17 October 2010
FENOMENA BUKU THE SECRET, A NEW EARTH, DAN SPIRITUALITAS ALA OPRAH WINFREY: BAGAIMANAKAH GEREJA MENYIKAPINYA?
FENOMENA BUKU THE SECRET, A NEW EARTH, DAN SPIRITUALITAS ALA OPRAH WINFREY: BAGAIMANAKAH GEREJA MENYIKAPINYA?
oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.
PENDAHULUAN
Oprah Winfrey memang sosok yang fenomenal. Dari seorang ratu talk show yang menyentuh hati, akhir-akhir ini ia mulai dinobatkan sebagai nabiah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement).[1] Citranya memang sedang bergeser, dari pembawa acara terpopuler menjadi sosok kontroversial karena pernyataan-pernyatannya yang dianggap menyerang keunikan iman Kristen. Ketik saja namanya di Youtube atau Google Search, Anda akan menemukan banyak pujian dan kritik tertuju padanya, secara khusus dari kalangan Kristen. Sebuah website apologetika Kristen menuturkannya demikian:
Oprah Winfrey, yang mengklaim sebagai orang Kristen, telah semakin aktif dalam mempromosikan theologi New Age (misalnya, Ia berkata ’Saya percaya Allah ada di dalam segala sesuatu’) dan menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Misalnya, ia berkata ’Salah satu kesalahan yang dibuat manusia adalah percaya bahwa hanya ada satu jalan…ada banyak jalan menuju pada apa yang Anda sebut sebagai Allah’. Di kesempatan lain ia berkata, ’saya adalah orang Kristen yang percaya penuh bahwa ada banyak jalan menuju pada Allah selain dari Kekristenan’).[2]
Tampaknya tuduhan penyebaran ajaran New Age terhadap Oprah bukanlah tanpa dasar. Dukungan Oprah terhadap Gerakan Zaman Baru (selanjutnya disingkat GZB) atau New Age Movement (selanjutnya disebut New Age) memang semakin tercium ketika ia turut mempopulerkan buku/film The Secret karya Rhonda Byrne pada tahun 2007 dan A New Earth karya Eckhart Tolle pada tahun 2008.[3] Kedua buku ini, disebut-sebut sebagai buku-buku yang mempromosikan sebuah wawasan dunia (worldview) yang bercorak GZB secara umum.
Berkaitan dengan buku The Secret (selanjutnya disingkat TS), tidak diragukan lagi bahwa buku ini telah menjadi “demam” baru dan semacam epidemi dahsyat di dunia termasuk di Indonesia. Buku TS ini bahkan disebut-sebut oleh majalah Newsweek, “could be the fastest-selling book of its kind in the history of publishing.”[4] Dengan dukungan terhadap ajaran TS dari penulis-penulis terkenal seperti Jack Canfield (penulis serial Chicken Soup yang laris di Indonsia bahkan juga di kalangan orang Kristen) dan John Gray (Man Are from Mars…), tidak heran jika di Indonesia sambutan terhadap buku ini juga sangat meluas.[5]
Lebih dahsyat lagi, walaupun popularitas memang tidak selalu sama dengan pengaruh, namun dalam kasus TS, buku ini tampaknya memiliki kedua-duanya. Pengaruh TS bahkan telah dirasakan oleh komunitas Kristen di Indonesia. Betapa tidak? Mulai dari siswa-siswi sekolah menengah sampai profesor, pendeta maupun profesional Kristen, ada yang mempercayainya, mengajarkannya dan mempraktikkan buku TS ini. Tidak heran, di beberapa perusahaan yang dipimpin oleh orang Kristen, pelatihan-pelatihan yang didasari oleh filsafat TS juga merebak. Meraka biasanya berkata, “Benar lho. Setelah mempraktikkan buku ini, hasilnya sungguh nyata.”
Berlainan dengan TS yang terkenal, buku A New Earth karya Tolle tidak atau belum terkenal di Indonesia. Walaupun demikian, dengan dukungan Oprah maka daya tarik dari buku ini telah meluas di dunia bagai sebuah ombak besar. Dilaporkan bahwa lebih dari 2,000,000 orang dari 139 negara berpartisipasi dengan Oprah dan Tolle dalam sebuah live seminar berbasiskan web yang membahas setiap bab dari buku ini.[6] Dengan angka yang bombastis seperti itu tentu saja orang Kristen perlu memberikan penilaian yang kritis tentang ajaran apa yang sedang disebarluaskan oleh buku ini.[7]
Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia. Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca.[8] Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan theologi dalam kedua buku tersebut. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey.
AJARAN THE SECRET
The Secret (TS) bukan sekadar film dan buku biasa. Tidak seperti kebanyakan buku self-help dan motivasional yang berfokus untuk memperlengkapi Anda dalam mencapai kesuksesan atau kebahagiaan, buku ini menawarkan suatu kerangka berpikir yang cukup lengkap tentang segala sesuatu. Anda dapat menemukan konsep tentang kehidupan, uang, relasi, dan kesehatan tetapi juga konsep-konsep tentang siapakah Allah, manusia, dan tujuan hidup manusia di dunia. Bukankah itu menarik?
The Law of Attraction
Mayoritas pembaca atau mereka yang menyaksikan film TS berpikir bahwa Hukum tarik-menarik adalah inti sari dari film/buku TS.[9] Rahasia yang menjadi judul dari buku ini adalah keberadaan hukum tarik-menarik dalam kehidupan. Rahasia ini dikatakan telah dipahami oleh semua orang besar dan hebat pada masa lalu namun telah tersembunyi bagi kita. Sekarang buku TS berusaha mengungkapkannya kepada manusia yang hidup di zaman ini.
Dalam menjelaskan rahasia ini, TS menyatakan, “Rahasia besar dalam kehidupan adalah hukum tarik-menarik” dan bahwa, “Pikiran yang sedang Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup Anda” [10]
Berikutnya, dalam rangkuman bab penyederhanaan rahasia, TS menegaskan bahwa, “Hukum tarik-menarik adalah hukum alam. Hukum ini sama pentingnya dengan hukum gravitasi.” Selanjutnya, ia menegaskan, “Tidak ada yang muncul ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melalui pikiran yang terus menerus” [11]
Bagaimanakah cara menggunakan rahasia ini secara praktis? Rhonda dengan cekatan menunjukkan langkah-langkah untuk menciptakan segala sesuatu yang Anda inginkan. Ia berkata, “Seperti Jin-nya Aladin, hukum tarik menarik menjamin pemenuhan setiap permintaan kita.”[12] dan “Proses penciptaan membantu Anda menciptakan apa yang Anda inginkan dalam tiga langkah sederhana: meminta, percaya dan menerima.”[13]
Selanjutnya, alih-alih mendorong kita untuk berdoa kepada Tuhan, buku TS mendorong kita untuk meminta kepada “semesta.” TS berkata, “Meminta apa yang Anda inginkan kepada Semesta adalah kesempatan menjelaskan apa yang Anda inginkan kepada diri sendiri. Ketika permintaan itu menjadi jelas di benak Anda, Anda sudah memintanya.” Sebagaimana akan kita lihat nanti, konsep “semesta” ini sama sekali tidak mengacu pada Tuhan yang berpribadi dan berkehendak dalam konsep Kristen melainkan mengacu pada energi.
Jadi, buku TS sangat menekankan pentingnya pikiran yang terfokus pada keinginan Anda, proses visualisasi dari keinginan itu dan akhirnya Anda akan mengalaminya sebagai kenyataan hidup. Apakah hal itu pasti? Tentu saja, karena hukum ini bekerja seperti hukum alam. Tanpa perkecualian! Dijamin! Demikianlah keyakinan buku ini.
Rahasia Uang, Relasi, dan Kesehatan
Jadi, senada dengan buku-buku positive thinking lainnya, TS percaya bahwa pikiran yang positif menarik hal positif, pikiran yang negatif menarik hal negatif. Hal ini berlaku dalam semua bidang kehidupan termasuk uang, relasi dan kesehatan.
Jika memang rahasianya semudah itu, mengapa banyak orang yang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan? Dengan mantap Rhonda Byrne berkata, “Satu-satunya sebab mengapa orang tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah karena mereka lebih memikirkan apa yang tidak mereka inginkan daripada apa yang mereka inginkan.”[14]
Praktisnya, rahasia menuju kekayaan adalah memikirkan kekayaan. Rhonda berkata, “Ubahlah keseimbangan pikiran ke arah kekayaan. Pikirkan kekayaan.”[15] Dalam menyatakan hal ini, Rhonda tampaknya juga mengantisipasi antipati yang dapat muncul dari sekelompok orang Kristen. Ia berkata,
Bila Anda dibesarkan dengan kepercayaan bahwa kekayaan tidak spiritual, saya menganjurkan Anda membaca buku The Millonaries of The Bible Series tulisan Catherine Ponder. Dalam buku berseri yang bagus ini Anda akan menemukan Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, dan Yesus bukan saja guru yang makmur, tetapi juga jutawan, dengan gaya hidup yang lebih mewah daripada yang bisa dibayangkan jutawan yang hidup di masa kini[16]
Lebih lanjut ia mengajarkan bahwa Anda perlu,
...menggunakan imajinasi dan berpura-pura Anda sudah memiliki uang yang Anda butuhkan. Lakukan permainan seakan-akan Anda sudah memiliki kekayaan itu, dan Anda akan merasa lebih baik tentang uang. Ketika Anda merasa lebih baik tentang uang, lebih banyak uang akan mengalir ke dalam hidup Anda[17]
Selanjutnya, rahasia untuk memiliki relasi yang baik dan berhasil juga amat mudah. Oleh karena pikiran kita harus selalu positif, maka “Perlakukan diri dengan cinta dan hormat, maka Anda akan menarik orang-orang yang menunjukkan cinta dan hormat kepada Anda.”
Sebaliknya, “Ketika Anda merasa buruk terhadap diri sendiri, Anda akan menghalangi cinta, dan Anda akan menarik lebih banyak orang dan situasi yang akan terus membuat Anda merasa buruk terhadap diri sendiri”[18]
Bagaimana dengan kesehatan? Prinsipnya selalu sama. Jika ingin sehat ya jangan pikirkan penyakit. Buku ini bahkan berkata: “Jangan mendengarkan pesan-pesan masyarakat tentang penyakit dan penuaan. Pesan-pesan yang negatif tidak berguna bagi Anda..”[19] Jadi, cara menjadi sehat tentu dimulai dengan pikiran bahwa ”saya sehat.” Hal ini penting karena,
Penyakit ditahan oleh tubuh oleh pikiran, oleh pengamatan penyakit, dan oleh perhatian yang diberikan kepada penyakit. Jika Anda merasa agak tidak enak badan, jangan membicarakannya-kecuali jika Anda menginginkan lebih banyak keadaan tidak enak....[20]
Akar Religius The Secret: Monisme dan Pantheisme
Buku TS menjadi semakin menarik karena para pendukungnya datang dari berbagai bidang keahlian dan mendatangkan kesan seolah-olah didukung oleh berbagai disiplin ilmu termasuk theologi Kristen. Ada ahli fisika kuantum, pembicara motivasional, tokoh spiritualitas, bahkan beberapa kutipan Alkitab seperti Matius 21:22 di dalam buku TS. Tetapi, lebih dari sekadar menawarkan cara hidup sukses, buku TS juga berbicara tentang Rahasia Anda dan Rahasia Kehidupan. Dua rahasia ini adalah dua bab terakhir dalam buku TS yang berbicara filsafat atau akar-akar religius buku TS.
Dalam bab “Rahasia Anda”, secara eksplisit buku ini mengajarkan monisme, paham yang percaya bahwa semua realitas adalah “satu.” TS berkata, “Kita semua terhubung, dan kita semua adalah Satu.”[21] Selanjutnya, untuk menjelaskan kesatuan ini, ia berkata,
Kita adalah Satu. Kita semua terhubung, dan kita semua adalah bagian dari Satu ladang Energi, dan Satu Akal Mahatinggi, atau Satu Kesadaran, atau Satu Sumber Kreatif. Sebutlah dengan sebutan apa pun, tetapi kita semua adalah Satu.[22]
Lebih jauh lagi, TS mengajarkan bahwa bukan hanya kita semua adalah Satu (monisme), tetapi melangkah lebih jauh bahwa yang “satu” itu adalah ”Tuhan” (pantheisme). Rhonda berkata, “Pasokan yang sesungguhnya adalah satu ladang yang tidak kasatmata, terlepas dari apakah Anda menyebutnya sebagai Semesta, Akal Mahatinggi, Tuhan, Intelegensi Tak Terbatas, atau apa pun.” [23] Selanjutnya, ia menjelaskan:
Anda adalah Tuhan dalam sebuah tubuh fisik. Anda adalah Spirit dalam daging. Anda adalah Kehidupan Abadi yang mengungkapkan diri sebagai ANDA. Anda adalah makhluk jagat raya. Anda adalah kesempurnaan. Anda adalah keluarbiasaan. Anda adalah pencipta, dan Anda menciptakan penciptaan ANDA di planet ini.[24]
Jadi, pada hakikat terdalam, manusia adalah Tuhan atau energi atau Intelegensi Tak Terbatas. Tidaklah mengherankan jika rahasia ini benar, maka manusia bisa meraih apa pun yang dia inginkan, entah kekayaan, relasi maupun kesehatan sempurna karena ia sendiri sempurna. Kesempurnaan manusia ini dijelaskan ketika TS menjelaskan posisi antropologinya:
Kebenaran mutlak adalah bahwa ‘Saya’ sempurna dan utuh; ‘Saya’ yang sesungguhnya adalah spiritual, dan karenanya tidak bisa kurang dari sempurna; ia tidak bisa memiliki kekurangan, keterbatasan, atau penyakit. [25]
Ketika kita membaca pernyataan-pernyataan seperti itu, tidak ada keraguan sama sekali bahwa penulisnya percaya bahwa Tuhan dan manusia serta alam semesta memiliki hakikat yang sama pada hakikat terdalamnya. Ini adalah sebuah paham yang dikenal sebagai pantheisme.
Sesuai namanya, pantheisme adalah paham yang percaya bahwa semua (pan) adalah Allah (theos) atau “God is All and All is God.” Ini adalah ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen (Teisme) yang percaya pada Allah yang menciptakan segala sesuatu (God made all) atau atheisme yang percaya tidak ada Allah sama sekali (No God at all).[26] Pantheisme sejati percaya bahwa, Anda adalah Allah, tikus adalah Allah, bahkan kertas adalah Allah (God is all). Mengapa demikian? Karena semua pada hakekatnya adalah satu kesatuan. Allah adalah satu kesatuan yang meliputi semua hal. Jadi, alam semesta dan manusia adalah satu yaitu Allah, dan sebaliknya juga.
Selanjutnya, untuk dapat mengenal lebih jauh tentang spiritualitas macam apa yang sedang dipromosikan Oprah, kita akan menyorot buku A New Earth yang banyak dipuji-puji Oprah dalam talk show dan web site miliknya.
AJARAN A NEW EARTH
Setelah tahun 2007 Oprah mendukung The Secret maka tahun 2008 ia dengan getol mempromosikan A New Earth karya Tolle. [27] Sesuai dengan fokus kita, maka kita hanya akan melihat konsep realitas tertinggi (Allah) dalam kaitannya dengan alam semesta dan manusia sebagaimana diajarkan oleh A New Earth.
Monisme dan Pantheisme dalam A New Earth
Menurut Tolle, semesta material saat ini hanyalah manifestasi sementara dari kesadaran spiritual yang bersifat universal atau yang biasa disebut “Allah” dalam konsep agama-agama. Kesadaran spiritual universal ini juga bisa disebut sebagai “Life Force.” Jika kita membaca karya Tolle, maka kita menangkap kesan kuat bahwa “Life Force” atau “Allah” dalam konsep Tolle ini lebih bersifat tidak berpribadi (impersonal) atau sedikitnya non-personal daripada berpribadi (personal). Realitas tertinggi ini lebih layak disebut “It” daripada “He” atau “She.”[28] Hal ini tentu saja pararel dengan ajaran TS bahwa segala sesuatu adalah “energi.” Selanjutnya, Allah dalam konsep Tolle adalah keberadaan yang memanifestasikan diri dalam semua benda dan makhluk hidup (bukan menciptakan). Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Tolle berkata:
Setiap hal memiliki Keberadaan, sebuah bentuk sementara yang memiliki sumber di dalam satu Kehidupan yang tak berbentuk, sumber dari segala sesuatu, semua tubuh, semua bentuk. Pada hampir semua kebudayaan kuno, orang-orang percaya bahwa segala sesuatu, bahkan apa yang disebut sebagai benda mati, memiliki roh yang mendiaminya, dan dalam kaitan dengan ini, mereka lebih dekat pada kebenaran daripada kita yang hidup di masa kini.[29]
Orang-orang Kristen yang mengagumi Oprah Winfrey mungkin akan terkejut ketika mengetahui Oprah mengagumi dan mempromosikan sebuah tulisan yang berusaha mengembalikan kita kepada kepercayaan mistik kuno yang tercermin dalam kalimat Tolle di bawah ini:
Sejak zaman dahulu kala, bunga-bunga, kristal-kristal, batu-batu berharga dan burung-burung telah memiliki signifikansi khusus bagi roh manusia. Seperti halnya semua bentuk kehidupan, hal-hal itu, tentu saja merupakan manifestasi sementara dari esensi Kehidupan, satu Kesadaran.[30]
Ajaran monisme dan sekaligus pantheisme Tolle juga tercermin secara jelas dalam kata-katanya sendiri:
Di dasar permukaan dari hal-hal yang tampak, segala sesuatu bukan hanya saling terkait satu sama lain, tetapi juga dengan Sumber dari semua kehidupan, yang dari dalamnya semua muncul. Bahkan sebuah batu, dan lebih mudah lagi sebuah bunga atau burung dapat menunjukkan kepadamu jalan menuju pada Allah, kepada sang Sumber, kepada dirimu sendiri..[31]
Dalam kalimat di atas, Tolle menegaskan bahwa segala sesuatu “terkait satu sama lain” yang adalah ekspresi implisit dari “semua adalah satu.” Perhatikan pula bahwa dalam kalimat di atas kata, “Allah”, “sang Sumber”, dan “dirimu sendiri” mengacu pada sesuatu yang sama. Allah adalah diri kita sendiri, diri kita sendiri adalah Allah.
Manusia Menurut A New Earth
Siapakah manusia sebenarnya? Tolle menjelaskannya di bawah judul Beyond Ego: Your True Identity. Menurutnya, manusia tidaklah identik dengan pengalamannya, pemikirannya, perasaannya karena semua itu bukanlah siapa Anda yang sesungguhnya. Anda tidak dapat menemukan diri Anda dalam hal-hal tersebut karena semua itu akan berlalu.
Selanjutnya Tolle percaya bahwa Buddha mungkin adalah orang yang pertama kali mengalami realisasi spiritual dan mengetahui bahwa manusia pada dasarnya bukan “I” atau “aku: karena “aku” yang sebenarnya tidak ada. Ajaran ini diajarkan sebagai doktrin anatta (no self) yang menjadi salah satu ajaran utama Buddha. Lebih lanjut, Tolle menafsirkan bahwa ketika Yesus mengajarkan “menyangkal diri” hal ini berarti melepaskan ilusi tentang eksistensi diri. Jadi, diri kita yang sebenarnya sama sekali tidak terikat dengan perasaan, pengalaman, pikiran yang tampak dan termanifestasi di dalam dunia sehari-hari.[32]
Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menurut Tolle, diri kita yang sebenarnya terlepas dari semua unsur-unsur pribadi (person) seperti pikiran, perasaan dan kehendak. Pada hakikat terdalamnya manusia bersifat “impersonal” atau paling tidak non-personal karena keberadaan tertinggi yang merupakan the real “I” tersebut juga impersonal atau non-personal. Kita adalah satu dengan Keberadaan Kehidupan tersebut. Perhatikan kata-kata Tolle:
The only thing that ultimately matters is this: Can I sense my essential Beingness, the I Am, in the background of my life at all times? To be more accurate, can I sense the I Am that I Am at this moment? Can I sense my essential identity as consciousness itself? Or am I losing myself in what happens, losing myself in the mind, in the world?[33]
Jikalau hakikat manusia yang terdalam adalah sama dengan Allah karena manusia adalah manifestasi dari Allah itu sendiri, mengapa manusia tidak menyadarinya? Jawaban Tolle adalah karena kondisi normal dari pikiran manusia berada dalam keadaan disfungsi. Semua manusia mengalami disfungsi dalam pikirannya. Keadaan ini disebut secara berbeda-beda oleh masing-masing agama. Misalnya, dalam Hindu hal ini disebut maya, dalam Buddha, dukka dan dalam Kristen, dosa asal..[34]
Jadi, agama-agama yang berbeda sebenarnya mengacu pada hal yang sama ketika berbicara dengan istilah yang berbeda-beda tentang kondisi manusia yang sedang dalam masalah. Dengan ini pula usaha untuk menyamakan inti ajaran dari semua agama menjadi nampak dalam buku A New Earth.
TINJAUAN KRITIS ATAS THE SECRET DAN A NEW EARTH
Sebelum memberikan evaluasi kritis terhadap TS dan A New Earth, berikut ini akan diberikan sebuah perbandingan, antara apa yang diajarkan TS dan A New Earth (keduanya merupakan buku “spiritual ”yang dipromosikan Oprah Winfrey) dengan ajaran Alkitab mengenai realitas tertinggi dan manusia:
Oprah Winfrey mempopulerkan:
The Secret
(tahun 2007) A New Earth (tahun 2008) Alkitab
Realitas tertinggi Semesta (Universe) yg tidak berpribadi yang disebut-sebut sebagai Satu Ladang Energi, dan Satu Akal Mahatinggi, atau Satu Kesadaran, atau Satu Sumber Kreatif. Kekuatan Kehidupan yang bersifat Universal
(Universal Life Force)
Allah yg berpribadi. Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) yang memiliki pikiran
(1Yoh. 3:20), perasaan (Yes. 63:10), kehendak (Mat. 3:15).
Manusia Manusia adalah Tuhan dalam sebuah tubuh fisik. Manusia adalah pencipta dan bersifat sempurna, abadi. Pendeknya, manusia sehakekat dengan Tuhan hanya saja tidak menyadari RAHASIA ini. Buku The Secret berusaha menyadarkan manusia tentang siapa mereka sesungguhnya. Manusia adalah Allah tetapi tercemar akibat ego. Pencemaran ini disebut secara berbeda-beda oleh masing-masing agama, namun hakekatnya sama saja. Misalnya, dalam Hindu disebut maya; dalam Buddha disebut dukka; dalam Kristen, dosa asal.
Ciptaan Tuhan dalam gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26-27). Manusia tidak sempurna (Rm. 3:23) dan tidak abadi atau memiliki permulaan (Kej. 1:1)
The Secret, A New Earth, dan Gerakan Zaman Baru
Buku The Secret dan A New Earth dalam wacana apologetika Kristen sering kali disebut sebagai bagian Gerakan Zaman Baru.
Gerakan Zaman Baru itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah fenomena yang meluas di dunia Barat (walaupun sekarang jelas telah merambah Indonesia).[35] Salah satu tonggak sejarah dari GZB terjadi ketika Swami Vivekananda (seorang guru spiritual India) berceramah di World Parliament of Religions pada tahun 1893 dan setelah itu banyak diundang untuk berbicara di universitas-universitas dan kolese-kolese di Amerika. Di dalam ceramahnya ia menyarankan sebuah “persetujuan bilateral.” Ia mengamati bahwa Barat unggul dalam studi tentang “materi” (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan Timur unggul dalam studi tentang “spiritualitas.” “Marilah kita saling bertukar keahlian” demikian katanya. Dalam banyak cara, ia kelihatannya telah menjadi perintis dalam meletakkan Hinduisme ke dalam peta dunia dan sekarang guru-guru India sedang menggenapi visi tersebut. [36] Jadi beberapa aspek ajaran GZB yang penting mungkin “baru” bagi dunia Barat yang sudah lama didominasi Kekristenan namun sebenarnya “lama” di dunia Timur khususnya India dan Cina..
Melihat ciri-ciri ajaran dari The Secret dan A New Earth yang telah kita bahas sebelumnya, memang kita bisa cukup yakin untuk menyimpulkan bahwa keduanya memiliki ciri-ciri yang sama dengan buku/film, praktik-praktik lain yang tergolong Gerakan Zaman Baru (GZB).
Terdapat beberapa kesamaan ajaran dari para penganut GZB walaupun pada dasarnya mereka bukanlah sebuah kepercayaan yang monolitik atau seragam. Sebagaimana dijelaskan oleh Douglas R. Groothuis, GZB memiliki sedikitnya enam ajaran penting yaitu: 1. Semua adalah satu; 2. Semua adalah Allah; 3. Kemanusiaan adalah Allah; 4. Perubahan kesadaran; 5. Semua agama adalah satu; 6. Optimisme evolusi kosmis.[37]
Penting untuk diperhatikan bahwa paham monisme (Semua adalah Satu) dan pantheisme (Semua adalah Allah) diletakkan sebagai dua ajaran yang disebutkan paling awal oleh Groothuis tentang GZB. Hal ini sebenarnya mencerminkan sebuah urutan logis bahwa monisme dan pantheisme termasuk fondasi bagi kepercayaan GZB yang lainnya.
Dalam kesamaan ciri-ciri dengan GZB, sedikitnya TS dan A New Earth yang didukung Oprah Winfrey mempromosikan pandangan yang merupakan variasi dari monisme dan secara khusus pantheisme.[38] Oleh karena itu, orang-orang Kristen perlu lebih jauh memberikan suatu penilaian kritis terhadap kedua buku yang sedang meraih popularitas tersebut.
Kritik Terhadap Monisme (Semua adalah Satu) dalam TS dan A New Earth
Dalam filsafat GZB sebagaimana tercermin dalam TS dan A New Earth, monisme adalah fondasi bagi kepercayaan GZB berikutnya. Monisme berasal dari kata “mono” yang berarti “satu.” Jadi, monisme adalah suatu kepercayaan bahwa semua yang ada adalah satu. Pada puncaknya, tidak ada lagi perbedaan antara Allah, manusia, wortel atau sebuah batu karang.[39] Hal ini berarti manusia dan batu sebenarnya tidak berbeda secara jenis namun hanya berbeda secara derajat dalam memanifestasikan realitas tertinggi atau “Allah.” Filsafat ini memiliki akarnya dalam pemikiran Hindu, Buddha di Timur maupun pemikiran filsuf Yunani Parmenides di Barat.[40]
Dalam pemikiran Hinduisme, monisme ini juga menjadi dasar bagi praktik vegetarian dan tanpa kekerasan (non-violence). Jika makhluk hidup (khususnya binatang) pada hakekatnya adalah sama dengan kita, maka tentu kita tidak boleh menyakitinya apalagi memakannya.[41]
Konsep monisme di atas tentu saja berbeda secara radikal dengan konsep Alkitab tentang realitas. Dalam perspektif wawasan dunia Kristen kita percaya bahwa ciptaan Allah meliputi banyak hal yang berbeda-beda. Enam hari penciptaan menunjukkan pada kita bahwa Allah memisahkan terang dan gelap, siang dari malam, bumi dari langit, tanah kering dari lautan, tumbuhan dari hewan, dan tentunya manusia berbeda dari semuanya itu karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.[42] Alkitab secara jelas menolak usaha untuk menghapuskan pluralitas dan hanya mengunggulkan kesatuan dari dunia.
Jadi, dalam usaha untuk menjelaskan realitas dunia, monisme berusaha untuk melihat dunia ini dengan segala isinya (misalnya: manusia, binatang, tumbuhan, benda mati) sebagai suatu kesatuan atau “One” daripada “Many.” Hal ini amat berbeda dengan Kekristenan yang memiliki perspektif seimbang bahwa dunia ini adalah “One” sekaligus “Many.” Perspektif Kristen ini memiliki fondasinya yang kokoh dalam diri sang Pencipta yaitu Allah Tritunggal yang menjadi fondasi bagi adanya “One” sekaligus “Many” dalam dunia ciptaan. Sederhananya, dunia ini memang penuh dengan keanekaragaman benda mati, makhluk hidup (tumbuhan, binatang yang beraneka ragam), manusia, bintang-bintang, galaksi-galaksi namun semuanya itu adalah satu kesatuan ciptaan Allah yang memancarkan kemuliaan-Nya (bdk. Mzm. 119:1-7). Bukahkan “One” dan “Many” yang tercermin dalam ciptaan atau semesta ini merefleksikan penciptanya yaitu Allah Tritunggal yang memang “One” dalam esensi dan “Many” tepatnya “Tiga” dalam pribadi-Nya sendiri.
Jadi, monisme bersalah dalam hal mengorbankan “Many” di atas altar “One” dalam melihat realitas dunia ini.
Kritik Terhadap Pantheisme dalam TS dan A New Earth
Pantheisme sebenarnya adalah monisme yang selangkah lebih maju. Jika dalam monisme orang percaya bahwa semua hal meliputi apa pun di dunia ini adalah “Satu” maka dalam pantheisme ditegaskan bahwa yang “Satu” itu adalah “Allah.” Jadi, pantheisme percaya bahwa semua adalah Allah dan Allah adalah semua. Dalam kepercayaan ini, Allah menyebar ke dalam semua hal, mencakup semua hal, meliputi semua hal dan ditemukan di dalam semua hal. Dalam konsep ini, dunia adalah Allah dan Allah adalah dunia. Tidak ada yang bukan Allah di dunia ini.
Pantheisme memiliki sejarah panjang di Timur dan di Barat mulai dari mistisisme Hindu[43] sampai rasionalisme yang dicetuskan Parmenides, Benedict de Spinoza, dan G. W.. F. Hegel. Tetapi akhir-akhir ini pantheisme memang semakin populer di dunia barat. Pada satu masa, grup musik The Beatles dipengaruhi secara kuat oleh Transcendental Meditation dari Maharishi Mahesh Yogi dan kemudian oleh Gerakan Hare Krishna dari A. C. Bhaktivedanta, yang mengajarkan pemikiran panteistik juga di dalamnya. Film seperti Star Wars dan ajaran dari para individu seperti Alan Watts, D. T. Suzuki, dan Sarvepail Radhakrishnan dari India juga telah menambah pengaruh pantheisme terhadap masyarakat barat dewasa ini..Pengaruh dari pantheisme bahkan telah merambah dunia ekologi dengan dimunculkan ekoteologi yang panteistik dan percaya bahwa “semesta adalah Allah” sehingga tentu saja kita tidak boleh merusak atau mengeksploitasi semesta.[44]
Sebelum memberikan kritik terhadap pantheisme, mungkin berguna bagi kita untuk melihat analisa dari Nancy Pearcey tentang pantheisme melalu kerangka berpikir penciptaan (creation), kejatuhan (fall), penebusan (redemption) untuk menganalisa sebuah wawasan dunia. Dalam kaitan dengan penciptaan maka atas pertanyaan, “Apakah realitas tertinggi, asal mula dari segala sesuatu dalam pantheisme Zaman Baru?” jawaban dari pantheisme adalah “Yang Mutlak, yang Satu, Sebuah Esensi Spiritual Universal.” Selanjutnya berkaitan dengan kejatuhan atau pertanyaan “Apakah sumber dari kejahatan dan penderitaan?” maka jawaban dari pantheisme adalah “perasaan/pikiran tentang individualitas kita.” Terakhir berkaitan dengan penebusan, maka atas pertanyaan ”Bagaimana pantheisme memberitahukan kita jalan untuk menyelesaikan masalah kejahatan dan penderitaan?” maka jawaban yang diberikan penganut pantheisme adalah “Dengan menjadi satu kembali dengan Esensi Spritual Universal yang darinya kita semua muncul.”[45]
Beberapa kritik dapat kita berikan kepada pantheisme sebagai paham populer yang juga melandasi pemikiran TS dan A New Earth yang didukung Oprah.
Pertama, kritik positif. Pantheisme berusaha untuk menjelaskan semua realitas dan bukan hanya sebagian realitas. Bukankah dunia ini kita sebut uni-verse dan bukan multi-verse? Hal ini berarti bahwa segala realitas harus diusahakan untuk dilihat sebagai sebuah kesatuan. Dalam usaha ini, pantheisme menyatakan bahwa Allah dan dunia ini saling kait mengait dan bukan terpisah sama sekali. Ini adalah kontribusi positif dari pantheisme.[46] Disebut kontribusi positif bukan karena pantheisme menyatakan kebenaran tetapi karena pantheisme mencerminkan sebuah usaha yang positif untuk melihat dunia dari semacam “big picture” dan bukan hanya parsial.
Kedua, kritik negatif. Dalam bagian ini ada beberapa kritik yang dapat kita berikan terhadap pantheisme baik secara biblikal-theologis maupun filosofis.
Kritik Biblikal-Theologis Terhadap Pantheisme
Ada beberapa kritik yang dapat kita berikan terhadap pantheisme dari sudut pandang Alkitab dan theologi Kristen (Injili).
Pertama, konsep pantheisme tentang asal muasal segala sesuatu (origin) jelas bertentangan dengan wahyu Allah dalam Alkitab tentang penciptaan. Dalam Kejadian 1 amat jelas bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Konsep Alkitab ini dipahami oleh para theolog sebagai “creatio ex nihilo” atau penciptaan dari kekosongan. Hal ini bertentangan dengan konsep pantheisme yang percaya “creatio ex Deo” atau penciptaan yang keluar dari Allah.[47] Dalam konsep Alkitab terdapat dualitas antara Allah dan alam semesta termasuk manusia. Allah berbeda dengan alam semesta dan manusia secara kualitas jenis dan bukan hanya derajat.
Kedua, pantheisme tampaknya adalah sebuah gema kuno dari godaan ular terhadap Hawa yang berkata, “...Engkau akan menjadi seperti Allah” (Kej. 3:4-5). Dalam pantheisme dan implikasinya, manusia disamakan dengan Allah pada hakikat terdalamnya. Hal ini tentu amat bertentangan dengan penjelasan Alkitab yang menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27) namun tetap berada di bawah Allah.
Ketiga, secara theologis, Allah dalam Alkitab adalah Allah yang transenden, berbeda dengan ciptaan, namun juga imanen, hadir dalam ciptaan-Nya. Keseimbangan antara transendensi dan imanensi Allah ini begitu penting sehingga penekanan yang berlebihan pada salah satu akan menghasilkan ajaran yang menyimpang.[48] Dalam kaitan dengan pantheisme jelaslah bahwa ajaran ini mengorbankan transendensi Allah di atas altar imanensi.[49]
Kritik Filosofis terhadap Pantheisme
Pantheisme percaya bahwa “dunia adalah Allah” dan implikasinya “saya adalah Allah” memiliki masalah yang besar secara filosofis.
Pertama, pantheisme yang tercermin dalam buku TS dan A New Earth berusaha untuk mengatakan bahwa sebenarnya manusia hidup dalam ilusi atau ketidaktahuan, semacam “amnesia” metafisik. Oleh karena itulah buku The Secret ingin membuka rahasia itu kepada kita, sebuah rahasia bahwa “Anda adalah kehidupan abadi. Anda adalah Tuhan yang mewujud dalam bentuk manusia, dibuat untuk kesempurnaan.”[50] Demikian pula, A New Earth menyatakan bahwa semua manusia terkena disfungsi pikiran yang perlu disadarkan lagi akan hakikat terdalam kita yang adalah “Satu” dengan “Universal Life Force” atau “Allah” dalam konsep Kekristenan.
Jikalau benar klaim dari buku-buku tersebut bahwa semua manusia mengalami disfungsi pikiran, ilusi atau ketidaktahuan (sehingga perlu membaca Rahasia-The Secret). Bagaimana kita bisa yakin bahwa kaum New Age yang percaya bahwa “kita semua adalah Allah” (pantheisme) juga bukan merupakan sebuah pemikiran dari pikiran yang disfungsional dari Tolle, atau ketidaktahuan yang salah dari Rhonda Byrne serta Oprah Winfrey (yang turut menyetujui dan mempopulerkannya)?
Tentu saja mereka dapat menjawab bahwa pantheisme adalah hasil dari pikiran yang telah tercerahkan. Walaupun demikian, pencerahan itu sendiri adalah sebuah pengalaman subyektif yang tidak dapat dijelaskan secara obyektif. Setiap orang dapat mengklaim sebagai orang yang telah tercerahkan, dan bukankah orang Kristen juga dapat mengatakan bahwa mereka telah “tererahkan” ketika mereka menyadari bahwa Allah adalah pencipta dan asal mula segala sesuatu (creation), kejahatan dan penderitaan adalah akibat pemberontakan manusia terhadap Allah (fall) dan bahwa Allah telah datang ke dunia dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia (redemption). Orang Kristen dapat saja menyebut pemahaman tersebut sebagai sebuah “pencerahan” karena dahulu mereka tidak melihat dunia dalam kacamata demikian dan pada satu momen dalam hidup mereka, dunia dilihat dengan kacamata (atau wawasan dunia) yang baru.
Jadi, pantheisme yang diyakini kaum New Age adalah sebuah subyektifitas pengalaman yang sebenarnya bersifat mistik. Kekristenan di lain pihak percaya pada keyakinan akan konsep creation, fall dan redemption spesifik seperti telah disinggung di atas dan siap untuk diuji secara rasional (rational) maupun pengalaman (experiential).
Kedua, pantheisme percaya bahwa dunia sebagaimana kita lihat melalui kacamata manusia adalah ilusi belaka. Hal ini jelas karena menurut pantheisme versi The Secret maupun A New Earth, manusia pada dasdarnya sering kali hanya melihat perbedaan-perbedaan atas segala hal (misalnya: benda, hewan, manusia) di level permukaan dan gagal melihat hakikat terdalam dari semuanya yang adalah satu “kesatuan” entah itu disebut sebagai energi (The Secret) atau Universal Life Force (A New Earth). Tetapi, jika cara pandang pantheisme yang sebagian sumbernya berakar dari filsafat Hindu ini benar, maka implikasinya sungguh merusak.
Bayangkan saja Anda sedang menyeberang jalan dan berpikir bahwa truk yang sedang berjalan cepat adalah sebuah ilusi. Anda tentu akan mati ditabrak![51] Dalam realitas sehari-hari kita percaya bahwa kita hidup dalam fakta dan bukan ilusi. Jika kita berpikir secara konsisten bahwa semua yang kita lihat ini adalah ilusi maka kekonyolan akan terjadi. Kisah berikut mungkin menolong kita memahaminya.
Pernah suatu kali diceritakan bahwa ada seorang peserta seminar yang bertanya kepada sang pembicara. “Pak, bagaimana saya tahu bahwa ‘saya’ benar-benar ada dan bukan hanya ilusi?” Sang pembicara tersenyum penuh makna dan berkata, “Baiklah, kalau demikian kepada siapakah saya harus menjawab pertanyaan tadi?” Sungguh suatu pukulan telak, karena jawaban itu memaksa orang yang bertanya tersebut untuk menyatakan eksistensinya sekaligus individualitasnya yang berbeda dengan orang-orang lain yang tidak bertanya di ruangan itu.
Selanjutnya, jika eksistensi kita adalah ilusi maka pikiran kita yang merupakan bagian dari eksistensi kita juga adalah ilusi. Jika hal ini benar maka semua pembicaraan tentang ilusi oleh kaum panteis itu sendiri adalah ilusi yang tidak perlu ditanggapi secara serius.[52] Geisler mengungkapkannya dengan jenius:
“Jika pikiran adalah bagian dari ilusi, maka ia tidak dapat menjadi dasar untuk menjelaskan ilusi itu sendiri. Selanjutnya, jika pantheisme itu benar dalam menyatakan bahwa individualitas saya adalah ilusi maka pantheisme adalah salah karena tidak ada dasar untuk menjelaskan ilusi itu sendiri.”[53]
Natur dari pantheisme adalah self-defeating seperti orang Indonesia yang berkata, “I can not speak any word in English” atau seorang suami yang membentak istrinya “Sudah kukatakan kepadamu jutaan kali, jangan pernah membesar-besarkan apa pun” sementara kalimat itu sendiri adalah sesuatu yang dibesar-besarkan.
Implikasi lebih lanjut dari pantheisme yang amat berbahaya adalah di bidang moralitas. Bayangkan, jika Anda percaya bahwa Anda adalah Allah atau Tuhan, maka tentu saja moralitas menjadi subyektif dan relatif tergantung pada diri Anda sendiri.[54] Hal ini nampak jelas ketika buku Rhonda penulis TS berkata, “Apa pun yang Anda pilih untuk ANDA adalah benar”[55] dan Jack Canfield dikutip dalam TS ketika berkata, “…Saya mempunyai peribahasa: “Jika tidak menggembirakan, jangan lakukan!.”[56] Jika ini diterapkan dalam seluruh (bukan sebagian) kehidupan maka yang terjadi tentu saja adalah konflik antara standar moralitas seseorang dengan orang lain. Jika pantheisme benar maka moralitas menjadi subyektif dan tidak ada fondasi untuk mengatakan sesuatu itu baik secara universal karena, bukankah “Allah” itu sendiri terlepas dari dualisme baik dan jahat dalam konsep pantheisme? Demikianlah kita melihat bahwa pantheisme memiliki masalah besar secara filosofis dalam dirinya sendiri.
Metode Apologetika terhadap Penganut GZB
Sebagai sebuah catatan akhir dari kritik terhadap pantheisme, namun mungkin merupakan hal yang terpenting adalah metode apologetika yang kita pergunakan dalam pertemuan dengan penganut pantheisme sejati.[57] Perlu kita sadari bahwa penganut New Age yang percaya pantheisme sering kali tidak percaya pada penalaran logis sebagai alat untuk menguji kebenaran sebuah kepercayaan. Hal ini jelas karena New Age sendiri justru merupakan sebuah reaksi kebosanan atas Kekristenan liberal, rasionalisme dan scientisme yang mengecewakan. Oleh karena itu, dalam pendekatan terhadap penganut pantheisme, mungkin segala kritik filosofis akan menemui kebuntuan karena mereka tidak menganggap logical consistency sebagai sebuah cara untuk menguji sebuah wawasan dunia. Dengan mempertimbangkan konteks demikian maka penulis percaya pada proklamasi Alkitab secara terus terang dalam konteks tertentu serta pendekatan yang kritik yang sifatnya lebih “praktis” dalam berdialog. Alister McGrath memberikan sebuah contoh untuk pendekatan kedua. Misalnya kita bisa bertanya kepada penganut pantheisme demikian: “Jika Anda adalah Allah mengapa Anda begitu tidak bahagia?” atau “Hak istimewa apa yang dimilik oleh seorang allah dibandingkan yang lain?” “Apakah hal ini membuat mereka tidak terkena pemberhentian kerja, atau dari penderitaan dan kesakitan? Dari kematian? Harapan apa yang diberikan (oleh ajaran New Age khususnya pantheisme) dalam menghadapi realitas kekinian dari penderitaan dan peristiwa kematian di masa depan?[58]
REFLEKSI AKHIR
Buku dan film The Secret serta A New Earth adalah sebagian simbol kedigdayaan ajaran GZB di dunia pada masa kini. Ternyata, GZB bukan tambah sekarat tetapi justru mengalami kebangunan rohani dan memperoleh nabi-nabi baru (Selain yang lama seperti Shirley Mclaine, Deepak Chopra,[59] dll). Oprah Winfrey adalah pribadi yang mengaku sebagai seorang Kristen namun theologi serta spiritualitas yang dikembangkannya justru mencerminkan ajaran GZB. Hal ini mendorong kita untuk merenungkan beberapa hal dan mengambil respons spesifik.
Pertama, menjadi seorang Kristen tidaklah sama dengan memiliki wawasan dunia Kristen (Christian Worldview). Oprah adalah contoh mencolok tentang hal ini dan sebenarnya hanya mencerminkan fenomena gunung es. Ia mewakili jutaan orang Kristen yang tidak terbiasa berpikir kristiani dalam kehidupan.[60] Tugas para hamba Tuhanlah untuk memberikan pembinaan yang komprehensif tentang wawasan dunia Kristen terhadap jemaatnya. Pembinaan wawasan dunia Kristen yang berhasil tentu akan menolong jemaat untuk mampu memiliki kepekaan terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang di sekitar kita dan tetap berdiri teguh di atas kebenaran Alkitab atau wawasan dunia Kristen.
Kedua, di samping reputasi Oprah Winfrey yang positif dalam kemurahan hatinya serta kemungkinan beberapa ajarannya yang secara praktis mampu menolong orang banyak, ternyatalah bahwa Oprah yang mendukung TS dan A New Earth telah menyebarkan paham yang sesat dan patut diwaspadai. Bahaya dari ajaran Oprah beserta dengan talk show yang diasuhnya perlu mendapat perhatian gereja karena pertentangannya dengan iman Kristen tidak bersifat eksplisit melainkan implisit. Hal ini dapat membuat banyak orang Kristen tanpa sadar mengadopsi ajaran dan spiritualitas New Age di dalamnya.
Ketiga, gereja perlu memikirkan model-model pelayanan yang strategis dalam mempromosikan wawasan dunia Kristen di tengah perang wawasan dunia yang sedang berlangsung. Jika The Secret begitu indah dalam kemasan bukunya, begitu meyakinkan dalam filmnya, dan ajaran A New Earth begitu mudah diakses oleh dunia melalui live seminar berbasiskan web di internet, hal itu tampaknya menandakan bahwa ‘dunia’ sudah amat maju dalam strateginya untuk menyebarkan filsafat yang palsu. Sebagai orang percaya, kita perlu bangkit untuk bekerja lebih keras dan cerdas dalam memproklamasikan kebenaran yang kita yakini dengan tetap meyakini bahwa Allah bekerja bukan hanya melalui metode tetapi melalui orang-orang yang diurapi-Nya.
Keempat, sebagai orang Kristen kita tidak boleh jatuh pada dua ekstrem. Pertama, bersikap paranoid yaitu terlalu cepat curiga pada setiap orang atau setiap kejadian sebagai sesuatu yang bersifat negatif dan membahayakan kita. Dalam kaitan dengan Gerakan Zaman Baru, kita perlu berhati-hati agar tidak mudah memberikan cap-cap “New Age” kepada semua lagu, pengobatan, film, buku atau orang.[61] Pemberian label “New Age” yang terlalu cepat sering kali tidak menolong orang lain atau maupun diri kita sendiri dan hanya menunjukkan kedangkalan serta ketidakdewasaan. Sebaliknya, ekstrem yang lain adalah ketidakberanian menilai sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab secara tegas. Sikap toleransi yang kebablasan ini memang makin menjamur pada masa kini. Namun demikian, kita harus setia untuk memberitakan kebenaran Alkitab, menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar.
Kelima, ketika melihat banyaknya orang yang tertarik pada spiritualitas New Age seperti yang ditawarkan Oprah Winfrey, mungkin kita bukan hanya perlu memikirkan ulang bobot theologis dan bobot praktis tentunya dari khotbah-khotbah gerejawi masa kini namun juga kehidupan kita sebagai orang Kristen. Mungkin saja orang Kristen telah memiliki theologi dan apologetika yang memadai namun masalahnya telah dirumuskan Ravi Zacharias dengan tepat, “apologetics is often first seen before it is heard.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa sikap dan perbuatan orang Kristen memiliki relevansi yang penting dalam pembelaan iman Kristen dan penginjilan termasuk pada pengikut ajaran New Age yang bisa saja sudah memiliki agama formal termasuk Kristen.[62] Mungkin mereka tidak melihat vitalitas kehidupan Kristen itu begitu indah dan meyakinkan sehingga mereka masih haus akan ajaran-ajaran baru seperti GZB.
Akhirnya, kita dapat mengingat kembali nasihat rasul Petrus ketika ia berkata bahwa pembelaan iman kita haruslah dilakukan dengan “lemah lembut dan hormat” serta disertai dengan “hati nurani yang murni, supaya mereka yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1Ptr. 3:15-16).[63]
Profile Ev. Bedjo Lie:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen tetap Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menamatkan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau juga memiliki sertifikat dalam apologetika Kristen dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India.
Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.
________________________________________
[1] Oprah Winfrey Show adalah talk show dengan penonton paling banyak di dunia yaitu 15-20 juta penonton setiap hari di Amerika melalui 205 pasar televisi dan disaksikan di 132 negara. Sejak permulaannya tahun 1986, show ini telah menerima 32 penghargaan Emmy. Pada tahun 1997, Oprah disebut oleh Newsweek’s sebagai ”Most Important Person” dalam dunia perbukuan dan media, T.V. Guide’s "Television Performer of the Year," the People's Choice Award for "Favorite Television Performer," dan tahun 1996, Time Magazine mengakui Oprah sebagai salah satu dari "25 Orang Paling Berpengaruh" di Amerika. (http://www.wfial.org/index.cfm?fuseaction=artNewAge.article_1)
[2] www.alwaysbeready.com/index6efd.html?option=com_content&task=view&id=143&Itemid=120. Video yang memuat pernyataan Oprah tentang ”banyak jalan menuju Allah” dapat dilihat di http://www.godtube.com/view_video.php?viewkey=41cf28cf8d26640e74f8
[3] Dalam talk show yang dipimpinnya, Oprah juga telah mengundang beberapa tamu dari kalangan New Age seperti (beberapa tamu ini bahkan tampil beberapa kali) Marianne Williamson, Barbara DeAngelis, LaVar Burton, Richard Carlson, Betty Eadie, Dannion Brinkley, M. Scott Peck, Sophy Burnham, Marilyn Ferguson, Kevin Ryerson, Shirley MacLaine, Sara Breathnach, James Hillman, dan psychic medium sekaligus penulis laris, James Van Praagh. Pada tahun 1996, Oprah memulai Oprah's Book Club untuk membuat warga Amerika membaca lagi. Setiap buku-buku yang diseleksi telah menjadi best seller secara instant dengan rata-rata penjualan di atas 1 juta kopi (http://www.wfial.org/index.cfm?fuseaction=artNewAge.article_1)
[4] www..alwaysbeready.com/indexb59e.html?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=0
[5] Rhonda Byrne, The Secret (Jakarta: terj. Gramedia Pustaka Utama). Menurut penulis, buku TS memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan The Da Vinci Code dan Injil Yudas terhadap komunitas Kristen Indonesia. Buku TS banyak mempengaruhi pemikiran orang-orang Kristen karena wawasan dunia yang berlawanan dengan Kekristenan di dalamnya ditawarkan secara implisit, sedangkan The Da Vinci Code dan Injil Yudas lebih eksplisit dalam pertentangannya dengan iman Kristen
[6] Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose (New York: Penguin Group, 2006).
[7] Hal ini juga menjadi sebuah refleksi bagi pentingnya pelayanan kristiani yang berbasiskan internet sebagai sarana menjangkau jiwa. Salut pada Sabda dan website Kristen lainnya yang telah menjadi berkat besar bagi Kekristenan di Indonesia!
[8] Hukum tarik-menarik ini disebut-sebut sebagai intisari dari buku TS. Pembahasan hukum tarik-menarik dalam artikel ini mungkin dapat membuat fokus tulisan ini agak melebar. Namun demi pertimbangan khusus bahwa sebagian pembaca tidak punya kesempatan untuk membaca seluruh buku TS, penulis berharap agar pembaca dapat memhami inti dari hukum tarik-menarik yang sedang populer ini. Walaupun demikian, artikel ini tidak akan memberikan kritik terhadap hukum ini namun memfokuskan pada tinjauan kritis atas fondasi theologis TS dan A New Earth yaitu doktrin mengenai realitas tertinggi dalam kaitannya dengan alam semesta dan manusia.
[9] Hukum ini tentu saja yang paling diingat oleh mereka yang secara praktis ingin mencapai uang, relasi dan kesehatan lebih baik. Akan tetapi bagi orang Kristen yang kritis, intisari buku TS justru bukan pada hukum ini melainkan pada filsafat dasarnya tentang siapakah Allah, manusia dan alam semesta.
[10] The Secret, hlm. 29.
[11] Ibid., hlm. 49.
[12] Dalam pengalaman penulis, beberapa orang pernah secara keliru menafsirkan bahwa buku TS mengajarkan kita untuk percaya pada “jin.” Istilah “jin” disini hanya digunakan sebagai ilustrasi. Buku TS tidak mengajarkan kita untuk percaya pada “jin” melainkan menggunakan cerita yang sudah umum tentang “jin” untuk mengilustrasikan bahwa hukum tarik menarik mampu memberikan apa saja yang kita minta
[13]Ibid., hlm. 80.
[14] The Secret, hlm. 14.
[15] Ibid., hlm. 131.
[16] Ibid., hlm. 127-128. Belum lama ini penulis mendengarkan bahwa ada seorang pengkhotbah yang mengajarkan Yesus hidup makmur karena keberadaan Yesus sebagai “anak tukang kayu” dapat ditafsirkan sebagai seorang “pengusaha mebel” pada masa kini. Bukankah banyak pengusaha mebel yang kaya saat ini? Jadi, Yesus juga tukang kayu yang kaya. Penulis hanya bisa “kagum” dengan kreatifitas para pendukung “theologi” kemakmuran dalam “menafsirkan” Alkitab sehingga Yesus bisa disulap menjadi pengusaha mebel, untung-untung bukan eksportir kayu ilegal yang kaya seperti di Indonesia.
[17] Ibid., hlm. 131.
[18] Ibid., hlm. 145.
[19] Ibid., hlm. 165.
[20] Ibid., hlm. 165.
[21] Ibid., hlm. 209.
[22] Ibid., hlm. 193.
[23] Ibid 195.
[24] Ibid 196.
[25] Ibid 207.
[26] Bdk. Norman L. Geisler dan Frank Turek, I Don’t have Enough Faith to Be an Atheist (Wheaton: Crossway Books, 2004), hlm. 23.
[27] Buku karya Eckhart Tolle lainnya adalah The Power of Now (terj. Indonesia, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2005). Dalam bagian sampul depan buku ini termuat kata-kata pujian Oprah Winfrey terhadapnya “Mengubah pemikiran....Hasilnya? Lebih banyak sukacita, sekarang juga.”
[28] Berbicara tentang konsep Allah sebagai Bapa, di tahun 2008 penulis berkesempatan mendapatkan “berkat” dari seorang pendukung theologi feminis di Indonesia yang menyampaikan doa berkat dengan berkata “Allah Bapa dan Ibu kita.” Tampaknya gerakan ini telah menjadi isu yang perlu segera ditanggapi oleh kaum Injili di Indonesia mengingat pendukung “Allah Bapa dan Ibu” sudah mulai unjuk gigi dan meninggalkan pemahaman analogis dan ontologis dari istilah “Bapa” serta mengorbankan teks di atas altar konteks zaman yang terus berubah.
[29] Eckhart Tolle, A New Earth: Awakening to Your Life's Purpose (New York: Plume, 2006), hlm. 37. Dalam bagian ini dan seterusnya, penulis menggunakan versi elektronik (PDF) atas buku A New Earth dalam seluruh artikel ini.
[30] A New, hlm. 3-4.
[31] A New, hlm. 25-26.
[32] A New, hlm. 78-79.
[33] Ibid., hlm. 79.
[34] A New, hlm. 9.
[35] Penulis Indonesia yang membahas masalah New Age misalnya, Herlianto dalam bukunya, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung: Kalam Hidup, 1990); satu bab dari Jan S. Aritonang dalam bukunya, Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 426-465. Untuk penulis non Kristen, lihat Sukidi, New Age: Wisata Spiritual Lintas Agama (Jakarta: Gramedia, 2001).
[36] Materi kuliah tidak diterbitkan dari Ravi Zacharias International Ministry (RZIM) Academy of Apologetics berjudul “The Church and New Age and New Age Spirituality” di Chennai India, 2008. Ajaran Swami Vivekanda dapat ditemukan dalam sebuah buku bahasa Indonesia karya Nyoman S. Pendit berjudul Vedanta: Percik-percik Renungan Swami Vivekananda (Denpasar: Pustaka Bali Post, 2005). Di dalam buku ini dituliskan bahwa mantan presiden Soekarno pun memuji pemikiran Vivekanda. Selain itu, Harold Netland menunjukkan kepada kita bahwa ajaran GZB banyak disebarkan oleh tokoh-tokoh intelektual Asia yang mempromosikan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Tao) ke Barat. Selain S. Vivekanda, mereka adalah D. T. Suzuki, Rabindranath Tagore, Sri Aurobindo, Sarvepalli Radhakrishnan, tokoh Zen Buddhisme Masao Abe, Tenzin Gyatso sang Dalai Lama Tibet, Maharishi Maha Yogi, dll. Saat ini banyak artis seperti Richard Gere, Tina Turner, Adam Yauch, Herbie Hancock dan Steven Seagal yang secara terbuka menganut agama Buddhisme Tibetan (Lih. Encountering Religious Pluralism: The Challenge to Christian Faith and Mission [Downers Grove: InterVarsity, 2001], hlm. 107-108). Untuk pendahuluan yang baik tentang New Age Movement pembaca dapat melihat karya James W Sire, The Universe Next Door: A Basic Worldview Catalog (Illinois: InterVarsity Press, 1997), hlm. 137-170.
[37] Membuka Topeng Gerakan Zaman Baru (terj. Indonesia. Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 17-40.
[38] Disebut ”variasi” dari monisme dan pantheisme karena pada dasarnya penganut monisme dan khususnya pantheisme memang memiliki sebutan dan cara yang berbeda-beda dalam menggambarkan versi monisme dan pantheisme mereka. Walaupun demikian pada inti ajarannya mereka tetap percaya secara mendasar bahwa dunia ini “Satu” dan yang satu itu adalah “Allah” atau realitas tertinggi. Cara mereka menunjukkan bagaimana kompleksitas dunia ini disebut ”Satu” dan secara khusus adalah “Allah” sering kali berbeda-beda. Bdk. Geisler, Norman L. dan Watkins, William D. Worlds Apart: A Handbook on World Views (2nd ed. Grand Rapids: Baker Book House, 1989), hlm. 77.
[39] Groothuis, Membuka Topeng, hlm. 18.
[40] Monisme diyakini oleh Hinduisme secara khusus aliran Advaita Vedanta (yang artinya “non dualisme”) dan Buddhisme secara khusus aliran Zen. Frans Magnis Suseno menyatakannya demikian, “Kitab-kitab Suci Hindu, kitab-kitab Veda dan Upanishad, membuka jalan ke pemikiran filosofis mendalam di mana akhirnya segala-galanya dipahami sebagai satu (Menalar Tuhan [Yogyakarta: Kanisius, 2006], hlm. 30); Untuk uraian theolog Katolik lain tentang monisme dan Hinduisme lihat juga Tom Jakobs, Paham Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 79-91. Mengenai monisme dalam Buddhisme, sebuah buku Buddha menyatakan dengan tegas bahwa Buddhisme menolak konsep Tuhan yang personal sebagaimana diyakini oleh Kekristenan. Dalam tradisi Vajrayana Buddhisme, konsep Tuhan dituangkan dalam istilah Adi-Buddha, yang mewakili sifat dasar seluruh makhluk yang paling inheren (Djoko Mulyono dan Petrus Santoso, Studi Banding Agama Buddha dan Kristen [Indonesia: Free Press, 2005], hlm. 33-34). Hal ini menunjukkan bahwa Buddhisme percaya pada konsep ketuhanan yang ada dalam diri semua makhluk, sebuah konsep yang menekankan imanensi lebih daripada transendensi Allah. Pemikiran-pemikiran Hindu dan Buddha inilah yang turut mewarnai para tokoh New Age masa kini karena apa yang disebut sebagai fenomena Baru dalam Gerakan Zaman Baru sebenarnya hanyalah “baru” bagi dunia barat tetapi sudah “lama” di Timur khususnya India sebagai tempat lahirnya Hinduisme dan Buddhisme.
[41] Di India sampai saat ini, banyak orang Hindu tidak makan daging sapi, sedangkan muslim seharusnya tidak makan daging babi. Sementara bagi orang Hindu dan Muslim beberapa jenis makanan “haram”, bagi orang Kristen semuanya “harum.” Penulis pernah mendengar bahwa oleh karena alasan itulah maka ada orang yang memilih menjadi Kristen.
[42] Lih. Membuka Topeng, hlm. 20.
[43] Tidak semua aliran Hinduisme percaya pada pantheisme. Sebagian aliran Hinduisme seperti Sankhya dan Nyaya lebih condong pada atheisme, tetapi Vedanta atau Advaita Vedanta percaya pada pantheisme. Oleh karena itu, ketika membicarakan Hinduisme kita harus sangat berhati-hati karena Hinduisme meliputi banyak aliran yang amat berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan satu sama lain. Di dalamnya ada animisme, fetishisme, politeisme, pantheisme, monisme, dan atheisme (lih. Lit-Sen Chang, Asia’s Religions: Christianity’s Momentous Encounter With Paganism [Vancouver, Canada: China Horizon and Horizon Ministries Canada, 1999], hlm. 201-202). Bdk.. Satischandra Chatterjee dan Dhirendramohan Datta, An Introduction to Indian Philosophy [New Delhi: Rupa & Co, 2007], hlm. 5-7).
[44] Bdk. Geisler dan Watkins, Worlds Apart, hlm. 75-77. Contoh populer di Barat tentang pantheisme adalah ajaran dari artis Shirley MacLaine yang mendorong setiap orang untuk memulai setiap hari demi hari dengan mengafirmasikan keilahian dirinya sendiri (lih. David A. Noebel, Understanding The Times: The Coillision of Today’s Competing Worldviews [Colorado: Summit Press, 2006], hlm. 72). Buku Noebel ini secara komprehensif membandingkan ajaran GZB atau yang disebutnya sebagai Humanisme Kosmik dalam 10 bidang keilmuan (theologi, filsafat, etika, biologi, psikologi, sosiologi, hokum, politik, ekonomi, sejarah) dengan Kekristenan, Islam, Humanisme Sekuler, Marxisme-Leninisme dan Postmodernisme. Buku ini amat informatif dan baik untuk studi awal mendalami peperangan wawasan dunia di sekitar kita. Versi yang mirip dan lebih ringkas telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia di bawah judul Perjuangan Untuk Kebenaran (Jakarta: YWAM Publishing Indonesia, 2007).
[45] Total Truth: Liberating Christianity from Its Cultural Captivity (Study Guide Edition, Wheaton: Crosway Books, 2005), hlm. 146-148. Buku ini adalah sebuah analisis worldviews di dunia yang amat baik dan memenangkan penghargaan dari ECPA.
[46] Bdk. Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker Books, 1999), hlm. 581.
[47] Bdk. Ibid., hlm. 580. Hal ini juga ditegaskan oleh Augustine Perumalil dalam bukunya Religious Cosmologies (New Delhi: ISPCK, 2007), hlm. 2. Ia berkata bahwa kata Hindu yang menggambarkan lahirnya alam semesta atau cosmogenesis adalah sristi. Kata Sanskrit sristi tidak berarti memunculkan keberadaan dari ketidakberadaan atau menciptakan sesuatu dari yang tidak ada sebagaimana dalam konsep Kristen. Konsep kelahiran semesta dalam istilah Veda adalah “Out-breathing of God.” Jadi dunia ini keluar dari Allah, bukan diciptakan Allah. Tidak heran jika Hinduisme percaya bahwa jiwa manusia yaitu Atman pada hakekatnya sama dengan Brahman atau realitas tertinggi (Allah dalam konsep Kristen). Dalam kaitan dengan ini, Groothuis mengutip kalimat C. S. Lewis, ”Sebelum adanya waktu, pantheisme bukan merupakan suatu kredo yang sama sekali salah. Pada saat sebelum penciptaan, dapat dikatakan benar jika mengatakan segala sesuatu adalah Allah. Tetapi Allah mencipta: Ia telah menyebabkan yang lain ada, selain dari diri-Nya sendiri (Membuka Topeng, hlm. 22). Penulis setuju dengan Ravi Zacharias yang menentang pandangan C. S. Lewis dalam hal ini karena bahkan dari sejak awal pun Allah ada sebagai Tritunggal yang di dalamnya ada “Saya” dan “Kamu” yang berbeda dengan pantheisme dari satu penguasa tunggal (lih. rekaman dari ceramah-audio dari Ravi Zacharias berjudul “The Spurious Glitter of Pantheism”).
[48] Bdk. Daniel Lukas Lukito melihat adanya kecenderungan theologi Kristen yang dibangun di atas landasan immanensi dalam kehidupan gereja masa kini (“Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Theologi Abad 21: Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif,” Veritas: Jurnal Theologi dan Pelayanan Volume 1 Nomor 1 April 2000), hlm. 5-6.
[49] Bdk. L. T. Jeyachandran dalam “Challenges From Eastern Religions” dalam Beyond Opinion: Living The Faith That We Defend (gen. ed. Ravi Zacharias; Chennai, India: RZIM Educational Trust, 2008), hlm. 99.
[50] The Secret, hlm. 195. Di bagian lain dikatakan, “Terlepas dari siapa Anda pikir diri Anda, sekarang Anda mengenal Kebenaran tentang siapa Diri Anda sesungguhnya. Anda adalah penguasa Semesta. Anda adalah pewaris kerajaan. Anda adalah kesempurnaan dari hidup. Dan sekarang Anda mengenal Rahasia. Semoga kegembiraan menyertai Anda!” (Ibid, 219).
[51] Bdk. Geisler, Baker Encyclopedia, hlm. 581.
[52] Bdk. Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods (Nashville, Tennessee: W Publishing, 2000), hlm. 119.. Dalam bagian ini Ravi mengembangkan kritiknya secara jenaka atas konsep ilusi dalam filsafat Shankara, seorang tokoh Hindu yang termahsyur.
[53] Lih. Geisler, Baker Encyclopedia, hlm. 582. Untuk kritik lain terhadap pantheisme, lihat Jeyachandran dalam “Challenges From Eastern Religions”, hlm. 105.
[54] Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Miths: Building Bridges to Faith Through Apologetics (Grand Rapids: Zondervan, 1993), hlm. 182.
[55] The Secret, hlm.. 214.
[56] Jack Canfield penulis serial Chicken Soup, berkata “Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tiba di titik ini, karena saya dibesarkan dengan ide bahwa ada sesuatu yang harus saya lakukan, dan jika saya tidak melakukannya, Tuhan tidak akan senang dengan pada saya. Ketika saya sungguh mengerti bahwa tujuan utama saya adalah merasakan dan mengalami kegembiraan, saya mulai hanya melakukan hal-hal yang mendatangkan kegembiraan bagi saya. Saya mempunyai peribahasa: “jika tidak menggembirakan, jangan lakukan!.” Filsafat ini amat berbahaya karena, tujuan hidup manusia telah beralih dari memuliakan Allah “dan” atau “dengan” (menurut John Piper) menikmati Dia selamanya menjadi berpusat pada kegembiraan diri sendiri. Jika peribahasa Jack Canfiel tersebut berlaku universal, maka jika seorang Kristen merasa berat hati sebelum ia memberi persembahan, sebaiknya ia membatalkannya; dan jika Yesus bersedih hati sebelum penyaliban, mestinya Ia tidak usah mau mati disalib, karena itu tidak menggembirakan.
[57] Dalam pengamatan penulis, banyak orang Kristen yang terpengaruh The Secret, A New Earth atau menerapkan praktik-praktik New Age seperti Yoga (yang merupakan jalan menuju kesatuan dengan Brahman dalam Hinduisme) tetapi tidak percaya pada pantheisme. Mereka hanya ingin cepat kaya, sehat dan sukses atau memperoleh ketenangan psikologis di dunia yang serba cepat dan penuh stress. Orang-orang ini adalah pragmatis tulen yang tidak peduli pada filosofi dibalik TS dan A New Earth maupun buku-buku New Age lainnya. Pragmatisme ini di dalam dirinya sendiri adalah salah dan lebih dari itu juga membuka kesempatan lebar bagi orang-orang demikian untuk secara tak sadar bergeser dari Kekristenan sejati (theisme-trinitarian) menuju pantheisme.
[58] Lih. Mcgrath, Intellectuals Don’t, hlm. 183.
[59] Deepak Chopra adalah penulis New Age yang amat produktif. Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah 7 Hukum Spiritual Yoga: Panduan Praktis Menuju Pemulihan Raga, Pikiran dan Jiwa (terj. Indonesia, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2008).
[60] Beberapa wacana di internet bahkan mengatakan bahwa Oprah hanya berpura-pura tidak tahu bahwa dirinya adalah penganut New Age. Penulis sendiri menduga bahwa Oprah bukan orang yang bodoh untuk tidak tahu bahwa tamu-tamunya dan buku-buku yang dipopulerkannya adalah bagian dari GZB. Tetapi demi menghindari konfrontasi yang terbuka tentunya seorang entertainer harus bermain aman dan cantik, walaupun pada situasi tertentu harus menyatakan siapa dirinya (Lihat lagi kalimat-kalimat Oprah yang disertai catatan kaki no 2 dalam artikel ini).
[61] Bdk. Groothuis, Membuka Topeng, hlm. 290.
[62] Lih. “The Pastor As an Apologist” dalam Is Your Church Ready (diedit oleh Ravi Zacharias dan Norman L. Geisler; Grand Rapids: Zondervan, 2003), hlm. 22.
[63] Dalam beberapa kesempatan, penulis merasa sedih ketika mendengar orang Kristen hanya bisa berkata bahwa buku The Secret dan Oprah Winfrey termasuk New Age dan kemudian menuduh mereka yang membaca atau menyaksikannya sebagai sesat. “Hati-hati nanti kamu sesat” adalah kalimat yang sering kali tidak persuasif dan hanya bersifat menghakimi bagi banyak orang. Jauh lebih baik untuk dengan tenang mengajak mereka yang menyukai ajaran New Age agar masuk dalam diskusi rasional dan menunjukkan letak kesalahannya daripada hanya berkata “itu sesat.” Walaupun demikian dalam sebuah khotbah apologetik yang memiliki waktu terbatas tentu saja proklamasi kebenaran yang dikontraskan dengan kesalahan sebuah wawasan dunia yang sedang berkembang dapat dilakukan dan tidak selalu harus menguraikan secara rinci ajaran sesat tersebut.
"Mengenal Allah merupakan hal penting untuk menjalani hidup kita."
(Prof. J. I. Packer, D.Phil.; Mengenal Allah, hlm. 5)
Contemporary Theology
http://www.gsja.org/2010/10/15/an-overview-of-contemporary-theology/comment-page-1/#comment-2274
by Dr. C. Matthew McMahon
by Dr. C. Matthew McMahon
The following is an overview of theology over the last 50 years. It deals mainly with pinpointing certain theological trends and the most influential and well known movements of the day.
CONTENTS:
Fundamentalism
Neo-orthodoxy
Pentecostalism
Evangelicalism
Neo-liberalism
Post-Vatican II Catholicism
Eastern Orthodox Theology
The Charismatic Movement
The Theology of Hope
Process Theology
Secular Theology
Theologies of Success
Liberation Theology
Third Wave Movement: The Vineyard Movement
Feminist Theology
Reconstructionist (Dominion) Theology
The New Age Movement
Creation Spirituality
Fundamentalism
Fundamentalism as a movement began around the turn of the 20th century. It was a reaction to liberalism and neo-orthodoxy to preserve conservative, biblical Christian truth. The term “Fundamentalism” came about as it was used in a series of pamphlets that were published called The Fundamentals (1910-1915). Two Los Angeles laymen, Lyman and Milton Stewart, who thought that every pastor and theological student should receive them, underwrote these documents. They wanted them to be aware of the contemporary compromises being made by liberalism and neo-orthodoxy.
Liberal Presbyterianism was fought under the influence of the General Assembly of the Northern Presbyterian Church in 1910. They created a doctrinal summary declaring the essential beliefs of inerrancy, Christ’s virgin birth, His substitutionary atonement on Calvary, His miracles, His physical resurrection and the hearing of His love. The battlefield for this liberalism was mainly in the seminaries where J. Gresham Machen of Princeton fought for the truths of orthodoxy. He, in turn, helped to found Westminster Seminary as a conservative alternative to the liberal education. In 1936 he was forced to leave to Presbyterian church because of its increasing liberalism, and founded the Orthodox Presbyterian Church.
Equally, liberalism also affected the Baptists. In 1919 the World’s Christian Fundamentalist Association was founded in Philadelphia. The least bothered of the Baptist denominations was the Southern Baptist Convention. In 1932 the GARBC was founded (The General Association of Regular Baptist Churches) who identified five key goals: 1) an association of churches – not a convention, 2) complete separation from any liberal Northern Baptist works, 3) Conformity to the London and New Hampshire Confessions of Faith, 4) The fostering of missions among pastors, and 5) aiding churches in finding sound pastors.
Other founding denominations and groups at this time in contrast to liberal theology were The American Baptist Association organized in 1925, The Grace Brethren in 1937, The American Council of Christian Churches in 1941, Bible Baptist Fellowship in 1950, and the Independent Fundamental Churches of America in 1930.
Key ideas surrounding fundamentalism as it emerged was the growing isolation it was conveying from culture. Religious separation demonstrated a movement away from culture and as a result caricatured for their objections to smoking, drinking, movies, card playing, dancing, lodges and the like. Political activism also came to light and the religious right was born who were mainly drawn to fundamentalist ties. Jerry Falwell, for example, founded the Moral Majority in the 1970’s. Theologically, fundamentalism’s key ideas surround 1) the inerrancy and infallibility of the Bible, 2) the virgin birth and deity of Jesus, 3) the substitutionary Atonement, 4) the literal, physical resurrection of Jesus, and 5) the literal, physical return of Christ.
Neo-orthodoxy
Neo-orthodoxy, as it was known in North America, was also known as “crisis” or “dialectical” theology in Europe. Most church historians see the founding father of neo-orthodoxy as Karl Barth. Barth was a prolific writer who’s magnum opus is known as Church Dogmatics (which was over 8,000 pages long). He has received mixed reviews among theologians, but among conservative orthodoxy his neo-orthodoxy is quite heretical. Barth attempted to set the Gospel in a new language which could be understood by contemporary society because the old transmission of the Gospel was inadequate. Barth taught universal election, and that the Word of God only becomes the Word of God through the work of the Holy Spirit to each individual in a subjective way.
Emil Brunner may also be seen as a co-founder of neo-orthodox theology. He is known for his “crisis theology” which taught that a turning point in history occurs when God in Christ confronts humanity. A person then became aware that there are two roads to take, one toward God and life and the other away from God and toward death. Brunner, like Barth, rejected both liberalism and transitional orthodoxy. Brunner’s work, called Dogmatics, was compiled before his death in 1966. As with Barth, Brunner believed God did not reveal Himself through Scripture, but through experience with Scripture. The ultimate revelation of God is found in the person of Jesus Christ and the Bible is where Christ meets the reader. The Bible, then is not the infallible or inerrant word of God, but an “opportunity” to meet the reader as he reads.
Other important neo-orthodox figures include Reinhold Niebuhr and Dietrich Bonhoffer. Niebuhr may be regarded as the first American neo-orthodox pioneer. His theology is expressed in his two volume work The Nature and Destiny of man. Bonhoeffer was arrested by the German Nazi’s and sent to the Tegel Military Prison outside Berlin. It was during this period that he wrote what later became Letters and Papers from Prison. He emphasized “religionless Christianity”. He was executed just before the camp was liberated, but had a great impact on Europeans and American theology through his written works, such as the Cost of Discipleship which antithesized cheap grace from real grace.
Neo-orthodox theology teaches that the Bible is not the Word of God in that it is a series of true verbal propositions to be believed. Rather, it is an existential encounter with Jesus. There is no standard of truth and no absolutes. Jesus is God and Jesus is not God are equally true. God is represented as wholly other. He is completely transcendent and unknowable. Neo-orthodoxy teaches universalism, and sees Jesus as God’s divine messenger of love to the masses. Neo-orthodoxy also rejects the Fall (following Pelagius) demonstrating that people are not sinners when they are born. Rather, they become sinful when they sin.
Pentecostalism
The Pentecostal denomination was an attempt to move back to the New Testament interpretation of the Church as it was practiced in the first century. In 1900 Charles Parham, a former Methodist preacher turned “healer”, founded the bethel Bible School in Topeka, Kansas. While the students there were engaged in a study on acts, Agnes Ozman received the “baptism in the Holy Spirit” and could not speak English, but only Chinese, for three days. Within a few days Parham, and most of the other students, had similar experiences. Parham then held revival meetings over the next few years and by 1905, in Texas alone, there were 25,000 Pentecostal believers. Another key figure was William Seymour, a black Holiness revivalist, who spawned the Azusa Street revival. There many were said to be baptized in the Spirit, and his work was incorporated as the Pacific Apostolic Faith Movement. A third key figure was Charles H. Mason, a former Baptist minister from Memphis, who had been “dispelled” (excommunicated?) from his denomination for proclaiming a second work of grace, and subsequently founded a new denomination, the Church of God in Christ.
Eudorus Bell, Howard Goss, Daniel Opperman, A.P.Collins and Mack Pinson founded the Assemblies of God in 1914 and formulated a statement of “truths” in 1916 at a Missouri Synod. They taught Trinitarianism, Arminianism, two ordinances, a progressive view of sanctification, a second work of the Spirit in being “baptized” by Him with evidence of speaking in tongues, and a strong premillenial bent.
In Canada the Pentecostal churches began to emerge almost immediately after the Azuza street revivals took place. Robert E. McAlister, a bible student from Ontario, heard what happened in Los Angeles and brought the message back to Canada subsequently experiencing the “latter rain” movement with heavy concentrations in Toronto and Winnipeg. Pentecostalism then spread through Europe, Latin America, Africa, Russia, and Asia.
Pentecostalism is really a family of denominations rather than one entire denomination. They do, however, teach much of the same thing. Pentecostals declare themselves to be biblicists with no creed other than the bible. They are Trinitarian (though at one stage a new sect grew out of a denial of Trinitarian doctrine called the “Jesus movement” spawned by Frank Ewart and G.A. Cook. Today the United Pentecostal Church, the Black Pentecostal Assemblies of the World, and the Apostolic Church of Pentecost deny the doctrine of the Trinity). Pentecostals are in most cases Arminian, though there are strands of Reformed Pentecostals who believe in monergistic salvation. Pentecostals believe in the freedom of man’s will, and are Semi-pelagian in their anthropology. They are charismatic in their view of spiritual gifts and believe the gifts of the Holy Spirit as stated in 1 Corinthians 12:8-10 are in operation today.
Evangelicalism
Evangelicalism began in the 20th century as an attempt to unify fundamentalists and precipitate a national revival in America. Originally, the term “evangelical” was used during the Protestant Reformation for those who rejected Roman Catholic Doctrine and adhered to the teaching of the Reformed church, although the meaning of the word in Christendom today is quite different. Elwin Wright of the New England Fellowship toured the US looking for ministers who would band together to speak on the fundamentals of the faith and to unify Christianity. He held a national conference in 1942 with four speakers who were tied to the task: Harolde J, Ockenga, William Ayer, Robert G. Lee, and Stephen W. Paine. This sparked the formation of the National Association of Evangelicals in May of 1943.
Evangelicalism is characterized by an ecumenical spirit. Denominational lines are crossed so that Baptists will work side by side with Methodists, and Methodists with Pentecostals and Pentecostals with Presbyterians, etc., for the cause of the Gospel. In the 1960’s a new movement of Evangelicals came to light that desired to trace their steps back to the Pietistic and Puritan movements of church history. Neo- Evangelicals are characteristic of holding to the inerrancy of the bible over higher criticism, seeing Christian practice as an indispensable evidence of saving faith, having a repudiation for Dispensationalism, reemphasizing the social dimension of the Gospel, and obtaining a fresh new dialogue with ecumenical liberalism and various other religious traditions. They are characteristically inclusivistic rather than exclusivistic theologically. If there were a single adjective that describes Evangelicals today, it would be “flexible.” The problem, or dilemma of evangelicalism is that lines must be drawn in order to mark boundaries to the movement, but this will never happen in light of their historical track record which is, admittedly, a broad divergence of opinions, or a theological melting pot.
Neo-liberalism
The advent of Neo-liberalism took place just after World War I and during the Great Depression. Harry E. Fosdick, Henry S. Coffin and H.P. Van Dusen were spokesmen for this movement which taugtht that the human predicament could be alleviated only with God’s help. However, this “predicament” was characteristic of appealing to the masses in their “felt needs”. Fosdick accepted a call to Park Avenue Baptist Church on the condition that the church accept a non-creedal open-membership policy. This is typical of Neo-liberal churches.
Theologically, Neo-Liberalism teaches that the Bible is outdated, and that the message needs to be updated to appeal to the masses. Henry P. Van Dusen taught that that Jesus Christ became a divine person based on his human experience that transcends this world to reach the divine. The divine goodness is really a reality in Jesus Christ rather than Christ as the God-man. Rudolph Bultmann, a European Neo-liberal, was famous for “demythologizing the Gospel.” The gospel writers had written down what Jesus said, but the text we have today does not reflect this true words. Rather, since we cannot get an accurate historical picture of Jesus from the Gospel, we have to demythologize them in order to see clearly what He actually did and said. Most of the New Testament, then appears as a gloss by the early church to make Christ and the Christian Gospel more than they really are.
Paul Tillich became one of the world’s most controversial Neo-liberals to date and one of the most influential theologians of the 20th century. His theological method has been called the “method of correlation.” It proposes that theology and philosophy should compliment one another. Philosophy’s task is to formulate questions and theology’s task is to dialogue with philosophy to try and understand them. He was unorthodox in every formation of biblical doctrine taking to heart that revelation was really the manifestation of our own ultimate concerns. Man is trying to become a “New Being” of which Jesus Christ provides the moral example. Jesus’ life, death and resurrection were regarded by him as myth, and meant something symbolically greater.
Neo-Liberalism began with attempting to make the Gospel practical in everyday life. However, this noble goal suddenly became a component of higher critical thinking (which is really another way of saying a “rejection of tradition orthodoxy”) and an abrupt severing with Christian orthodoxy in all its forms.
Post-Vatican II Catholicism
From the time of the Fourth Lateran Council of 1215 until the First Vatican Council (1869-1870) the Roman Church said that there was no salvation outside the church. Over the last fifty years, though, a new kind of Catholicism has come into play, and a reinterpretation of traditional ideas has emerged. This has been blatantly evident as seen in the Second Vatican Council (1962-1965).
Vatican II was called by Pope John XXIII which was an international effort to renew the church and define Catholic doctrine. John XXII set the tenor of the council in stating that the world needs healing rather than condemnation.
Major doctrines that Vatican II discussed were the church, revelation, and the eternal state of non-Catholics. In relation to the church, it reaffirmed papal infallibility, but extended that authority to other bishops as well. In the view of the laity, it used to be traditionally said that the church constituted only the clergy of the church, but that has now changed to include the laity. In relation to Biblical Revelation, Vatican II moved away from the Thomistic emphasis on a rational approach to the knowledge of God toward an experimental and intuitive one. This new move was more akin to neo-orthodoxy. In terms of the Roman Church’s relationship to other people outside the church, they said that they were by no means deprived of the mystery of salvation, though salvation could only be found in and through Christ’s Catholic Church. A new openness seemed to be in view here. It embraces the “truth”, they said, in all religions. Even atheists who live morally upright are said to be prepared of the Gospel and regards the qualities in these people as that light which lights every man on the earth.
There is no doubt that major shifts in emphasis occurred in Roman theology, and were later continued by men like Karl Rahner who taught the divinization of humanity, and Hans Kung, who embraces an experiential theology (Neo-orthodox) that embraces all humanity.
Eastern Orthodox Theology
The Eastern Orthodox church became known as an entity of its own after the schisms of 1054 with the Church of the West. Previously the church had been one, until with divisions surrounding some theological views in the way theology was thought out between Eastern Theologians and Western Theologians came about. As a result of a long and intense theological debate over the procession of the Holy Spirit from the Father and Son, the Eastern church entered into a number of political problems and ultimately divided itself from the Western church altogether in the Great Schism of 1054.
Today the Eastern Orthodox Church is really a family of churches composed of fourteen autocephalous churches (literally “self-headed” churches). These include Constantinople, Alexandria, Antioch, and Jerusalem.
Eastern Orthodox theology has changed little over the last one thousand years. Their doctrine of revelation consists of both the Scriptures and of Tradition (big “T”). They also accept ten deuterocanonical books in the LXX not present in the Hebrew Bible. In their doctrine of God they are orthodox, though they do not follow the procession of the Holy Spirit from both the Father and the Son. Rather, they believe that the Holy Spirit proceeds only from the Father. In their doctrine of man they are thoroughly Pelagian believing that Adam and Eve’s sin was not transmitted to the human race. Temptation is passed on, but not sin. Salvation is really the deification of the human being, and through the sacrament of baptism one would receive this salvation. Their doctrine of the church remains exclusivistic in that there is one church in the world and the Eastern Orthodox Church is that one church. They say there can be schisms from their church, but there can be no schisms within the church. This is their way of allowing for other groups outside their church still retain the mystery of salvation.
The Charismatic Movement
The Charismatic movement has it roots in World War II as well as around some of the Pentecostalism trends that emerged at that time. There was a heightened awareness for the “gift of healing” and a number of Pentecostal “evangelists” (Oral Roberts, William Branham, Jack Coe, and TL Osbourne) began holding evangelistic crusades which extended their ministries far beyond normal Pentecostal boundaries. Later the Full Gospel Business Men’s Fellowship International was organized 1951, and was expanded by Oral Roberts to more than 100,000 members in 300 chapters, then expanding to over 3,000 chapters in more than 90 countries.
Other influential charismatic influences revolved around people like David du Plessi (who ministered to Pentecostals after a 1936 prophecy given to him by Smith Wigglesworth), Harold Bredesen (who formed the blessed Trinity Society), Dennis Bennet (who is officially credited to starting the charismatic movement in 1959), and Larry Christensen (one of the charismatic renewal leaders). The movement as a whole took into consideration the need for Spirit-filled missions, and adopted the slogan “into all the world”. Even among Roman Catholics there was a charismatic renewal through men like Ralph Keifer and Patrick Bourgeois whose interest in the Holy Spirit was peaked by reading The Cross and the Switchblade by David Wilkerson.
Basic elements of the charismatic movement revolve around a strong centrality of the lordship of Christ, inerrancy of the Scriptures (although revelation continues through prophecy and words of wisdom and knowledge), an emphasis on praise in worship, direct divine communication (which meant that God communicates directly with his people apart from the word of God), the continuation of all apostolic spiritual gifts to all those who receive the baptism of the Holy Spirit, and the need for spiritual power to take authority over the devil (which entails spiritual warfare in exorcism, healings and deliverance ministries).
The Theology of Hope
The theology of hope has its roots in the existentialism of the 1960’s. It is grounded in the eschatology of Albert Schweitzer who taught that faith, as it relates to history, insists that the meaning of history can only be discovered in its conclusion. It is a resurrection theology which stands upon the looking back from the future than to it. It, like Marxism, attempts to envelop the whole world – including field of politics, sociology, ethics, and biology, and has greatly impacted third world countries in their desire to rise up out of poverty and be liberated.
Jurgen Moltmann was a pioneer in this theology of hope. He desired to transform the present and to press the believer to obtain the reality of hope and promise. Promise is a declaration that announces the coming of a reality that does not yet exist. This is really the transformation of culture. Moltmann saw the events of Christianity as dialectical contradictions where the cross and the resurrection are total opposites. The synthesis of this contradiction (following Hegel) is the promise of transformation for the world.
Other theologians who affected this line of thinking are Wolfhart Pannenberg (a German Lutheran) and John Baptist Metz (a Roman Catholic). Their ideas are typical of the movement. The movement itself will teach as a whole that God is never a God who reveals Himself in the past and present, but One who reveals Himself only in the future. Jesus is not the God-man of the Bible as the eternal, unchangeable God, they do not believe that his death and resurrection were substitutionary or once for all His elect, and they believe salvation is an existential subjectivism rather than an objective reality. While the theology of hope does not declare that God is dead, it certainly does not affirm His true life and the life than can be found in Jesus Christ. Really, this theology of hope is a poor attempt at universalistic relativism that uses Christian ideas as a springboard for philosophy.
Process Theology
Process thinking has been said to reach back to the time of the Greeks and the philosopher Heraclitus (500 B.C.). In recent times process theology was revived by Alfred North Whitehead (1861-1947) who believed the universe was in a constant state of change. He believed that matter is eternal, and that God did not create the universe at all. God is conceived as having a primordial nature that has potentiality to it, which means it changes. God is a “god” of flux and change.
Process theology continued under the teaching of Charles Hartshorne, who rejected classic theism and held to pantheism. Hartshorne differed from Whitehead on how God exists, not as flux, but as the ground for all worlds, or a pantheistic idea of God being everything everywhere as the foundation of the universe.
The teachings of Process Theology demonstrate their firm resistance to traditional orthodoxy. They reject the Bible as God’s authoritative word (how could a pantheistic ideology hold to verbal revelation?). the bible is only what one desires it should be subjectively. Thus, there is no authority system except one’s own ideas. God is seen as either in flux and changeable, or as in pantheistic ideologies. Christ is not the Son of God and does not do miracles. The Bible is myth in this regard, as true as the Olympian gods. They reject Christ as the divine God-man, and see him only as the authentic man who sacrificed himself for his fellow human beings to show them a better way and higher view of life. Salvation is not the inward regenerating work of God, but a self-consciousness that causes one man’s work for the community of humanity and fulfills his purpose for the good of mankind in general. Process theologians are Pelagians who believe that men simply need to climb up the ladder of “humanitarianism” to reach a greater height before their fellow men in service to one another. Process theology sets the stage of Open Theism which tends to view God in the same light as changeable, mutable, and likened to the Greek mythological Zeus.
Secular Theology
Secular theology was formally recognized in the 1960’s though it has it roots in the period of the Enlightenment. It was profoundly influenced as a movement by neo-orthodoxy: Tillich’s “Ground of Being”, Bonhoeffer’s “worldly Christianity” and Bultmann’s “demythologization of Scripture.” Secularism refers to a rejection or expulsion of religion and religious considerations. The word “secular” means to transfer from ecclesiastical to civil or lay use. In considering any secular theology, we are considering a theology of secularization rather than of secularism.
One movement in the secularization of theology was the Death of God movement. George Hegel (1770-1831) and Friedrich Nietzsche (1844-1900) (“God is dead and we have killed him.”) This theological stance was carried by Thomas Altizer as one who resurrected Nietzsche’s thinking. Altizer William Hamilton, Gabriel Vahanian and Jewish rabbi Richard Rubenstien all taught that humanity had killed God theologically. The leader of secular theology is Harvey Cox, professor of divinity at Harvard University. His work, The Secular City (1965), was a best seller.
Secular theology teaches that traditional orthodoxy and the traditional manner of interpretation, is no longer helpful. Sin has no place in the theological outlook, and God is not sovereign, transcendent, not the Creator, and not a person. It rejects Jesus Christ and His divinity as myth, and salvation, heaven, and hell are all considered from Bultmann’s neo-orthodox view which leaves them lifeless and mythological.
Theologies of Success
Theologies of Success are most fitted to the vanity and materialism of North American lifestyles. The theology of self-esteem was born into the pop culture of the 1960’s and reacted against the theology of the Reformation that taught that men were sinners, and worms, before God. Instead, the Pelagian Robert Schuller, pastor of the Reformed Church in America at the Crystal Cathedral, began “enlightening” the public with thoughts of the need for self-esteem. His theological backbone was based on the thoughts behind Norman Vincent Peale’s The Power of Positive Thinking. If you think you can, then you can.
Schuller sees God as the Father of all men, and that people simply need to recall that God is their Father so that their worth and self-esteem will rise through positive thinking. Sin is the villainy behind the oppression of humanity. Schuller rejects original sin, and that Adam’s sin had any affect on humanity. Sin for Schuller is any thought or act that would rob a man of his self-esteem. To be born again, then, means going from negative thoughts to positive thoughts. The church is the epicenter of this positive thinking and procreation of positivists.
Prosperity theology is the counterpart to theology of self-esteem. It grew out of the historical roots made popular in the Americanized charismaticism of faith healing with Kenneth Hagin and Kenneth Copeland. Charles Finney was a staunch proponent of faith healing and this type of idea that “faith always obtains the object.” The real father of faith healing is the spiritualist E.W. Kenyon who used many of the Christian Science concepts and adapted them to Christian language. Hagin followed Kenyon in the prosperity Gospel and passed this torch to his son, and others in the charismatic movement.
There are three theological essentials in prosperity theology: awareness of the promise before it can be claimed, secondly, the key to prosperity is complete obedience, and three, the claim of authority over resources that have already been guaranteed by God. Christ will give us all things so long as we believe. This includes healing, financial prosperity, and the power of positive confession.
Liberation Theology
There is no epicenter to the movement known as liberation theology. It would be more accurate to speak of Liberation “theologies”. The movement attempts to define the international movement of eliminating oppression mainly in third world countries with the idea that only divine intervention can escalate the “liberation” of such oppressed people. Wherever there is pain, there is the downtrodden and downcast. Only the theology of Liberation can rescue them in the social anarchy. Liberation theology, then, is best defined as God’s continuing work in the world where He rescues the oppressed and understand that important work to involve the reconstruction of persons and societies according to the “mold of the Master.”
Liberation theology’s inception began around the colonization of Latin America. The Latin world is the cradle of Liberation Theology. Vatican II and Medellin both acted as spurs to the movement. Gustavo Gutierrez, a Pelagian, was a preeminent Latin theologian who is considered to be the best systematician of the movement in his work A Theology of Liberation. Jose Miguez-Bonio was a leading theologian in Argentina, ministering first in medicine, who wrote Doing Theology in a Revolutionary Situation, which is an excellent overview of the theology of Liberation. Leonardo Boff ministered in his native land of Brazil, and was an Arian who taught that all humanity who are socially and historically oppressed need to be liberated. Black Theology emerged in North America that also held to liberation theology. Blacks were attempting to take control of their lives through black power. Albert Cleage wrote The Black Messiah, which taught Christ was black and that the oppression on blacks should be resurrected in the black overhaul of white oppression. Black theology looked for relief from social oppression where Latin theology sought refuge from economic oppression.
Liberation theology is basically anti-orthodox in every area of theology. They deny the Sovereignty of God, the deity of Christ, original sin, imputation, justification by faith alone, and utilized a free spirited liberalism as their foundational theological viewpoint. This theology has infiltrated most socially oppressed countries such as those throughout Latin America, Africa, and Asia.
Third Wave Movement: The Vineyard Movement
The Third Wave Movement came about as the result of two ministries that interested: C. Peter Wagener, professor of missions at Fuller Theological Seminary, and John Wimber, pastor of the Vineyard Christian Fellowship. Wager had cultivated Pentecostal associations, and Wimber was immersed in power evangelism, miraculous spiritual gifts, Spirit anointing and contemporary faith healing. By 1985 the Vineyard Christian Fellowship grew to 5,000 members and 120 other congregations. Wimber published two books that became instant hits: Power Evangelism and Power Healing.
Third Wave theology claims to be non-charismatic, which obviously invokes confusion. They believe that the Western Worldview of the church is wrong, and that it has become secularized. As a result they desire to go back to the New Testament church. They desire to go back to the Oriental idea of dreams, visions and mysteries housed in religion, seeing, what they think, are New Testament church signs and wonders. There is no question that they are concerned for evangelism, but an evangelism that is linked with a communication of the Holy Spirit in insights, inklings and “strange thoughts.” They also believe in power healing, where they see hundreds of people healed every month. Also, they are immersed in the spiritual warfare and the supernatural. They believe Christians should be aware of territorial demons, exorcisms, and the ability to wield the sword of the Spirit against such demonic influences. Such is the case with their eschatological view which is overly premillenial. Not only do they believe in the millennial reign of Christ on the earth, but that much of what will happen can be ushered in now. Sickness and suffering, Wimber says, exist because Christians do not exercise their ministry of healing. Suffering has no place in the eschatological kingdom and should not take place now.
Feminist Theology
Among theological movements in contemporary theology that tend toward liberation, Feministic theology is no different. Some women believe that they struggle in every area of life and that they should obtain rights for women equal to those enjoyed by men. These Feminists believe that the struggle for feminism roots back to the Reformation. There, they say, that Martin Luther and John Calvin refuted the Roman Catholic ideas that women were spawns of the devil and unclean, those who tempt men to lust and wickedness. Luther and Calvin can hardly be called feminists, but they did defend the biblical right of women. Feminism, however, is much different than simply exegeting biblical doctrine.
By 1920 women were having a good measure of success in America. By 1925 they could enter into most professions and even run in legislative offices. The Great Depression slowed this work down, and World War II brought in jobs that were filled mostly by women. The post-wars years brought a reaction against working women and a renewed emphasis on the women as homemaker, wife, and mother.
Feminism, though began in 1960 with its infiltration into two basic arenas – politics and commerce. The mother of liberal Feminism was Betty Friedan who wrote The Feminine Mystique (1963), and said that all rights should be extended to all disregarding any sexual discrimination. Marxist social feminism is another strand which plays on women’s inferiror status and its anti-class and anti-capitalist agendas. Radical feminism is a group that sees all men as oppressors and wants to exclude them altogether. Female homosexuals have also been an aggressive faction in the radical movement.
Theologically, feminism does not give place to the biblical ideas surrounding God’s Fatherhood, but desire to stress equally the Motherhood of God. Feminists are strongly against a masculine interpretation of the bible, regardless of the constructions of the Greek and Hebrew languages in the masculine in reference to God. Their desire is to demonstrate the motherly aspects of God as well. Many feminists adopt a liberal stance in theology toward Jesus Christ, and salvation becomes a universalism that accepts all people. Original sin is denied, and Dorothee Solle writes that sins are not particular things people do, but structures of power that rule over people. Feminists desire to be ordained in the church, in equal opportunity in all offices, and many of the liberal denominations have given in to such pleas.
Reconstructionist (Dominion) Theology
Over the last thirty years a movement began around evangelicalism called the Christian Reconstructionist Movement. It is also called Dominion Theology which follows a system of thinking about the manner in which the law works in society as well as in the church. The movement is increasing in numbers because of its strong appeal to the law of God and the ushering in of the millennial stage in the here and now.
Gary DeMar characterizes the movement when he says that the Word of God (all Scripture) should be applied to all areas of life. With faithful application in all areas of life, God will bless these efforts and His people in this age, and then in the age to come. Under this system of law, crimes such as homosexuality and adultery would become capital offenses. Dominion theologians are post-millennial and believe that there will be a long utopia era here on earth before Jesus returns. Historically, Gary North says that twenty years ago this movement did not exist. So it is a new trend that has not been part of the church for 2000 years.
Proponents of varying degrees, which are part of the Reconstructionist or Dominion camps, are men like R.J. Rushdoony (who is deemed the father of Christian Reconstructionism and wrote The Institutes of Biblical Law (1973)), Greg Bahnsen (who published Theonomy in Christian Ethics) and Gary North (who is known for his book Inherit the Earth: Biblical Principles for Economics (1987)). The movement began under Reformed Philosopher Cornelius Van Til at Westminster Theological Seminary.
Theologically, Reconstructionists isolate three basic concepts that are important: 1) The immutability of God, 2) God’s character as perfectly reflected in the law, 3) as a result His laws are eternally binding. They rest on three distinctive doctrinal foundations: 1) personal regeneration, 2) the application of biblical law to all areas of life, and 3) the advancement of that already present kingdom of God in history.
Theonomy is defined as the obligation of the Christian to keep the whole law of God as a pattern for sanctification and that this law is to be enforced by the civil magistrate where the stipulations of God so designate. The phrase “By the whole law” is meant the law as codified in the Old Testament. This is the hallmark of their systematic understanding of the Bible.
The New Age Movement
Defining the New Age Movement is difficult because it is a great melting pot of ideas that are as different as there are New Agers who believe them. It is best described as a metanetwork, or network of networks. These networks share common language but not necessarily common ideas about ultimate reality. The term “New Age” suggests that humanity stands at the threshold of a new era that must be ushered in by enlightened thinking. The problem is that New Agers rarely think through their ideas. So it may be more suitable to say that the New Age is a new era being ushered in that stands contrary to traditional Christian orthodoxy.
New Age is an updated version of various concepts taken from Eastern Mysticism. It is a westernized version of Taoism, Zen, ancient Babylonian religions, ancient Egyptian Religions, and Vedanta Hinduism. The basic mantra is that “God is all and all is God.” Helena Blavatsky imported oriental mysticism into the Americas in 1875, and it was given the name Theosophy. It was a religion that claimed to receive its teaching from superhuman masters, and stressed the universal brotherhood of man. Edgar Cayce was another exponent and catalyst for brining New Age teaching into the Americas, and Pierre Teilhard de Chardin was the link between new Age and the Catholic Church.
There are four main components of New Age Philosophy: Pantheism (all is God), reincarnationism (that people are brought back into this life in a new form after they die to relive life in a better way), relativism (what truth is right for you may not be right for me, but it is all truth nonetheless), Esotericism (the philosophy of enlightened knowledge following after Gnosticism of old). Situational ethics rules New Age morality, and man is placed in the center of their “religion” removing the transcendent God altogether. They reject any single source of revelation, and follow a myriad of various revelatory sources such as channeling, mediums, and religious books like the Koran, Bhagavad Gita, and the writings of their “prophets.” They have a high regard for Jesus Christ but only as a good teacher (although that is a blatant contradiction since Christ taught he was God, and stands in direct opposition to New Age thinking.) Sin is a matter of ignorance and salvation revolved around the esoteric knowledge they are seeking after in having an experience with their God-consciousness. Satan is even seen as Lucifer – the highest order to which man can elevate himself, and that Lucifer acted in the best interest of mankind by tempting Eve to discover her God-consciousness. The New Age movement stresses experimental subjectiveness as opposed to an objective religion, which is why it has such a large appeal – everyone makes up their own ideas and calls it “religion.”
Creation Spirituality
Spirituality has always attempted to pull the church back to its spiritual roots. However, whenever a movement of “spirituality” takes place, it is often one which enters into the mysticism of spiritualism instead of spirituality. The founder of creation spirituality is Matthew Fox, who lived during the mid 20th century. He was ordained in 1967 and came under the influence of Thomas Merton while studying in Paris. His goal was to make theology palatable to the public at large. In 1977 Fox established the Institute of Culture and Creation spirituality. Merton was profoundly influenced by medieval mystics though his reading of men like Hildegard of Bingen and Meister Eckhart.
Mysticism is a type of religious procedure which centers on personal experience of the divine. Fox’s focus is toward the primal sacraments, as he calls them (earth, wind, fire and water) so that the subject can experience nature and the divine all at one time. Its context is to be found in properly defining cosmology (in which Fox uses creation spirituality and the word cosmology as synonyms) and a living cosmology constituted by the holy trinity of science (knowledge of creation), mysticism (experiential union with creation and its unnamed mysteries), and art (expression of our awe at creation). There are fourth paths which lead the subject to a higher mystical experience: the first path of the via positiva or a friendly attitude toward Mother Nature, the second path is the via negativa where one discovers the darkness and mystery of creation, the third path is the via creativa where one realizes they are co-creators with God, and the fourth path is the via transformativa where the world will ultimately be recreated with a new world order in which peace and justice rule supreme.
Theologically creation spirituality rejects the God of the bible for a pantheistic God in which God is in everything and everything is in God. Fox refers to the Holy Spirit as Mother Sophia, and the person of Jesus Christ as the prototype for the new world order and the renewal of God’s image in man. Jesus is a way to God, but not the only way to God. Sin is not something human beings “must do” since they have the innate ability not to sin. They must realize this and awaken to the new order where peace rules, rather than sin. Human being must see themselves in this new light where the new age will begin, consequently named the Aquarian Age. It is easy to see Fox’s influence by New Age principles.
Two Third-World Theological Directions
Most of what is happening theologically in third world countries really involves Liberation theology and the movement to raise up the socio-economically oppressed. Asian theology has attempted to demythologize the Gospel and recapsulate it into its new context. This, though, loses the Gospel in the transition. Culture, instead, must be adapted to the truths of Scripture. The Waterbuffalo theology of Kosuko Koyama in Thailand follows a distortion of the 1 Corinthians 9:22 passage about being “all things to all men.” Yin-Yang theology is the concept developed of an American educated theologian from North Korea named Jung Young Lee. He teaches that theology must be “either-or”. He believes that Westernized minds follow Aristotle when they should be following Oriental philosophy of the tension between right and wrong, and how these could both be right at the same time from different perspectives (which is relativism).
African theology is moving away from what they call “European imperialism” and toward the teachings of John S. Mbiti. Mbiti believes that one must be unified with Christ while at the same time embracing culture (and in this case it is the African culture against its Westernization). Also, E. Bolaji Idowu, another African theologian, attempts to teach Christianity in the context of other African religions, which has created religious syncretism. He sees the gods of the Africans as divinities that have come to teach some things until the sovereign God of the universe is revealed to them. Christ has no significant role, then in Idowu’s philosophy.
Manusia Purba & Manusia Moden
(Sumber:http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/sejarah/sejarah-penemuan-fosil-manusia-purba-manusia-kera-dan-manusia-modern-teori-perkembangan-e)
Sebagai seorang hamba Tuhan, wawasan anda harus luas dan mengerti apa yang mendasari perkembangan pengetahuan manusia sampai hari ini menuju ke masa depan. Kenali perkembangan Ilmu, sekalipun kita tidak menganutnya. Jangan takut untuk membahaskan kerana teori evolusi tetaplah teori evolusi selama 'the missing link’ tidak ditemukan. Tidak semua ilmuwan percaya kepada evolusi. Untuk beriman di zaman moden ini anda tidak harus jadi pengikut teori evolusi. Tetapi anda tidak dapat menghindarkan diri dari mengetahui isi teori tersebut.
Contohny mengenai dinasour, Alkitab tidak membahasnya atau menyentuh hal tersebut. Kita tidak boleh juga membuat kesimpulan bahawa dinasour tidak ada kerana fosilnya memang ada. Tetapi mengapa Alkitab tidak menyinggung soal dinasour? Sengaja? atau memang tidak memiliki catatan itu?
Kekristianan telah didera oleh begitu banyak perlawanan dan pertentangan. Salah satu yang terberat adalah dari Ilmu Pengetahuan. Sejak Teori Evolusi Darwin diketengahkan, keragu-raguan orang terhadap Alkitab semakin menjadi-jadi. Benarkah manusia berkembang dari mahluk yang lebih rendah? Benarkah kita dan Chimpanze hanya selangkah perubahan? Benarkah jejak manusia ada dalam kera? dsb.
Di sisi lain, penemuan-penemuan arkeologi mengetengahkan bukti yang masih menjadi pertanyaan bagi kita, iaitu catatan Alkitab tidak menyatakan bahawa sebelum Adam dan Hawa ada mahluk lain yang serupa dengan manusia. Sekalipun Alkitab hanya samar-samar misalnya tentang istri kain, tentang mahluk raksasa, tetap saja manusia purba yang telah ada sebelum manusia moden, menjadi pertanyaan.
Apakah Alkitab hanya berisi catatan tentang manusia moden? Apakah perubahan dari manusia purba menjadi manusia moden telah terjadi kerana sesuatu? Mutasi gen? Rekayasa mahluk alien? Atau apa?
Berikut adalah catatan yang menambah pengetahuan dan wawasan kita (posted September 2008 oleh fajarnet) tentang apa yang beredar dalam dunia pendidikan dan masyarakat: Secara umum penemuan manusia dari zaman ke zaman terbagi atas tiga kelompok: manusia kera, manusia purba dan manusia moden.
Yang perlu diingat adalah bahawa teori ini hanya dugaan dan tidak terbukti, kebenarannya kerana teori evolusi sudah runtuh. Fosil manusia lama yang ditemukan bisa saja bukan fosil manusia atau manusia yang memiliki bentuk ciri tubuh yang unik, atau bahkan hasil rekayasa.
1. Manusia Kera dari Afrika Selatan
- Australopithecus Africanus: ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland. Ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bahagian tubuh yang ditemukan hanya fosil tengkorak kepala saja.
- Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensus.
Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil manusia kera tersebut disebut sebagai australopithecus.
2. Manusia Purba (homo erectus)
- Sinanthropus Pekinensis: adalah manusia purba yang fosilnya ditemukan di gua naga daerah Peking China oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich. Sinanthropus Pekinensis dianggap bagian dari kelompok Pinthecanthropus karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era haman yang bersamaan. SInanthropus Pekinensis memiliki volume otak sekitar 900 – 1200 cm kubik
- Meganthroupus Paleojavanicus (Manusia Raksasa Jawa): meganthropus palaeojavanicus ditemukan di Sangiran dio pulau Jawa oleh Von Koningswald pada tahun 1939-1941
- Manusia Heidelberg: ditemukan di Jerman
- Pithecanthropus Erectus: manusia purba yang pertama di mana fosil tulang belulangnya ditemukan di Trinil Jawa Tengah tahun 1891 oleh Eugene Dubois. Hidup di zaman pleistosin atau kira-kira 300.000 hinga setengah juta tahun yang lalu. Volume otaknya diperkirakan sebesar 700 – 1000 cm kubik. Bahagian tulang belulang yang ditemukan itu adalah tulang rahang, beberapa gigi, serta sebahagian tulang tengkorak
3. Manusia Modern
Pengertian manusia moden adalah manusia yang termasuk ke dalam spesis homo sapiens dengan isi volume otak adalah sekitar 1450 cm kubik yang hidup sekitar tahun 15.000 – 150.000 tahun yang lalu. manusia moden disebut demikian kerana hampir mirip atau menyerupai manusia yang ada pada saat ini.
- Manusia Swanscombe – berasal dari Inggris
- Manusia Neandertal – ditemukan di lembah Neander
- Manusia Cro-Magnon ditemukan di gua Cro-Magnon, Lascaux Perancis. Diduga sebagai campuran antara manusia Neandertal dan manusia gunung Karmel
- Manusia Shanidar – fosilnya dijumpai di Irak
- Manusia Steinheim – berasal dari Jerman

