untuk menciptakan segala sesuatu yang Anda inginkan. Ia berkata, “Seperti Jin-nya Aladin, hukum tarik menarik menjamin pemenuhan setiap permintaan kita.”[12] dan “Proses penciptaan membantu Anda menciptakan apa yang Anda inginkan dalam tiga langkah sederhana: meminta, percaya dan menerima.”[13]

Selanjutnya, alih-alih mendorong kita untuk berdoa kepada Tuhan, buku TS mendorong kita untuk meminta kepada “semesta.” TS berkata, “Meminta apa yang Anda inginkan kepada Semesta adalah kesempatan menjelaskan apa yang Anda inginkan kepada diri sendiri. Ketika permintaan itu menjadi jelas di benak Anda, Anda sudah memintanya.” Sebagaimana akan kita lihat nanti, konsep “semesta” ini sama sekali tidak mengacu pada Tuhan yang berpribadi dan berkehendak dalam konsep Kristen melainkan mengacu pada energi.

Jadi, buku TS sangat menekankan pentingnya pikiran yang terfokus pada keinginan Anda, proses visualisasi dari keinginan itu dan akhirnya Anda akan mengalaminya sebagai kenyataan hidup. Apakah hal itu pasti? Tentu saja, karena hukum ini bekerja seperti hukum alam. Tanpa perkecualian! Dijamin! Demikianlah keyakinan buku ini. 

Rahasia Uang, Relasi, dan Kesehatan
Jadi, senada dengan buku-buku positive thinking lainnya, TS percaya bahwa pikiran yang positif menarik hal positif, pikiran yang negatif menarik hal negatif. Hal ini berlaku dalam semua bidang kehidupan termasuk uang, relasi dan kesehatan.

Jika memang rahasianya semudah itu, mengapa banyak orang yang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan? Dengan mantap Rhonda Byrne berkata, “Satu-satunya sebab mengapa orang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah karena mereka lebih memikirkan apa yang tidak mereka inginkan daripada apa yang mereka inginkan.”[14] 

Praktisnya, rahasia menuju kekayaan adalah memikirkan kekayaan. Rhonda berkata, “Ubahlah keseimbangan pikiran ke arah kekayaan. Pikirkan kekayaan.”[15] Dalam menyatakan hal ini, Rhonda tampaknya juga mengantisipasi antipati yang dapat muncul dari sekelompok orang Kristen. Ia berkata, 
Bila Anda dibesarkan dengan kepercayaan bahwa kekayaan tidak spiritual, saya menganjurkan Anda membaca buku The Millonaries of The Bible Series tulisan Catherine Ponder. Dalam buku berseri yang bagus ini Anda akan menemukan Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, dan Yesus bukan saja guru yang makmur, tetapi juga jutawan, dengan gaya hidup yang lebih mewah daripada yang bisa dibayangkan jutawan yang hidup di masa kini[16]

Lebih lanjut ia mengajarkan bahwa Anda perlu, 
...menggunakan imajinasi dan berpura-pura Anda sudah memiliki uang yang Anda butuhkan. Lakukan permainan seakan-akan Anda sudah memiliki kekayaan itu, dan Anda akan merasa lebih baik tentang uang. Ketika Anda merasa lebih baik tentang uang, lebih banyak uang akan mengalir ke dalam hidup Anda[17]

Selanjutnya, rahasia untuk memiliki relasi yang baik dan berhasil juga amat mudah. Oleh karena pikiran kita harus selalu positif, maka “Perlakukan diri dengan cinta dan hormat, maka Anda akan menarik orang-orang yang menunjukkan cinta dan hormat kepada Anda.” 

Sebaliknya, “Ketika Anda merasa buruk terhadap diri sendiri, Anda akan menghalangi cinta, dan Anda akan menarik lebih banyak orang dan situasi yang akan terus membuat Anda merasa buruk terhadap diri sendiri”[18]

Bagaimana dengan kesehatan? Prinsipnya selalu sama. Jika ingin sehat ya jangan pikirkan penyakit. Buku ini bahkan berkata: “Jangan mendengarkan pesan-pesan masyarakat tentang penyakit dan penuaan. Pesan-pesan yang negatif tidak berguna bagi Anda..”[19] Jadi, cara menjadi sehat tentu dimulai dengan pikiran bahwa ”saya sehat.” Hal ini penting karena, 
Penyakit ditahan oleh tubuh oleh pikiran, oleh pengamatan penyakit, dan oleh perhatian yang diberikan kepada penyakit. Jika Anda merasa agak tidak enak badan, jangan membicarakannya-kecuali jika Anda menginginkan lebih banyak keadaan tidak enak....[20] 

Akar Religius The Secret: Monisme dan Pantheisme
Buku TS menjadi semakin menarik karena para pendukungnya datang dari berbagai bidang keahlian dan mendatangkan kesan seolah-olah didukung oleh berbagai disiplin ilmu termasuk theologi Kristen. Ada ahli fisika kuantum, pembicara motivasional, tokoh spiritualitas, bahkan beberapa kutipan Alkitab seperti Matius 21:22 di dalam buku TS. Tetapi, lebih dari sekadar menawarkan cara hidup sukses, buku TS juga berbicara tentang Rahasia Anda dan Rahasia Kehidupan. Dua rahasia ini adalah dua bab terakhir dalam buku TS yang berbicara filsafat atau akar-akar religius buku TS. 

Dalam bab “Rahasia Anda”, secara eksplisit buku ini mengajarkan monisme, paham yang percaya bahwa semua realitas adalah “satu.” TS berkata, “Kita semua terhubung, dan kita semua adalah Satu.”[21] Selanjutnya, untuk menjelaskan kesatuan ini, ia berkata, 
Kita adalah Satu. Kita semua terhubung, dan kita semua adalah bagian dari Satu ladang Energi, dan Satu Akal Mahatinggi, atau Satu Kesadaran, atau Satu Sumber Kreatif. Sebutlah dengan sebutan apa pun, tetapi kita semua adalah Satu.[22]

Lebih jauh lagi, TS mengajarkan bahwa bukan hanya kita semua adalah Satu (monisme), tetapi melangkah lebih jauh bahwa yang “satu” itu adalah ”Tuhan” (pantheisme). Rhonda berkata, “Pasokan yang sesungguhnya adalah satu ladang yang tidak kasatmata, terlepas dari apakah Anda menyebutnya sebagai Semesta, Akal Mahatinggi, Tuhan, Intelegensi Tak Terbatas, atau apa pun.” [23] Selanjutnya, ia menjelaskan: 
Anda adalah Tuhan dalam sebuah tubuh fisik. Anda adalah Spirit dalam daging. Anda adalah Kehidupan Abadi yang mengungkapkan diri sebagai ANDA. Anda adalah makhluk jagat raya. Anda adalah kesempurnaan. Anda adalah keluarbiasaan. Anda adalah pencipta, dan Anda menciptakan penciptaan ANDA di planet ini.[24] 

Jadi, pada hakikat terdalam, manusia adalah Tuhan atau energi atau Intelegensi Tak Terbatas. Tidaklah mengherankan jika rahasia ini benar, maka manusia bisa meraih apa pun yang dia inginkan, entah kekayaan, relasi maupun kesehatan sempurna karena ia sendiri sempurna. Kesempurnaan manusia ini dijelaskan ketika TS menjelaskan posisi antropologinya: 
Kebenaran mutlak adalah bahwa ‘Saya’ sempurna dan utuh; ‘Saya’ yang sesungguhnya adalah spiritual, dan karenanya tidak bisa kurang dari sempurna; ia tidak bisa memiliki kekurangan, keterbatasan, atau penyakit. [25]

Ketika kita membaca pernyataan-pernyataan seperti itu, tidak ada keraguan sama sekali bahwa penulisnya percaya bahwa Tuhan dan manusia serta alam semesta memiliki hakikat yang sama pada hakikat terdalamnya. Ini adalah sebuah paham yang dikenal sebagai pantheisme. 

Sesuai namanya, pantheisme adalah paham yang percaya bahwa semua (pan) adalah Allah (theos) atau “God is All and All is God.” Ini adalah ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen (Teisme) yang percaya pada Allah yang menciptakan segala sesuatu (God made all) atau atheisme yang percaya tidak ada Allah sama sekali (No God at all).[26] Pantheisme sejati percaya bahwa, Anda adalah Allah, tikus adalah Allah, bahkan kertas adalah Allah (God is all). Mengapa demikian? Karena semua pada hakekatnya adalah satu kesatuan. Allah adalah satu kesatuan yang meliputi semua hal. Jadi, alam semesta dan manusia adalah satu yaitu Allah, dan sebaliknya juga.

Selanjutnya, untuk dapat mengenal lebih jauh tentang spiritualitas macam apa yang sedang dipromosikan Oprah, kita akan menyorot buku A New Earth yang banyak dipuji-puji Oprah dalam talk show dan web site miliknya.


AJARAN A NEW EARTH
Setelah tahun 2007 Oprah mendukung The Secret maka tahun 2008 ia dengan getol mempromosikan A New Earth karya Tolle. [27] Sesuai dengan fokus kita, maka kita hanya akan melihat konsep realitas tertinggi (Allah) dalam kaitannya dengan alam semesta dan manusia sebagaimana diajarkan oleh A New Earth.

Monisme dan Pantheisme dalam A New Earth
Menurut Tolle, semesta material saat ini hanyalah manifestasi sementara dari kesadaran spiritual yang bersifat universal atau yang biasa disebut “Allah” dalam konsep agama-agama. Kesadaran spiritual universal ini juga bisa disebut sebagai “Life Force.” Jika kita membaca karya Tolle, maka kita menangkap kesan kuat bahwa “Life Force” atau “Allah” dalam konsep Tolle ini lebih bersifat tidak berpribadi (impersonal) atau sedikitnya non-personal daripada berpribadi (personal). Realitas tertinggi ini lebih layak disebut “It” daripada “He” atau “She.”[28] Hal ini tentu saja pararel dengan ajaran TS bahwa segala sesuatu adalah “energi.” Selanjutnya, Allah dalam konsep Tolle adalah keberadaan yang memanifestasikan diri dalam semua benda dan makhluk hidup (bukan menciptakan). Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Tolle berkata:

Setiap hal memiliki Keberadaan, sebuah bentuk sementara yang memiliki sumber di dalam satu Kehidupan yang tak berbentuk, sumber dari segala sesuatu, semua tubuh, semua bentuk. Pada hampir semua kebudayaan kuno, orang-orang percaya bahwa segala sesuatu, bahkan apa yang disebut sebagai benda mati, memiliki roh yang mendiaminya, dan dalam kaitan dengan ini, mereka lebih dekat pada kebenaran daripada kita yang hidup di masa kini.[29]

Orang-orang Kristen yang mengagumi Oprah Winfrey mungkin akan terkejut ketika mengetahui Oprah mengagumi dan mempromosikan sebuah tulisan yang berusaha mengembalikan kita kepada kepercayaan mistik kuno yang tercermin dalam kalimat Tolle di bawah ini: 

Sejak zaman dahulu kala, bunga-bunga, kristal-kristal, batu-batu berharga dan burung-burung telah memiliki signifikansi khusus bagi roh manusia. Seperti halnya semua bentuk kehidupan, hal-hal itu, tentu saja merupakan manifestasi sementara dari esensi Kehidupan, satu Kesadaran.[30]

Ajaran monisme dan sekaligus pantheisme Tolle juga tercermin secara jelas dalam kata-katanya sendiri: 
Di dasar permukaan dari hal-hal yang tampak, segala sesuatu bukan hanya saling terkait satu sama lain, tetapi juga dengan Sumber dari semua kehidupan, yang dari dalamnya semua muncul. Bahkan sebuah batu, dan lebih mudah lagi sebuah bunga atau burung dapat menunjukkan kepadamu jalan menuju pada Allah, kepada sang Sumber, kepada dirimu sendiri..[31] 

Dalam kalimat di atas, Tolle menegaskan bahwa segala sesuatu “terkait satu sama lain” yang adalah ekspresi implisit dari “semua adalah satu.” Perhatikan pula bahwa dalam kalimat di atas kata, “Allah”, “sang Sumber”, dan “dirimu sendiri” mengacu pada sesuatu yang sama. Allah adalah diri kita sendiri, diri kita sendiri adalah Allah. 

Manusia Menurut A New Earth
Siapakah manusia sebenarnya? Tolle menjelaskannya di bawah judul Beyond Ego: Your True Identity. Menurutnya, manusia tidaklah identik dengan pengalamannya, pemikirannya, perasaannya karena semua itu bukanlah siapa Anda yang sesungguhnya. Anda tidak dapat menemukan diri Anda dalam hal-hal tersebut karena semua itu akan berlalu. 

Selanjutnya Tolle percaya bahwa Buddha mungkin adalah orang yang pertama kali mengalami realisasi spiritual dan mengetahui bahwa manusia pada dasarnya bukan “I” atau “aku: karena “aku” yang sebenarnya tidak ada. Ajaran ini diajarkan sebagai doktrin anatta (no self) yang menjadi salah satu ajaran utama Buddha. Lebih lanjut, Tolle menafsirkan bahwa ketika Yesus mengajarkan “menyangkal diri” hal ini berarti melepaskan ilusi tentang eksistensi diri. Jadi, diri kita yang sebenarnya sama sekali tidak terikat dengan perasaan, pengalaman, pikiran yang tampak dan termanifestasi di dalam dunia sehari-hari.[32] 

Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menurut Tolle, diri kita yang sebenarnya terlepas dari semua unsur-unsur pribadi (person) seperti pikiran, perasaan dan kehendak. Pada hakikat terdalamnya manusia bersifat “impersonal” atau paling tidak non-personal karena keberadaan tertinggi yang merupakan the real “I” tersebut juga impersonal atau non-personal. Kita adalah satu dengan Keberadaan Kehidupan tersebut. Perhatikan kata-kata Tolle:
The only thing that ultimately matters is this: Can I sense my essential Beingness, the I Am, in the background of my life at all times? To be more accurate, can I sense the I Am that I Am at this moment? Can I sense my essential identity as consciousness itself? Or am I losing myself in what happens, losing myself in the mind, in the world?[33]

Jikalau hakikat manusia yang terdalam adalah sama dengan Allah karena manusia adalah manifestasi dari Allah itu sendiri, mengapa manusia tidak menyadarinya? Jawaban Tolle adalah karena kondisi normal dari pikiran manusia berada dalam keadaan disfungsi. Semua manusia mengalami disfungsi dalam pikirannya. Keadaan ini disebut secara berbeda-beda oleh masing-masing agama. Misalnya, dalam Hindu hal ini disebut maya, dalam Buddha, dukka dan dalam Kristen, dosa asal..[34] 

Jadi, agama-agama yang berbeda sebenarnya mengacu pada hal yang sama ketika berbicara dengan istilah yang berbeda-beda tentang kondisi manusia yang sedang dalam masalah. Dengan ini pula usaha untuk menyamakan inti ajaran dari semua agama menjadi nampak dalam buku A New Earth. 


TINJAUAN KRITIS ATAS THE SECRET DAN A NEW EARTH 
Sebelum memberikan evaluasi kritis terhadap TS dan A New Earth, berikut ini akan diberikan sebuah perbandingan, antara apa yang diajarkan TS dan A New Earth (keduanya merupakan buku “spiritual ”yang dipromosikan Oprah Winfrey) dengan ajaran Alkitab mengenai realitas tertinggi dan manusia: 


Oprah Winfrey mempopulerkan: 
The Secret
(tahun 2007) A New Earth (tahun 2008) Alkitab
Realitas tertinggi Semesta (Universe) yg tidak berpribadi yang disebut-sebut sebagai Satu Ladang Energi, dan Satu Akal Mahatinggi, atau Satu Kesadaran, atau Satu Sumber Kreatif. Kekuatan Kehidupan yang bersifat Universal
(Universal Life Force)

Allah yg berpribadi. Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) yang memiliki pikiran 
(1Yoh. 3:20), perasaan (Yes. 63:10), kehendak (Mat. 3:15).

Manusia Manusia adalah Tuhan dalam sebuah tubuh fisik. Manusia adalah pencipta dan bersifat sempurna, abadi. Pendeknya, manusia sehakekat dengan Tuhan hanya saja tidak menyadari RAHASIA ini. Buku The Secret berusaha menyadarkan manusia tentang siapa mereka sesungguhnya. Manusia adalah Allah tetapi tercemar akibat ego. Pencemaran ini disebut secara berbeda-beda oleh masing-masing agama, namun hakekatnya sama saja. Misalnya, dalam Hindu disebut maya; dalam Buddha disebut dukka; dalam Kristen, dosa asal.

Ciptaan Tuhan dalam gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26-27). Manusia tidak sempurna (Rm. 3:23) dan tidak abadi atau memiliki permulaan (Kej. 1:1)


The Secret, A New Earth, dan Gerakan Zaman Baru
Buku The Secret dan A New Earth dalam wacana apologetika Kristen sering kali disebut sebagai bagian Gerakan Zaman Baru. 

Gerakan Zaman Baru itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah fenomena yang meluas di dunia Barat (walaupun sekarang jelas telah merambah Indonesia).[35] Salah satu tonggak sejarah dari GZB terjadi ketika Swami Vivekananda (seorang guru spiritual India) berceramah di World Parliament of Religions pada tahun 1893 dan setelah itu banyak diundang untuk berbicara di universitas-universitas dan kolese-kolese di Amerika. Di dalam ceramahnya ia menyarankan sebuah “persetujuan bilateral.” Ia mengamati bahwa Barat unggul dalam studi tentang “materi” (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan Timur unggul dalam studi tentang “spiritualitas.” “Marilah kita saling bertukar keahlian” demikian katanya. Dalam banyak cara, ia kelihatannya telah menjadi perintis dalam meletakkan Hinduisme ke dalam peta dunia dan sekarang guru-guru India sedang menggenapi visi tersebut. [36] Jadi beberapa aspek ajaran GZB yang penting mungkin “baru” bagi dunia Barat yang sudah lama didominasi Kekristenan namun sebenarnya “lama” di dunia Timur khususnya India dan Cina..

Melihat ciri-ciri ajaran dari The Secret dan A New Earth yang telah kita bahas sebelumnya, memang kita bisa cukup yakin untuk menyimpulkan bahwa keduanya memiliki ciri-ciri yang sama dengan buku/film, praktik-praktik lain yang tergolong Gerakan Zaman Baru (GZB). 

Terdapat beberapa kesamaan ajaran dari para penganut GZB walaupun pada dasarnya mereka bukanlah sebuah kepercayaan yang monolitik atau seragam. Sebagaimana dijelaskan oleh Douglas R. Groothuis, GZB memiliki sedikitnya enam ajaran penting yaitu: 1. Semua adalah satu; 2. Semua adalah Allah; 3. Kemanusiaan adalah Allah; 4. Perubahan kesadaran; 5. Semua agama adalah satu; 6. Optimisme evolusi kosmis.[37] 

Penting untuk diperhatikan bahwa paham monisme (Semua adalah Satu) dan pantheisme (Semua adalah Allah) diletakkan sebagai dua ajaran yang disebutkan paling awal oleh Groothuis tentang GZB. Hal ini sebenarnya mencerminkan sebuah urutan logis bahwa monisme dan pantheisme termasuk fondasi bagi kepercayaan GZB yang lainnya. 

Dalam kesamaan ciri-ciri dengan GZB, sedikitnya TS dan A New Earth yang didukung Oprah Winfrey mempromosikan pandangan yang merupakan variasi dari monisme dan secara khusus pantheisme.[38] Oleh karena itu, orang-orang Kristen perlu lebih jauh memberikan suatu penilaian kritis terhadap kedua buku yang sedang meraih popularitas tersebut.

Kritik Terhadap Monisme (Semua adalah Satu) dalam TS dan A New Earth
Dalam filsafat GZB sebagaimana tercermin dalam TS dan A New Earth, monisme adalah fondasi bagi kepercayaan GZB berikutnya. Monisme berasal dari kata “mono” yang berarti “satu.” Jadi, monisme adalah suatu kepercayaan bahwa semua yang ada adalah satu. Pada puncaknya, tidak ada lagi perbedaan antara Allah, manusia, wortel atau sebuah batu karang.[39] Hal ini berarti manusia dan batu sebenarnya tidak berbeda secara jenis namun hanya berbeda secara derajat dalam memanifestasikan realitas tertinggi atau “Allah.” Filsafat ini memiliki akarnya dalam pemikiran Hindu, Buddha di Timur maupun pemikiran filsuf Yunani Parmenides di Barat.[40] 

Dalam pemikiran Hinduisme, monisme ini juga menjadi dasar bagi praktik vegetarian dan tanpa kekerasan (non-violence). Jika makhluk hidup (khususnya binatang) pada hakekatnya adalah sama dengan kita, maka tentu kita tidak boleh menyakitinya apalagi memakannya.[41] 

Konsep monisme di atas tentu saja berbeda secara radikal dengan konsep Alkitab tentang realitas. Dalam perspektif wawasan dunia Kristen kita percaya bahwa ciptaan Allah meliputi banyak hal yang berbeda-beda. Enam hari penciptaan menunjukkan pada kita bahwa Allah memisahkan terang dan gelap, siang dari malam, bumi dari langit, tanah kering dari lautan, tumbuhan dari hewan, dan tentunya manusia berbeda dari semuanya itu karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.[42] Alkitab secara jelas menolak usaha untuk menghapuskan pluralitas dan hanya mengunggulkan kesatuan dari dunia. 

Jadi, dalam usaha untuk menjelaskan realitas dunia, monisme berusaha untuk melihat dunia ini dengan segala isinya (misalnya: manusia, binatang, tumbuhan, benda mati) sebagai suatu kesatuan atau “One” daripada “Many.” Hal ini amat berbeda dengan Kekristenan yang memiliki perspektif seimbang bahwa dunia ini adalah “One” sekaligus “Many.” Perspektif Kristen ini memiliki fondasinya yang kokoh dalam diri sang Pencipta yaitu Allah Tritunggal yang menjadi fondasi bagi adanya “One” sekaligus “Many” dalam dunia ciptaan. Sederhananya, dunia ini memang penuh dengan keanekaragaman benda mati, makhluk hidup (tumbuhan, binatang yang beraneka ragam), manusia, bintang-bintang, galaksi-galaksi namun semuanya itu adalah satu kesatuan ciptaan Allah yang memancarkan kemuliaan-Nya (bdk. Mzm. 119:1-7). Bukahkan “One” dan “Many” yang tercermin dalam ciptaan atau semesta ini merefleksikan penciptanya yaitu Allah Tritunggal yang memang “One” dalam esensi dan “Many” tepatnya “Tiga” dalam pribadi-Nya sendiri. 

Jadi, monisme bersalah dalam hal mengorbankan “Many” di atas altar “One” dalam melihat realitas dunia ini.

Kritik Terhadap Pantheisme dalam TS dan A New Earth
Pantheisme sebenarnya adalah monisme yang selangkah lebih maju. Jika dalam monisme orang percaya bahwa semua hal meliputi apa pun di dunia ini adalah “Satu” maka dalam pantheisme ditegaskan bahwa yang “Satu” itu adalah “Allah.” Jadi, pantheisme percaya bahwa semua adalah Allah dan Allah adalah semua. Dalam kepercayaan ini, Allah menyebar ke dalam semua hal, mencakup semua hal, meliputi semua hal dan ditemukan di dalam semua hal. Dalam konsep ini, dunia adalah Allah dan Allah adalah dunia. Tidak ada yang bukan Allah di dunia ini. 

Pantheisme memiliki sejarah panjang di Timur dan di Barat mulai dari mistisisme Hindu[43] sampai rasionalisme yang dicetuskan Parmenides, Benedict de Spinoza, dan G. W.. F. Hegel. Tetapi akhir-akhir ini pantheisme memang semakin populer di dunia barat. Pada satu masa, grup musik The Beatles dipengaruhi secara kuat oleh Transcendental Meditation dari Maharishi Mahesh Yogi dan kemudian oleh Gerakan Hare Krishna dari A. C. Bhaktivedanta, yang mengajarkan pemikiran panteistik juga di dalamnya. Film seperti Star Wars dan ajaran dari para individu seperti Alan Watts, D. T. Suzuki, dan Sarvepail Radhakrishnan dari India juga telah menambah pengaruh pantheisme terhadap masyarakat barat dewasa ini..Pengaruh dari pantheisme bahkan telah merambah dunia ekologi dengan dimunculkan ekoteologi yang panteistik dan percaya bahwa “semesta adalah Allah” sehingga tentu saja kita tidak boleh merusak atau mengeksploitasi semesta.[44] 

Sebelum memberikan kritik terhadap pantheisme, mungkin berguna bagi kita untuk melihat analisa dari Nancy Pearcey tentang pantheisme melalu kerangka berpikir penciptaan (creation), kejatuhan (fall), penebusan (redemption) untuk menganalisa sebuah wawasan dunia. Dalam kaitan dengan penciptaan maka atas pertanyaan, “Apakah realitas tertinggi, asal mula dari segala sesuatu dalam pantheisme Zaman Baru?” jawaban dari pantheisme adalah “Yang Mutlak, yang Satu, Sebuah Esensi Spiritual Universal.” Selanjutnya berkaitan dengan kejatuhan atau pertanyaan “Apakah sumber dari kejahatan dan penderitaan?” maka jawaban dari pantheisme adalah “perasaan/pikiran tentang individualitas kita.” Terakhir berkaitan dengan penebusan, maka atas pertanyaan ”Bagaimana pantheisme memberitahukan kita jalan untuk menyelesaikan masalah kejahatan dan penderitaan?” maka jawaban yang diberikan penganut pantheisme adalah “Dengan menjadi satu kembali dengan Esensi Spritual Universal yang darinya kita semua muncul.”[45] 

Beberapa kritik dapat kita berikan kepada pantheisme sebagai paham populer yang juga melandasi pemikiran TS dan A New Earth yang didukung Oprah. 
Pertama, kritik positif. Pantheisme berusaha untuk menjelaskan semua realitas dan bukan hanya sebagian realitas. Bukankah dunia ini kita sebut uni-verse dan bukan multi-verse? Hal ini berarti bahwa segala realitas harus diusahakan untuk dilihat sebagai sebuah kesatuan. Dalam usaha ini, pantheisme menyatakan bahwa Allah dan dunia ini saling kait mengait dan bukan terpisah sama sekali. Ini adalah kontribusi positif dari pantheisme.[46] Disebut kontribusi positif bukan karena pantheisme menyatakan kebenaran tetapi karena pantheisme mencerminkan sebuah usaha yang positif untuk melihat dunia dari semacam “big picture” dan bukan hanya parsial.

Kedua, kritik negatif. Dalam bagian ini ada beberapa kritik yang dapat kita berikan terhadap pantheisme baik secara biblikal-theologis maupun filosofis.

Kritik Biblikal-Theologis Terhadap Pantheisme
Ada beberapa kritik yang dapat kita berikan terhadap pantheisme dari sudut pandang Alkitab dan theologi Kristen (Injili).

Pertama, konsep pantheisme tentang asal muasal segala sesuatu (origin) jelas bertentangan dengan wahyu Allah dalam Alkitab tentang penciptaan. Dalam Kejadian 1 amat jelas bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Konsep Alkitab ini dipahami oleh para theolog sebagai “creatio ex nihilo” atau penciptaan dari kekosongan. Hal ini bertentangan dengan konsep pantheisme yang percaya “creatio ex Deo” atau penciptaan yang keluar dari Allah.[47] Dalam konsep Alkitab terdapat dualitas antara Allah dan alam semesta termasuk manusia. Allah berbeda dengan alam semesta dan manusia secara kualitas jenis dan bukan hanya derajat. 

Kedua, pantheisme tampaknya adalah sebuah gema kuno dari godaan ular terhadap Hawa yang berkata, “...Engkau akan menjadi seperti Allah” (Kej. 3:4-5). Dalam pantheisme dan implikasinya, manusia disamakan dengan Allah pada hakikat terdalamnya. Hal ini tentu amat bertentangan dengan penjelasan Alkitab yang menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27) namun tetap berada di bawah Allah.

Ketiga, secara theologis, Allah dalam Alkitab adalah Allah yang transenden, berbeda dengan ciptaan, namun juga imanen, hadir dalam ciptaan-Nya. Keseimbangan antara transendensi dan imanensi Allah ini begitu penting sehingga penekanan yang berlebihan pada salah satu akan menghasilkan ajaran yang menyimpang.[48] Dalam kaitan dengan pantheisme jelaslah bahwa ajaran ini mengorbankan transendensi Allah di atas altar imanensi.[49] 

Kritik Filosofis terhadap Pantheisme
Pantheisme percaya bahwa “dunia adalah Allah” dan implikasinya “saya adalah Allah” memiliki masalah yang besar secara filosofis. 

Pertama, pantheisme yang tercermin dalam buku TS dan A New Earth berusaha untuk mengatakan bahwa sebenarnya manusia hidup dalam ilusi atau ketidaktahuan, semacam “amnesia” metafisik. Oleh karena itulah buku The Secret ingin membuka rahasia itu kepada kita, sebuah rahasia bahwa “Anda adalah kehidupan abadi. Anda adalah Tuhan yang mewujud dalam bentuk manusia, dibuat untuk kesempurnaan.”[50] Demikian pula, A New Earth menyatakan bahwa semua manusia terkena disfungsi pikiran yang perlu disadarkan lagi akan hakikat terdalam kita yang adalah “Satu” dengan “Universal Life Force” atau “Allah” dalam konsep Kekristenan.

Jikalau benar klaim dari buku-buku tersebut bahwa semua manusia mengalami disfungsi pikiran, ilusi atau ketidaktahuan (sehingga perlu membaca Rahasia-The Secret). Bagaimana kita bisa yakin bahwa kaum New Age yang percaya bahwa “kita semua adalah Allah” (pantheisme) juga bukan merupakan sebuah pemikiran dari pikiran yang disfungsional dari Tolle, atau ketidaktahuan yang salah dari Rhonda Byrne serta Oprah Winfrey (yang turut menyetujui dan mempopulerkannya)? 

Tentu saja mereka dapat menjawab bahwa pantheisme adalah hasil dari pikiran yang telah tercerahkan. Walaupun demikian, pencerahan itu sendiri adalah sebuah pengalaman subyektif yang tidak dapat dijelaskan secara obyektif. Setiap orang dapat mengklaim sebagai orang yang telah tercerahkan, dan bukankah orang Kristen juga dapat mengatakan bahwa mereka telah “tererahkan” ketika mereka menyadari bahwa Allah adalah pencipta dan asal mula segala sesuatu (creation), kejahatan dan penderitaan adalah akibat pemberontakan manusia terhadap Allah (fall) dan bahwa Allah telah datang ke dunia dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia (redemption). Orang Kristen dapat saja menyebut pemahaman tersebut sebagai sebuah “pencerahan” karena dahulu mereka tidak melihat dunia dalam kacamata demikian dan pada satu momen dalam hidup mereka, dunia dilihat dengan kacamata (atau wawasan dunia) yang baru.

Jadi, pantheisme yang diyakini kaum New Age adalah sebuah subyektifitas pengalaman yang sebenarnya bersifat mistik. Kekristenan di lain pihak percaya pada keyakinan akan konsep creation, fall dan redemption spesifik seperti telah disinggung di atas dan siap untuk diuji secara rasional (rational) maupun pengalaman (experiential).

Kedua, pantheisme percaya bahwa dunia sebagaimana kita lihat melalui kacamata manusia adalah ilusi belaka. Hal ini jelas karena menurut pantheisme versi The Secret maupun A New Earth, manusia pada dasdarnya sering kali hanya melihat perbedaan-perbedaan atas segala hal (misalnya: benda, hewan, manusia) di level permukaan dan gagal melihat hakikat terdalam dari semuanya yang adalah satu “kesatuan” entah itu disebut sebagai energi (The Secret) atau Universal Life Force (A New Earth). Tetapi, jika cara pandang pantheisme yang sebagian sumbernya berakar dari filsafat Hindu ini benar, maka implikasinya sungguh merusak. 

Bayangkan saja Anda sedang menyeberang jalan dan berpikir bahwa truk yang sedang berjalan cepat adalah sebuah ilusi. Anda tentu akan mati ditabrak![51] Dalam realitas sehari-hari kita percaya bahwa kita hidup dalam fakta dan bukan ilusi. Jika kita berpikir secara konsisten bahwa semua yang kita lihat ini adalah ilusi maka kekonyolan akan terjadi. Kisah berikut mungkin menolong kita memahaminya.

Pernah suatu kali diceritakan bahwa ada seorang peserta seminar yang bertanya kepada sang pembicara. “Pak, bagaimana saya tahu bahwa ‘saya’ benar-benar ada dan bukan hanya ilusi?” Sang pembicara tersenyum penuh makna dan berkata, “Baiklah, kalau demikian kepada siapakah saya harus menjawab pertanyaan tadi?” Sungguh suatu pukulan telak, karena jawaban itu memaksa orang yang bertanya tersebut untuk menyatakan eksistensinya sekaligus individualitasnya yang berbeda dengan orang-orang lain yang tidak bertanya di ruangan itu. 

Selanjutnya, jika eksistensi kita adalah ilusi maka pikiran kita yang merupakan bagian dari eksistensi kita juga adalah ilusi. Jika hal ini benar maka semua pembicaraan tentang ilusi oleh kaum panteis itu sendiri adalah ilusi yang tidak perlu ditanggapi secara serius.[52] Geisler mengungkapkannya dengan jenius:
“Jika pikiran adalah bagian dari ilusi, maka ia tidak dapat menjadi dasar untuk menjelaskan ilusi itu sendiri. Selanjutnya, jika pantheisme itu benar dalam menyatakan bahwa individualitas saya adalah ilusi maka pantheisme adalah salah karena tidak ada dasar untuk menjelaskan ilusi itu sendiri.”[53]

Natur dari pantheisme adalah self-defeating seperti orang Indonesia yang berkata, “I can not speak any word in English” atau seorang suami yang membentak istrinya “Sudah kukatakan kepadamu jutaan kali, jangan pernah membesar-besarkan apa pun” sementara kalimat itu sendiri adalah sesuatu yang dibesar-besarkan.

Implikasi lebih lanjut dari pantheisme yang amat berbahaya adalah di bidang moralitas. Bayangkan, jika Anda percaya bahwa Anda adalah Allah atau Tuhan, maka tentu saja moralitas menjadi subyektif dan relatif tergantung pada diri Anda sendiri.[54] Hal ini nampak jelas ketika buku Rhonda penulis TS berkata, “Apa pun yang Anda pilih untuk ANDA adalah benar”[55] dan Jack Canfield dikutip dalam TS ketika berkata, “…Saya mempunyai peribahasa: “Jika tidak menggembirakan, jangan lakukan!.”[56] Jika ini diterapkan dalam seluruh (bukan sebagian) kehidupan maka yang terjadi tentu saja adalah konflik antara standar moralitas seseorang dengan orang lain. Jika pantheisme benar maka moralitas menjadi subyektif dan tidak ada fondasi untuk mengatakan sesuatu itu baik secara universal karena, bukankah “Allah” itu sendiri terlepas dari dualisme baik dan jahat dalam konsep pantheisme? Demikianlah kita melihat bahwa pantheisme memiliki masalah besar secara filosofis dalam dirinya sendiri.

Metode Apologetika terhadap Penganut GZB
Sebagai sebuah catatan akhir dari kritik terhadap pantheisme, namun mungkin merupakan hal yang terpenting adalah metode apologetika yang kita pergunakan dalam pertemuan dengan penganut pantheisme sejati.[57] Perlu kita sadari bahwa penganut New Age yang percaya pantheisme sering kali tidak percaya pada penalaran logis sebagai alat untuk menguji kebenaran sebuah kepercayaan. Hal ini jelas karena New Age sendiri justru merupakan sebuah reaksi kebosanan atas Kekristenan liberal, rasionalisme dan scientisme yang mengecewakan. Oleh karena itu, dalam pendekatan terhadap penganut pantheisme, mungkin segala kritik filosofis akan menemui kebuntuan karena mereka tidak menganggap logical consistency sebagai sebuah cara untuk menguji sebuah wawasan dunia. Dengan mempertimbangkan konteks demikian maka penulis percaya pada proklamasi Alkitab secara terus terang dalam konteks tertentu serta pendekatan yang kritik yang sifatnya lebih “praktis” dalam berdialog. Alister McGrath memberikan sebuah contoh untuk pendekatan kedua. Misalnya kita bisa bertanya kepada penganut pantheisme demikian: “Jika Anda adalah Allah mengapa Anda begitu tidak bahagia?” atau “Hak istimewa apa yang dimilik oleh seorang allah dibandingkan yang lain?” “Apakah hal ini membuat mereka tidak terkena pemberhentian kerja, atau dari penderitaan dan kesakitan? Dari kematian? Harapan apa yang diberikan (oleh ajaran New Age khususnya pantheisme) dalam menghadapi realitas kekinian dari penderitaan dan peristiwa kematian di masa depan?[58]


REFLEKSI AKHIR 
Buku dan film The Secret serta A New Earth adalah sebagian simbol kedigdayaan ajaran GZB di dunia pada masa kini. Ternyata, GZB bukan tambah sekarat tetapi justru mengalami kebangunan rohani dan memperoleh nabi-nabi baru (Selain yang lama seperti Shirley Mclaine, Deepak Chopra,[59] dll). Oprah Winfrey adalah pribadi yang mengaku sebagai seorang Kristen namun theologi serta spiritualitas yang dikembangkannya justru mencerminkan ajaran GZB. Hal ini mendorong kita untuk merenungkan beberapa hal dan mengambil respons spesifik.

Pertama, menjadi seorang Kristen tidaklah sama dengan memiliki wawasan dunia Kristen (Christian Worldview). Oprah adalah contoh mencolok tentang hal ini dan sebenarnya hanya mencerminkan fenomena gunung es. Ia mewakili jutaan orang Kristen yang tidak terbiasa berpikir kristiani dalam kehidupan.[60] Tugas para hamba Tuhanlah untuk memberikan pembinaan yang komprehensif tentang wawasan dunia Kristen terhadap jemaatnya. Pembinaan wawasan dunia Kristen yang berhasil tentu akan menolong jemaat untuk mampu memiliki kepekaan terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang di sekitar kita dan tetap berdiri teguh di atas kebenaran Alkitab atau wawasan dunia Kristen.

Kedua, di samping reputasi Oprah Winfrey yang positif dalam kemurahan hatinya serta kemungkinan beberapa ajarannya yang secara praktis mampu menolong orang banyak, ternyatalah bahwa Oprah yang mendukung TS dan A New Earth telah menyebarkan paham yang sesat dan patut diwaspadai. Bahaya dari ajaran Oprah beserta dengan talk show yang diasuhnya perlu mendapat perhatian gereja karena pertentangannya dengan iman Kristen tidak bersifat eksplisit melainkan implisit. Hal ini dapat membuat banyak orang Kristen tanpa sadar mengadopsi ajaran dan spiritualitas New Age di dalamnya.

Ketiga, gereja perlu memikirkan model-model pelayanan yang strategis dalam mempromosikan wawasan dunia Kristen di tengah perang wawasan dunia yang sedang berlangsung. Jika The Secret begitu indah dalam kemasan bukunya, begitu meyakinkan dalam filmnya, dan ajaran A New Earth begitu mudah diakses oleh dunia melalui live seminar berbasiskan web di internet, hal itu tampaknya menandakan bahwa ‘dunia’ sudah amat maju dalam strateginya untuk menyebarkan filsafat yang palsu. Sebagai orang percaya, kita perlu bangkit untuk bekerja lebih keras dan cerdas dalam memproklamasikan kebenaran yang kita yakini dengan tetap meyakini bahwa Allah bekerja bukan hanya melalui metode tetapi melalui orang-orang yang diurapi-Nya.

Keempat, sebagai orang Kristen kita tidak boleh jatuh pada dua ekstrem. Pertama, bersikap paranoid yaitu terlalu cepat curiga pada setiap orang atau setiap kejadian sebagai sesuatu yang bersifat negatif dan membahayakan kita. Dalam kaitan dengan Gerakan Zaman Baru, kita perlu berhati-hati agar tidak mudah memberikan cap-cap “New Age” kepada semua lagu, pengobatan, film, buku atau orang.[61] Pemberian label “New Age” yang terlalu cepat sering kali tidak menolong orang lain atau maupun diri kita sendiri dan hanya menunjukkan kedangkalan serta ketidakdewasaan. Sebaliknya, ekstrem yang lain adalah ketidakberanian menilai sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab secara tegas. Sikap toleransi yang kebablasan ini memang makin menjamur pada masa kini. Namun demikian, kita harus setia untuk memberitakan kebenaran Alkitab, menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar.

Kelima, ketika melihat banyaknya orang yang tertarik pada spiritualitas New Age seperti yang ditawarkan Oprah Winfrey, mungkin kita bukan hanya perlu memikirkan ulang bobot theologis dan bobot praktis tentunya dari khotbah-khotbah gerejawi masa kini namun juga kehidupan kita sebagai orang Kristen. Mungkin saja orang Kristen telah memiliki theologi dan apologetika yang memadai namun masalahnya telah dirumuskan Ravi Zacharias dengan tepat, “apologetics is often first seen before it is heard.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa sikap dan perbuatan orang Kristen memiliki relevansi yang penting dalam pembelaan iman Kristen dan penginjilan termasuk pada pengikut ajaran New Age yang bisa saja sudah memiliki agama formal termasuk Kristen.[62] Mungkin mereka tidak melihat vitalitas kehidupan Kristen itu begitu indah dan meyakinkan sehingga mereka masih haus akan ajaran-ajaran baru seperti GZB. 

Akhirnya, kita dapat mengingat kembali nasihat rasul Petrus ketika ia berkata bahwa pembelaan iman kita haruslah dilakukan dengan “lemah lembut dan hormat” serta disertai dengan “hati nurani yang murni, supaya mereka yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1Ptr. 3:15-16).[63] 


Profile Ev. Bedjo Lie:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen tetap Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menamatkan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau juga memiliki sertifikat dalam apologetika Kristen dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India.


Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
________________________________________
[1] Oprah Winfrey Show adalah talk show dengan penonton paling banyak di dunia yaitu 15-20 juta penonton setiap hari di Amerika melalui 205 pasar televisi dan disaksikan di 132 negara. Sejak permulaannya tahun 1986, show ini telah menerima 32 penghargaan Emmy. Pada tahun 1997, Oprah disebut oleh Newsweek’s sebagai ”Most Important Person” dalam dunia perbukuan dan media, T.V. Guide’s "Television Performer of the Year," the People's Choice Award for "Favorite Television Performer," dan tahun 1996, Time Magazine mengakui Oprah sebagai salah satu dari "25 Orang Paling Berpengaruh" di Amerika. (http://www.wfial.org/index.cfm?fuseaction=artNewAge.article_1)

[2] www.alwaysbeready.com/index6efd.html?option=com_content&task=view&id=143&Itemid=120. Video yang memuat pernyataan Oprah tentang ”banyak jalan menuju Allah” dapat dilihat di http://www.godtube.com/view_video.php?viewkey=41cf28cf8d26640e74f8

[3] Dalam talk show yang dipimpinnya, Oprah juga telah mengundang beberapa tamu dari kalangan New Age seperti (beberapa tamu ini bahkan tampil beberapa kali) Marianne Williamson, Barbara DeAngelis, LaVar Burton, Richard Carlson, Betty Eadie, Dannion Brinkley, M. Scott Peck, Sophy Burnham, Marilyn Ferguson, Kevin Ryerson, Shirley MacLaine, Sara Breathnach, James Hillman, dan psychic medium sekaligus penulis laris, James Van Praagh. Pada tahun 1996, Oprah memulai Oprah's Book Club untuk membuat warga Amerika membaca lagi. Setiap buku-buku yang diseleksi telah menjadi best seller secara instant dengan rata-rata penjualan di atas 1 juta kopi (http://www.wfial.org/index.cfm?fuseaction=artNewAge.article_1)

[4] www..alwaysbeready.com/indexb59e.html?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=0

[5] Rhonda Byrne, The Secret (Jakarta: terj. Gramedia Pustaka Utama). Menurut penulis, buku TS memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan The Da Vinci Code dan Injil Yudas terhadap komunitas Kristen Indonesia. Buku TS banyak mempengaruhi pemikiran orang-orang Kristen karena wawasan dunia yang berlawanan dengan Kekristenan di dalamnya ditawarkan secara implisit, sedangkan The Da Vinci Code dan Injil Yudas lebih eksplisit dalam pertentangannya dengan iman Kristen 

[6] Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose (New York: Penguin Group, 2006). 

[7] Hal ini juga menjadi sebuah refleksi bagi pentingnya pelayanan kristiani yang berbasiskan internet sebagai sarana menjangkau jiwa. Salut pada Sabda dan website Kristen lainnya yang telah menjadi berkat besar bagi Kekristenan di Indonesia!

[8] Hukum tarik-menarik ini disebut-sebut sebagai intisari dari buku TS. Pembahasan hukum tarik-menarik dalam artikel ini mungkin dapat membuat fokus tulisan ini agak melebar. Namun demi pertimbangan khusus bahwa sebagian pembaca tidak punya kesempatan untuk membaca seluruh buku TS, penulis berharap agar pembaca dapat memhami inti dari hukum tarik-menarik yang sedang populer ini. Walaupun demikian, artikel ini tidak akan memberikan kritik terhadap hukum ini namun memfokuskan pada tinjauan kritis atas fondasi theologis TS dan A New Earth yaitu doktrin mengenai realitas tertinggi dalam kaitannya dengan alam semesta dan manusia. 

[9] Hukum ini tentu saja yang paling diingat oleh mereka yang secara praktis ingin mencapai uang, relasi dan kesehatan lebih baik. Akan tetapi bagi orang Kristen yang kritis, intisari buku TS justru bukan pada hukum ini melainkan pada filsafat dasarnya tentang siapakah Allah, manusia dan alam semesta. 

[10] The Secret, hlm. 29.
[11] Ibid., hlm. 49.

[12] Dalam pengalaman penulis, beberapa orang pernah secara keliru menafsirkan bahwa buku TS mengajarkan kita untuk percaya pada “jin.” Istilah “jin” disini hanya digunakan sebagai ilustrasi. Buku TS tidak mengajarkan kita untuk percaya pada “jin” melainkan menggunakan cerita yang sudah umum tentang “jin” untuk mengilustrasikan bahwa hukum tarik menarik mampu memberikan apa saja yang kita minta 
[13]Ibid., hlm. 80. 
[14] The Secret, hlm. 14.
[15] Ibid., hlm. 131. 
[16] Ibid., hlm. 127-128. Belum lama ini penulis mendengarkan bahwa ada seorang pengkhotbah yang mengajarkan Yesus hidup makmur karena keberadaan Yesus sebagai “anak tukang kayu” dapat ditafsirkan sebagai seorang “pengusaha mebel” pada masa kini. Bukankah banyak pengusaha mebel yang kaya saat ini? Jadi, Yesus juga tukang kayu yang kaya. Penulis hanya bisa “kagum” dengan kreatifitas para pendukung “theologi” kemakmuran dalam “menafsirkan” Alkitab sehingga Yesus bisa disulap menjadi pengusaha mebel, untung-untung bukan eksportir kayu ilegal yang kaya seperti di Indonesia. 
[17] Ibid., hlm. 131.
[18] Ibid., hlm. 145.
[19] Ibid., hlm. 165.
[20] Ibid., hlm. 165.
[21] Ibid., hlm. 209.
[22] Ibid., hlm. 193.
[23] Ibid 195.
[24] Ibid 196.
[25] Ibid 207.

[26] Bdk. Norman L. Geisler dan Frank Turek, I Don’t have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton: Crossway Books, 2004), hlm. 23.

[27] Buku karya Eckhart Tolle lainnya adalah The Power of Now (terj. Indonesia, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2005). Dalam bagian sampul depan buku ini termuat kata-kata pujian Oprah Winfrey terhadapnya “Mengubah pemikiran....Hasilnya? Lebih banyak sukacita, sekarang juga.” 

[28] Berbicara tentang konsep Allah sebagai Bapa, di tahun 2008 penulis berkesempatan mendapatkan “berkat” dari seorang pendukung theologi feminis di Indonesia yang menyampaikan doa berkat dengan berkata “Allah Bapa dan Ibu kita.” Tampaknya gerakan ini telah menjadi isu yang perlu segera ditanggapi oleh kaum Injili di Indonesia mengingat pendukung “Allah Bapa dan Ibu” sudah mulai unjuk gigi dan meninggalkan pemahaman analogis dan ontologis dari istilah “Bapa” serta mengorbankan teks di atas altar konteks zaman yang terus berubah.

[29] Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life's Purpose (New York: Plume, 2006), hlm. 37. Dalam bagian ini dan seterusnya, penulis menggunakan versi elektronik (PDF) atas buku A New Earth dalam seluruh artikel ini. 
[30] A New, hlm. 3-4. 
[31] A New, hlm. 25-26.
[32] A New, hlm. 78-79. 
[33] Ibid., hlm. 79. 
[34] A New, hlm. 9.

[35] Penulis Indonesia yang membahas masalah New Age misalnya, Herlianto dalam bukunya, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung: Kalam Hidup, 1990); satu bab dari Jan S. Aritonang dalam bukunya, Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 426-465. Untuk penulis non Kristen, lihat Sukidi, New Age: Wisata Spiritual Lintas Agama (Jakarta: Gramedia, 2001). 

[36] Materi kuliah tidak diterbitkan dari Ravi Zacharias International Ministry (RZIM) Academy of Apologetics berjudul “The Church and New Age and New Age Spirituality” di Chennai India, 2008. Ajaran Swami Vivekanda dapat ditemukan dalam sebuah buku bahasa Indonesia karya Nyoman S. Pendit berjudul Vedanta: Percik-percik Renungan Swami Vivekananda (Denpasar: Pustaka Bali Post, 2005). Di dalam buku ini dituliskan bahwa mantan presiden Soekarno pun memuji pemikiran Vivekanda. Selain itu, Harold Netland menunjukkan kepada kita bahwa ajaran GZB banyak disebarkan oleh tokoh-tokoh intelektual Asia yang mempromosikan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Tao) ke Barat. Selain S. Vivekanda, mereka adalah D. T. Suzuki, Rabindranath Tagore, Sri Aurobindo, Sarvepalli Radhakrishnan, tokoh Zen Buddhisme Masao Abe, Tenzin Gyatso sang Dalai Lama Tibet, Maharishi Maha Yogi, dll. Saat ini banyak artis seperti Richard Gere, Tina Turner, Adam Yauch, Herbie Hancock dan Steven Seagal yang secara terbuka menganut agama Buddhisme Tibetan (Lih. Encountering Religious Pluralism: The Challenge to Christian Faith and Mission [Downers Grove: InterVarsity, 2001], hlm. 107-108). Untuk pendahuluan yang baik tentang New Age Movement pembaca dapat melihat karya James W Sire, The Universe Next Door: A Basic Worldview Catalog (Illinois: InterVarsity Press, 1997), hlm. 137-170. 

[37] Membuka Topeng Gerakan Zaman Baru (terj. Indonesia. Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 17-40.

[38] Disebut ”variasi” dari monisme dan pantheisme karena pada dasarnya penganut monisme dan khususnya pantheisme memang memiliki sebutan dan cara yang berbeda-beda dalam menggambarkan versi monisme dan pantheisme mereka. Walaupun demikian pada inti ajarannya mereka tetap percaya secara mendasar bahwa dunia ini “Satu” dan yang satu itu adalah “Allah” atau realitas tertinggi. Cara mereka menunjukkan bagaimana kompleksitas dunia ini disebut ”Satu” dan secara khusus adalah “Allah” sering kali berbeda-beda. Bdk. Geisler, Norman L. dan Watkins, William D. Worlds Apart: A Handbook on World Views (2nd ed. Grand Rapids: Baker Book House, 1989), hlm. 77.

[39] Groothuis, Membuka Topeng, hlm. 18. 

[40] Monisme diyakini oleh Hinduisme secara khusus aliran Advaita Vedanta (yang artinya “non dualisme”) dan Buddhisme secara khusus aliran Zen. Frans Magnis Suseno menyatakannya demikian, “Kitab-kitab Suci Hindu, kitab-kitab Veda dan Upanishad, membuka jalan ke pemikiran filosofis mendalam di mana akhirnya segala-galanya dipahami sebagai satu (Menalar Tuhan [Yogyakarta: Kanisius, 2006], hlm. 30); Untuk uraian theolog Katolik lain tentang monisme dan Hinduisme lihat juga Tom Jakobs, Paham Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 79-91. Mengenai monisme dalam Buddhisme, sebuah buku Buddha menyatakan dengan tegas bahwa Buddhisme menolak konsep Tuhan yang personal sebagaimana diyakini oleh Kekristenan. Dalam tradisi Vajrayana Buddhisme, konsep Tuhan dituangkan dalam istilah Adi-Buddha, yang mewakili sifat dasar seluruh makhluk yang paling inheren (Djoko Mulyono dan Petrus Santoso, Studi Banding Agama Buddha dan Kristen [Indonesia: Free Press, 2005], hlm. 33-34). Hal ini menunjukkan bahwa Buddhisme percaya pada konsep ketuhanan yang ada dalam diri semua makhluk, sebuah konsep yang menekankan imanensi lebih daripada transendensi Allah. Pemikiran-pemikiran Hindu dan Buddha inilah yang turut mewarnai para tokoh New Age masa kini karena apa yang disebut sebagai fenomena Baru dalam Gerakan Zaman Baru sebenarnya hanyalah “baru” bagi dunia barat tetapi sudah “lama” di Timur khususnya India sebagai tempat lahirnya Hinduisme dan Buddhisme.

[41] Di India sampai saat ini, banyak orang Hindu tidak makan daging sapi, sedangkan muslim seharusnya tidak makan daging babi. Sementara bagi orang Hindu dan Muslim beberapa jenis makanan “haram”, bagi orang Kristen semuanya “harum.” Penulis pernah mendengar bahwa oleh karena alasan itulah maka ada orang yang memilih menjadi Kristen. 

[42] Lih. Membuka Topeng, hlm. 20. 

[43] Tidak semua aliran Hinduisme percaya pada pantheisme. Sebagian aliran Hinduisme seperti Sankhya dan Nyaya lebih condong pada atheisme, tetapi Vedanta atau Advaita Vedanta percaya pada pantheisme. Oleh karena itu, ketika membicarakan Hinduisme kita harus sangat berhati-hati karena Hinduisme meliputi banyak aliran yang amat berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan satu sama lain. Di dalamnya ada animisme, fetishisme, politeisme, pantheisme, monisme, dan atheisme (lih. Lit-Sen Chang, Asia’s Religions: Christianity’s Momentous Encounter With Paganism [Vancouver, Canada: China Horizon and Horizon Ministries Canada, 1999], hlm. 201-202). Bdk.. Satischandra Chatterjee dan Dhirendramohan Datta, An Introduction to Indian Philosophy [New Delhi: Rupa & Co, 2007], hlm. 5-7). 

[44] Bdk. Geisler dan Watkins, Worlds Apart, hlm. 75-77. Contoh populer di Barat tentang pantheisme adalah ajaran dari artis Shirley MacLaine yang mendorong setiap orang untuk memulai setiap hari demi hari dengan mengafirmasikan keilahian dirinya sendiri (lih. David A. Noebel, Understanding The Times: The Coillision of Today’s Competing Worldviews [Colorado: Summit Press, 2006], hlm. 72). Buku Noebel ini secara komprehensif membandingkan ajaran GZB atau yang disebutnya sebagai Humanisme Kosmik dalam 10 bidang keilmuan (theologi, filsafat, etika, biologi, psikologi, sosiologi, hokum, politik, ekonomi, sejarah) dengan Kekristenan, Islam, Humanisme Sekuler, Marxisme-Leninisme dan Postmodernisme. Buku ini amat informatif dan baik untuk studi awal mendalami peperangan wawasan dunia di sekitar kita. Versi yang mirip dan lebih ringkas telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia di bawah judul Perjuangan Untuk Kebenaran (Jakarta: YWAM Publishing Indonesia, 2007). 

[45] Total Truth: Liberating Christianity from Its Cultural Captivity (Study Guide Edition, Wheaton: Crosway Books, 2005), hlm. 146-148. Buku ini adalah sebuah analisis worldviews di dunia yang amat baik dan memenangkan penghargaan dari ECPA. 

[46] Bdk. Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker Books, 1999), hlm. 581.
[47] Bdk. Ibid., hlm. 580. Hal ini juga ditegaskan oleh Augustine Perumalil dalam bukunya Religious Cosmologies (New Delhi: ISPCK, 2007), hlm. 2. Ia berkata bahwa kata Hindu yang menggambarkan lahirnya alam semesta atau cosmogenesis adalah sristi. Kata Sanskrit sristi tidak berarti memunculkan keberadaan dari ketidakberadaan atau menciptakan sesuatu dari yang tidak ada sebagaimana dalam konsep Kristen. Konsep kelahiran semesta dalam istilah Veda adalah “Out-breathing of God.” Jadi dunia ini keluar dari Allah, bukan diciptakan Allah. Tidak heran jika Hinduisme percaya bahwa jiwa manusia yaitu Atman pada hakekatnya sama dengan Brahman atau realitas tertinggi (Allah dalam konsep Kristen). Dalam kaitan dengan ini, Groothuis mengutip kalimat C. S. Lewis, ”Sebelum adanya waktu, pantheisme bukan merupakan suatu kredo yang sama sekali salah. Pada saat sebelum penciptaan, dapat dikatakan benar jika mengatakan segala sesuatu adalah Allah. Tetapi Allah mencipta: Ia telah menyebabkan yang lain ada, selain dari diri-Nya sendiri (Membuka Topeng, hlm. 22). Penulis setuju dengan Ravi Zacharias yang menentang pandangan C. S. Lewis dalam hal ini karena bahkan dari sejak awal pun Allah ada sebagai Tritunggal yang di dalamnya ada “Saya” dan “Kamu” yang berbeda dengan pantheisme dari satu penguasa tunggal (lih. rekaman dari ceramah-audio dari Ravi Zacharias berjudul “The Spurious Glitter of Pantheism”). 

[48] Bdk. Daniel Lukas Lukito melihat adanya kecenderungan theologi Kristen yang dibangun di atas landasan immanensi dalam kehidupan gereja masa kini (“Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Theologi Abad 21: Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif,” Veritas: Jurnal Theologi dan Pelayanan Volume 1 Nomor 1 April 2000), hlm. 5-6. 

[49] Bdk. L. T. Jeyachandran dalam “Challenges From Eastern Religions” dalam Beyond Opinion: Living The Faith That We Defend (gen. ed. Ravi Zacharias; Chennai, India: RZIM Educational Trust, 2008), hlm. 99. 

[50] The Secret, hlm. 195. Di bagian lain dikatakan, “Terlepas dari siapa Anda pikir diri Anda, sekarang Anda mengenal Kebenaran tentang siapa Diri Anda sesungguhnya. Anda adalah penguasa Semesta. Anda adalah pewaris kerajaan. Anda adalah kesempurnaan dari hidup. Dan sekarang Anda mengenal Rahasia. Semoga kegembiraan menyertai Anda!” (Ibid, 219).

[51] Bdk. Geisler, Baker Encyclopedia, hlm. 581. 

[52] Bdk. Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods (Nashville, Tennessee: W Publishing, 2000), hlm. 119.. Dalam bagian ini Ravi mengembangkan kritiknya secara jenaka atas konsep ilusi dalam filsafat Shankara, seorang tokoh Hindu yang termahsyur.

[53] Lih. Geisler, Baker Encyclopedia, hlm. 582. Untuk kritik lain terhadap pantheisme, lihat Jeyachandran dalam “Challenges From Eastern Religions”, hlm. 105.

[54] Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Miths: Building Bridges to Faith Through Apologetics (Grand Rapids: Zondervan, 1993), hlm. 182.

[55] The Secret, hlm.. 214.

[56] Jack Canfield penulis serial Chicken Soup, berkata “Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tiba di titik ini, karena saya dibesarkan dengan ide bahwa ada sesuatu yang harus saya lakukan, dan jika saya tidak melakukannya, Tuhan tidak akan senang dengan pada saya. Ketika saya sungguh mengerti bahwa tujuan utama saya adalah merasakan dan mengalami kegembiraan, saya mulai hanya melakukan hal-hal yang mendatangkan kegembiraan bagi saya. Saya mempunyai peribahasa: “jika tidak menggembirakan, jangan lakukan!.” Filsafat ini amat berbahaya karena, tujuan hidup manusia telah beralih dari memuliakan Allah “dan” atau “dengan” (menurut John Piper) menikmati Dia selamanya menjadi berpusat pada kegembiraan diri sendiri. Jika peribahasa Jack Canfiel tersebut berlaku universal, maka jika seorang Kristen merasa berat hati sebelum ia memberi persembahan, sebaiknya ia membatalkannya; dan jika Yesus bersedih hati sebelum penyaliban, mestinya Ia tidak usah mau mati disalib, karena itu tidak menggembirakan.

[57] Dalam pengamatan penulis, banyak orang Kristen yang terpengaruh The Secret, A New Earth atau menerapkan praktik-praktik New Age seperti Yoga (yang merupakan jalan menuju kesatuan dengan Brahman dalam Hinduisme) tetapi tidak percaya pada pantheisme. Mereka hanya ingin cepat kaya, sehat dan sukses atau memperoleh ketenangan psikologis di dunia yang serba cepat dan penuh stress. Orang-orang ini adalah pragmatis tulen yang tidak peduli pada filosofi dibalik TS dan A New Earth maupun buku-buku New Age lainnya. Pragmatisme ini di dalam dirinya sendiri adalah salah dan lebih dari itu juga membuka kesempatan lebar bagi orang-orang demikian untuk secara tak sadar bergeser dari Kekristenan sejati (theisme-trinitarian) menuju pantheisme.

[58] Lih. Mcgrath, Intellectuals Don’t, hlm. 183.

[59] Deepak Chopra adalah penulis New Age yang amat produktif. Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah 7 Hukum Spiritual Yoga: Panduan Praktis Menuju Pemulihan Raga, Pikiran dan Jiwa (terj. Indonesia, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2008).

[60] Beberapa wacana di internet bahkan mengatakan bahwa Oprah hanya berpura-pura tidak tahu bahwa dirinya adalah penganut New Age. Penulis sendiri menduga bahwa Oprah bukan orang yang bodoh untuk tidak tahu bahwa tamu-tamunya dan buku-buku yang dipopulerkannya adalah bagian dari GZB. Tetapi demi menghindari konfrontasi yang terbuka tentunya seorang entertainer harus bermain aman dan cantik, walaupun pada situasi tertentu harus menyatakan siapa dirinya (Lihat lagi kalimat-kalimat Oprah yang disertai catatan kaki no 2 dalam artikel ini).

[61] Bdk. Groothuis, Membuka Topeng, hlm. 290.

[62] Lih. “The Pastor As an Apologist” dalam Is Your Church Ready (diedit oleh Ravi Zacharias dan Norman L. Geisler; Grand Rapids: Zondervan, 2003), hlm. 22. 

[63] Dalam beberapa kesempatan, penulis merasa sedih ketika mendengar orang Kristen hanya bisa berkata bahwa buku The Secret dan Oprah Winfrey termasuk New Age dan kemudian menuduh mereka yang membaca atau menyaksikannya sebagai sesat. “Hati-hati nanti kamu sesat” adalah kalimat yang sering kali tidak persuasif dan hanya bersifat menghakimi bagi banyak orang. Jauh lebih baik untuk dengan tenang mengajak mereka yang menyukai ajaran New Age agar masuk dalam diskusi rasional dan menunjukkan letak kesalahannya daripada hanya berkata “itu sesat.” Walaupun demikian dalam sebuah khotbah apologetik yang memiliki waktu terbatas tentu saja proklamasi kebenaran yang dikontraskan dengan kesalahan sebuah wawasan dunia yang sedang berkembang dapat dilakukan dan tidak selalu harus menguraikan secara rinci ajaran sesat tersebut.

"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita." 
(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)





0 comments :

Post a Comment

Sila Berikan Komen ATAU Sumbangan Artikel/Bahan Anda:-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...